tvOnenews.com, Jakarta – Anggota Komisi VII DPR RI Bambang Haryo Soekartono (BHS) menyoroti kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia yang tembus hampir 20 ribu titik api.
BHS menegaskan bahwa petaka ekologis ini menimbulkan kerugian masif, mulai dari ancaman kesehatan masyarakat, kepunahan satwa, kerusakan flora bahan obat-obatan, pemukiman warga, hingga menelan korban jiwa.
Ia membeberkan bahwa hutan Indonesia seluas 125 juta hektare merupakan hutan hujan tropis yang amat bergantung pada ketercukupan air. Menurutnya, instansi pengelola tidak boleh membiarkan hutan tanpa siraman air hujan lebih dari 21 hari.
- Antara
Negara-negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam gencar menerapkan water bombing, rekayasa cuaca (hujan buatan), hingga instalasi sprinkler otomatis saat musim kemarau.
"Gelontoran air yang menghidupi hutan-hutan kita, selama hutan kita tidak tersiram air hujan, tidak boleh dibiarkan selama lebih dari 21 hari. Daun yang hijau tidak akan bisa dibakar dengan korek api karena daun dan dahannya mengandung 85% air," ulas BHS.
Ia menambahkan, anggaran Kementerian Kehutanan yang berkisar di angka Rp6 triliun sejatinya lebih dari cukup untuk membiayai perawatan berkala, pemetaan spesies flora-fauna, hingga pencegahan titik panas.
Lebih jauh, legislator dari Fraksi Gerindra ini mengingatkan bahwa dampak kabut asap akibat karhutla berpotensi merusak iklim pariwisata, mengganggu jadwal penerbangan, serta mencoreng citra udara Indonesia di mata internasional.
Kondisi tersebut dinilai dapat memukul pertumbuhan ekonomi dan menghambat pencapaian target pariwisata nasional yang telah dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
“Untuk itu, diharapkan lembaga yang menangani hutan harus dipimpin oleh orang-orang yang profesional dan kompeten,” pungkas BHS.





Komentar (0)