JAKARTA — Perguruan tinggi dituntut tidak hanya menghasilkan penelitian, tetapi juga mengembangkan inovasi yang dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan industri. Universitas Pembangunan Jaya (UPJ) mendorong upaya tersebut melalui pengembangan empat inovasi berbasis kecerdasan buatan, robotika, teknologi pembelajaran digital, dan blockchain.
Pengembangan empat inovasi itu dilakukan melalui Program Hibah Diaspora Berdampak 2026 dengan melibatkan Rudy J Rahardjo, diaspora Indonesia di Singapura sekaligus CEO Knowledge Catalyst Pte Ltd. Program yang berlangsung pada September hingga November 2026 tersebut diarahkan untuk meningkatkan kesiapan produk riset, memperkuat perlindungan kekayaan intelektual, dan membuka peluang komersialisasi.
Empat inovasi yang dikembangkan melibatkan program studi di Fakultas Teknologi dan Desain UPJ, yakni Informatika, Sistem Informasi, Desain Produk, dan Desain Komunikasi Visual. Kolaborasi lintas disiplin tersebut menggabungkan pengembangan teknologi, kreativitas digital, desain, serta strategi bisnis untuk memperkuat peluang penerapan hasil penelitian.
Dari Program Studi Informatika, UPJ mengembangkan Smart Waste Sorting, teknologi pemilahan sampah otomatis berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), computer vision, dan robotika. Teknologi ini dirancang untuk mengidentifikasi dan memilah sampah secara otomatis dengan memanfaatkan sistem cerdas.
.rec-desc {padding: 7px !important;}Sementara itu, Program Studi Sistem Informasi mengembangkan NusaQuest as a Gamified Competency-Based Learning Platform in Higher Education. Platform tersebut mengintegrasikan gamifikasi dan pembelajaran berbasis kompetensi untuk menghadirkan pengalaman pendidikan digital yang lebih interaktif.
Inovasi berikutnya berasal dari Program Studi Desain Produk yang mengembangkan rancangan eksterior dan interior kabin mobil listrik multiguna. Proses perancangannya mengintegrasikan desain digital, realitas virtual atau virtual reality (VR), AI, dan rapid prototyping untuk mendukung pengembangan desain kendaraan melalui pendekatan digital.
Adapun Program Studi Desain Komunikasi Visual mengembangkan TRACE (Traceable Record of Art, Creation, and Evolution). Inovasi ini berfokus pada keterlacakan perjalanan sebuah karya, mulai dari gagasan awal, proses penciptaan, pengembangan, hingga manfaat dan nilai yang dihasilkan.
Keempat inovasi tersebut selanjutnya dikaji berdasarkan kesiapan teknologi, kelayakan implementasi, perlindungan kekayaan intelektual, serta peluang pengembangan bersama industri. Tahapan ini menjadi bagian penting untuk menentukan langkah lanjutan agar hasil penelitian memiliki arah pemanfaatan yang lebih jelas.
Ketua Pelaksana Program Hibah Diaspora Berdampak 2026, Dr Ida Nurhaida ST MT, mengatakan program tersebut menjadi langkah strategis untuk memperkuat hubungan antara hasil penelitian perguruan tinggi dan kebutuhan industri.
“Melalui Program Diaspora Berdampak, kami ingin memastikan hasil riset dan inovasi tidak berhenti pada publikasi atau pengembangan prototipe, tetapi memiliki arah jelas menuju pemanfaatan lebih luas,” ujarnya.
Menurut Ida, kolaborasi dengan diaspora dan mitra industri memberikan perspektif tambahan dalam meningkatkan kesiapan produk, memperkuat perlindungan kekayaan intelektual, serta membuka peluang hilirisasi yang berkelanjutan.
Dalam program tersebut, Rudy J Rahardjo berkontribusi melalui transfer pengetahuan, diskusi strategis, peninjauan kesiapan produk riset, serta masukan berdasarkan pengalamannya di industri. Keahliannya, antara lain, mencakup digital trust, Blockchain-as-a-Service, dan strategi hilirisasi inovasi.
Program ini juga mencakup pembentukan kelompok kerja lintas program studi, pemetaan produk riset prioritas, lokakarya kelayakan, serta asesmen kesiapan teknologi dan implementasi melalui Technology Readiness Level (TRL) dan Implementation Readiness Level (IRL).
Selain pengembangan produk, UPJ mengkaji penyusunan Research-IP Registry dan Innovation Passport untuk mendukung dokumentasi aset penelitian, verifikasi kontribusi, serta keterlacakan inovasi. Kerangka tersebut diharapkan membantu pengelolaan aset intelektual sekaligus meningkatkan transparansi dalam proses pengembangan hasil riset.
Penguatan pemahaman mengenai hilirisasi inovasi juga dilakukan melalui kuliah umum bertema Building Research Impact Through Innovation, Intellectual Property, Blockchain & Commercialization di Aula Gedung B UPJ. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 400 peserta yang terdiri atas mahasiswa, akademisi, praktisi industri, dan pemangku kepentingan lainnya.
Kuliah umum itu menghadirkan Rudy J Rahardjo, Head of Foundation BlockDev Dennis, serta kreator Dalang Pelo sekaligus CEO PT Karya Cipta Pelo, Nur Alif Ramadhan atau Acil. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan mengenai inovasi, perlindungan kekayaan intelektual, dan peluang komersialisasi hasil penelitian.
UPJ juga membuka peluang inisiasi kerja sama dengan Bandung Techno Park (BTP). Lembaga tersebut memiliki pengalaman dalam pengelolaan inkubator bisnis, pendampingan perusahaan rintisan atau startup, transfer teknologi, dan komersialisasi hasil penelitian.
Hingga November 2026, program diarahkan pada penyempurnaan luaran, penguatan peta jalan penelitian dan hilirisasi 2026–2028, penyusunan rencana uji coba produk selama enam hingga 12 bulan, serta konsolidasi kerja sama dan pelaporan hibah.
Melalui pengembangan empat inovasi tersebut, UPJ berupaya memperkuat peran perguruan tinggi dalam menghasilkan teknologi yang tidak hanya bernilai akademis, tetapi juga berpotensi diterapkan secara lebih luas. Kolaborasi antara akademisi, diaspora, dan industri diharapkan dapat memperpendek jarak antara penelitian di kampus dan kebutuhan nyata di masyarakat.





Komentar (0)