Mendukbangga: Perbaikan Negara Harus Dimulai dari Keluarga, Tugas Saya Mengubah Perilaku

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Wihaji mengatakan, upaya memperbaiki kondisi suatu negara harus dimulai dari keluarga.

Menurut dia, keluarga merupakan unit terkecil dalam negara sehingga kesehatan dan perilaku setiap anggotanya perlu menjadi perhatian.

“Keluarga adalah unit terkecil dalam sebuah negara. Maka kalau mau memperbaiki negara, perbaiki keluarga,” kata Wihaji saat menghadiri Kongres Nasional XVI Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (30/10).

Wihaji mengatakan, salah satu cara meningkatkan kualitas keluarga adalah memastikan seluruh anggotanya berada dalam kondisi sehat.

Dalam hal ini, kementeriannya bertugas menggerakkan masyarakat sekaligus mendorong perubahan perilaku agar kesehatan keluarga terjaga sejak sebelum kehamilan hingga lanjut usia.

“Kalau mau memperbaiki negara, perbaiki keluarga. Caranya gimana? Keluarganya sehat. Siapa yang menyehatkan? Pak Menteri Kesehatan. Kalau ada masalah, minta bantuan siapa? Menteri Sosial. Tugas saya menggerakkan dan merubah perilaku. Itu tugas kementerian saya,” ujarnya.

Jaga Kesehatan Keluarga Sejak Sebelum Kehamilan

Wihaji menjelaskan, upaya menjaga kesehatan keluarga harus dimulai sejak calon pasangan akan menikah. Setelah itu, perhatian perlu diberikan kepada ibu hamil, ibu menyusui, bayi di bawah dua tahun (baduta), balita, remaja, hingga lanjut usia (lansia).

“Karena itu calon pengantin kita pastikan sehat, ibu hamil kita pastikan sehat, ibu menyusui kita pastikan sehat, kemudian baduta 1.000 hari pertama kita pastikan sehat supaya tidak stunting,” ucap Wihaji.

Dia juga menekankan pentingnya memastikan anak-anak dan remaja tumbuh sehat serta menjaga kesehatan kelompok lansia.

Menurut Wihaji, pembangunan keluarga tidak hanya berfokus pada satu kelompok usia, tetapi mencakup seluruh tahapan kehidupan.

“Kita pastikan balitanya sehat, remajanya sehat, lansianya luar biasa sehat. 80 tahun, 86 tahun luar biasa, tepuk tangan buat beliau-beliau, top. Kalau itu sehat semua, tugas saya selesai,” katanya.

MPASI 3B Jadi Salah Satu Upaya Atasi Stunting

Terkait penanganan stunting, Wihaji menyebut kurangnya asupan gizi sebagai salah satu faktor penyebabnya. Karena itu, kementeriannya menjalankan program pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) 3B yang menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD.

“Oh, yang mengukur stunting kan bukan di kementerian kita, tapi salah satu sebab stunting adalah asupan gizi. Tentu saya terima kasih kepada Bapak Presiden selaku pembantu beliau untuk menangani hal-hal yang berkenaan dengan sebab stunting, salah satunya adalah mendistribusikan MPASI 3B: ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, tugasnya kita,” jelasnya.

Wihaji mengatakan, dampak program tersebut terhadap kesehatan penerima manfaat belum dapat dipastikan melalui survei. Pengukuran sederhana dapat dilakukan dengan melihat berat dan tinggi badan, tetapi hasil yang lebih komprehensif masih menunggu survei dari Kementerian Kesehatan atau kementerian terkait.

“Harapan kita, insyaallah secara, belum survei nih, ada dampak dari kesehatan dari masing-masing penerima manfaat, dampaknya jelas. Kan kita sederhana mengukurnya, mulai dari berat badan, tinggi badan, tapi tidak hanya itu, secara komprehensif ada surveinya, cuma kebetulan bukan kita yang mensurvei,” kata Wihaji.

Dia menambahkan, stunting tidak hanya berkaitan dengan persoalan gizi. Faktor lain, seperti ketersediaan air bersih, sanitasi, dan pernikahan dini, juga perlu diperhatikan untuk menekan prevalensi stunting.

“Walaupun stunting tidak hanya gizi, ada nanti air bersih, ada sanitasi, ada pernikahan dini, tapi minimal asupan gizi salah satu solusinya kita bisa dapatkan dari program Bapak Presiden, khususnya MPASI khusus 3B: ibu hamil, busui, dan balita,” tuturnya.

Wihaji Ajak IAKMI Kerja Sama Jalankan Program Kesehatan

Dalam kesempatan itu, Wihaji mengajak Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) bekerja sama dengan kementeriannya untuk menjalankan program kesehatan keluarga di berbagai daerah.

Dia berharap kerja sama tersebut dapat diwujudkan melalui program konkret di masing-masing daerah.

“Nanti semua Ikatan Ahli Kesehatan kerja sama dengan kita, bikin program bersama di masing-masing daerah. Konkret, jelas. Kalau nggak beres hubungi saya,” ujarnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Wealth Wisdom 2026: Permata Bank Ungkap Strategi Investasi di Tengah Gejolak Global
• 2 jam lalu
0
thumb
7 Kebiasaan yang Bisa Menurunkan Fungsi Otak
• 9 jam lalu
0
thumb
Kulit Sedang Iritasi, Hindari 3 Kesalahan Ini agar Tidak Makin Parah
• 4 jam lalu
0
thumb
Menag: Indonesia Jadi Model Moderasi Beragama, Banyak Negara Ingin Belajar
• 3 jam lalu
0
thumb
Tetangga Dekat RI Wajibkan Negara Kuasai Minimal 65% Saham Bank Besar
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.