Kadar Karbon Monoksida Perokok Jadi Sorotan, Hasil Penelitian 3 Bulan Terungkap!

viva.co.id
7 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA - Merokok masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat di Indonesia. Meski banyak perokok menyadari risiko kebiasaan tersebut dan memiliki keinginan untuk berhenti, tidak semuanya berhasil melepaskan ketergantungan nikotin. Ironisnya, akses terhadap edukasi dan pendampingan untuk berhenti merokok juga dinilai belum menjangkau seluruh perokok yang membutuhkan.

Praktisi kesehatan dr. Jeffrey Ariesta Putra, Sp.B., menyoroti kesenjangan antara tingginya jumlah perokok dan penanganan yang mereka terima ketika mengakses layanan kesehatan. Berdasarkan data 2021 yang dipaparkannya, Indonesia memiliki sedikitnya 70 juta perokok. Dari jumlah tersebut, sekitar 63 persen menyatakan ingin berhenti merokok.

Baca Juga :
Rokok dan Daya Beli Masyarakat, Seberapa Besar Pengaruhnya terhadap Belanja Kebutuhan Pokok?
Hasil Mengejutkan Penelitian Unpad soal Peralihan Kebiasaan Merokok ke Produk Tembakau Alternatif

Namun, hanya 38 persen perokok yang memperoleh edukasi atau bantuan untuk menghentikan kebiasaannya ketika datang ke rumah sakit.

"Ada diskrepansi data, jumlah perokok tinggi, mereka datang ke rumah sakit, tetapi sayangnya tidak ditangani atau bahkan tidak teridentifikasi. Gap ini membuat saya bertanya apa yang bisa kita lakukan sebagai tenaga kesehatan. Padahal, edukasi pasien itu penting," jelas Jeffrey dalam The 3rd Symposium of Indonesian Health Resilience Association (SIERA III) 2026 di Jakarta, dikutip Jumat (30/10/2026).

Menurut Jeffrey, kunjungan pasien ke rumah sakit sebenarnya dapat menjadi kesempatan bagi tenaga kesehatan untuk mengidentifikasi kebiasaan merokok sekaligus memberikan pendampingan. Hal ini bisa dilakukan ketika pasien menjalani pemeriksaan maupun persiapan tindakan operasi.

Salah satu metode yang dapat diterapkan adalah pendekatan 5A, yaitu ask (menanyakan kebiasaan merokok), advise (memberikan saran untuk berhenti), assess (menilai kesiapan pasien), assist (membantu proses berhenti), dan arrange (mengatur tindak lanjut).

Pendekatan tersebut memungkinkan tenaga kesehatan mengetahui tingkat ketergantungan pasien, kesiapan untuk berhenti, hingga bentuk bantuan yang dibutuhkan. Jeffrey juga menilai kolaborasi lintas profesi diperlukan agar pendampingan tidak berhenti pada pemberian nasihat semata.

"Agar edukasi berjalan konsisten, kolaborasi lintas profesi itu penting. Kita ingin membentuk sebuah tim yang bisa bekerja sama menjalankan SOP agar pada akhirnya pasien diharapkan dapat mengurangi bahaya merokok," ungkapnya.

Penelitian 90 Hari Amati Perubahan pada Kondisi Gusi

Selain persoalan pendampingan, pembahasan mengenai pengurangan risiko kesehatan akibat merokok juga menjadi perhatian dalam forum tersebut.

Baca Juga :
Buang Puntung Rokok Sebabkan Kebakaran TPA Supit Urang Malang, Lansia 71 Tahun Jadi Tersangka
Penjualan Eceran Naik, Makanan hingga Rokok Jadi Penopang Belanja Warga RI
Larangan Perisa Rokok, Pedagang Khawatir Omzet Menurun

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Google Berdarah: Rp 9.000 T Menguap, AI Mulai Goyang Tahta Sang Raja
• 19 jam lalu
0
thumb
KPK Periksa Istri Adik Eks Kepala BNPB, Ini yang Didalami
• 19 jam lalu
0
thumb
Kapolda DIY Minta Maaf atas Metode Penanganan Demo Sumpah Pemuda di Malioboro
• 10 jam lalu
0
thumb
Depan Budiman Sudjatmiko, Wakil Ketua BEM UI Fathimah: Pemerintah Terkesan Hanya Fokus 1 Janji, MBG
• 23 jam lalu
0
thumb
4 Deretan Tanggal Lahir yang Dipercaya Jadi Bangsawan di Kehidupan Masa Lalu
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.