BGN Ungkap 83,6% Pemasok Bahan Baku MBG dari UMKM: Kita Terus Perkuat Verifikasi

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat 83,6 persen dari sekitar 80 ribu pemasok bahan baku program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

BGN kini mendorong pengembangan platform marketplace Loka MBG untuk memperkuat verifikasi pemasok sekaligus memastikan asal-usul dan kualitas bahan pangan yang digunakan dalam program tersebut.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan, rantai pasok MBG melibatkan berbagai pelaku usaha dan kelompok masyarakat. Selain UMKM, pemasok juga berasal dari koperasi, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), kelompok tani (Poktan), hingga gabungan kelompok tani (Gapoktan) yang tersebar di 38 provinsi.

"Kami sudah ada 83,6% dari 80.000 pemasok itu adalah UMKM, sisanya adalah koperasi, BUMDes, Poktan, Gapoktan, di 38 provinsi," kata Sudaryono di Gedung Kemendikdasmen, Jakarta, Jumat (30/10).

Meski jumlah pemasok telah mencapai sekitar 80 ribu, Sudaryono mengatakan BGN masih membutuhkan pemasok yang telah melalui proses verifikasi atau verified supplier. Langkah ini diperlukan untuk memastikan bahan pangan yang dipasok memenuhi standar dan memiliki asal-usul yang jelas.

"Jadi sebetulnya keterlibatan dari pemasoknya sudah, hanya memang kita butuh pemasok yang verified supplier namanya, ya. Kami sudah rapat dengan jajaran di Kementerian Dikdasmen terkait SIP-lah ini," ujarnya.

Melalui sistem verifikasi tersebut, BGN ingin menelusuri asal bahan pangan yang dibeli, termasuk proses penyimpanannya sebelum didistribusikan ke dapur MBG.

"Dengan verified supplier tadi kita bisa tahu Pak, supplier itu origin-nya dari mana telurnya? Kemudian ayamnya dari mana? Kemudian ikannya dari mana? Disimpan seperti apa gitu. Jadi ini kita harus memastikan itu," jelasnya.

Sudaryono mencontohkan, verifikasi diperlukan untuk mencegah pembelian bahan pangan yang tidak memenuhi standar kualitas. Salah satu yang ia soroti adalah pembelian daging ayam yang sudah tidak segar karena pemasok mempertimbangkan harga lebih murah.

"Jangan sampai orang beli ayam yang harusnya segar, enggak, dia beli tuh ayam yang disembelih subuh, dia beli sore-sore karena akhir sore makin murah. Karena makin murah maka kondisi ayamnya udah enggak fresh sehingga menyebabkan gangguan kesehatan karena karena emang dia ambil dari bahan-bahan yang tidak standar," tutup Sudaryono.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Menag: Indonesia Jadi Model Moderasi Beragama, Banyak Negara Ingin Belajar
• 9 jam lalu
0
thumb
Penggugat Suket Gibran Sebut Ada Kejanggalan sehingga Ajukan Gugatan di PTUN
• 10 jam lalu
0
thumb
Patrick Stewart Wafat, Marvel Studios Beri Penghormatan dan Konfirmasi Peran Terakhirnya di Avengers: Doomsday
• 14 jam lalu
0
thumb
KPK Geledah Enam Perusahaan Terafiliasi PT Djarum, Sita Sejumlah Dokumen
• 11 jam lalu
0
thumb
7 Event Terbaru di Singapura November 2026, Cocok untuk Solo Traveling
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.