Kondisi memprihatinkan sebuah keluarga di Kampung Sukanagara, Desa Mekarsari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, viral di media sosial.
Di tengah kondisi rumah yang kotor dan tiga anggota keluarga yang diduga mengalami gangguan mental, seorang ibu dalam keluarga tersebut baru saja melahirkan bayi perempuan.
Dalam sejumlah unggahan yang beredar, tampak momen pascapersalinan seorang ibu yang disebut sebagai salah satu anggota keluarga tersebut. Unggahan lainnya memperlihatkan petugas berupaya membersihkan rumah yang dihuni keluarga itu. Bahkan, terdapat rekaman interaksi antara aparat setempat dan anggota keluarga yang disebut mengalami gangguan jiwa.
Perhatian publik tertuju pada kondisi dua anak yang tinggal di rumah itu, terlebih setelah ibu mereka melahirkan seorang bayi perempuan 2 hari lalu.
Sekretaris Desa Mekarsari, Yasa, membenarkan kondisi keluarga tersebut. Dalam keluarga itu hidup 8 orang yakni Cucu Jubadah (56) dan 3 anaknya Ogi Umaedi (37), Erna Maryana (36) dan Melinda Ulhusna (33).
Ogi menikah dengan Indah Triyanti (32) dan memiliki 3 anak, Akbar Rizky (10), Fahri Syahreza (5) dan bayi perempuan yang baru lahir pada Selasa (27/10/2026).
Ketiga anak Cucu Jubadah mengalami gangguan mental. "Iya betul warga Desa Mekarsari, ada tiga anggota keluarga yang membutuhkan kesehatan mental," ujarnya saat dikonfirmasi.
Berawal dari Kemerosotan Ekonomi KeluargaMenurut Yasa, persoalan keluarga itu tidak terjadi secara tiba-tiba. Kondisinya berawal dari perubahan ekonomi keluarga yang semula berkecukupan, kemudian mengalami kemerosotan hingga memicu tekanan psikologis.
“Awalnya orang tuanya itu orang yang sukses, kaya. Tiba-tiba ekonominya turun. Ketiga anak ini dikenal dimanjakan dan tidak pernah bersosialisasi dengan orang, tidak pernah dekat dengan tetangga,” kata Yasa.
Yasa menjelaskan, Ogi, Erna, dan Melinda mengalami gangguan kesehatan mental setelah keluarga menghadapi tekanan ekonomi dan persoalan rumah tangga.
Menurut dia, kondisi ayah mereka memburuk setelah perekonomian keluarga jatuh. Situasi tersebut kemudian berlanjut dengan perceraian orang tua yang turut memengaruhi keadaan anak-anaknya.
Yasa menyebut kondisi Erna sempat memburuk hingga pernah berkeliaran tanpa mengenakan pakaian. Sementara itu, Ogi masih dapat diajak berkomunikasi, meskipun perilakunya berubah.
“Ogi itu kalau diajak ngobrol nyambung. Dia pernah sekolah, berpendidikan, tetapi akibat kondisi keluarga jadi seperti ini,” ujarnya.
Ogi kemudian menikah dengan Indah Triyanti, perempuan asal Lampung. Dari pernikahan tersebut, mereka memiliki dua anak, yakni Akbar Rizky yang kini duduk di kelas 4 sekolah dasar dan Fahri Syahreza yang berusia lima tahun.
Yasa mengatakan, data kependudukan Indah baru dipindahkan dari Lampung ke Desa Mekarsari sekitar empat bulan lalu. Pemindahan itu dilakukan ketika Indah sedang mengandung agar administrasi kependudukannya tercatat di tempat tinggalnya.
Tinggal di Rumah 4x5 meterSaat ini, Ogi dan Indah tinggal bersama ketiga anak mereka, Erna, Melinda dan nenek Cucu Jubadah.
Rumah berukuran sekitar 4x5 meter itu menjadi tempat seluruh anggota keluarga menjalani aktivitas sehari-hari. Namun, menurut Yasa, kondisi kebersihannya sangat buruk. Pakaian kotor dan barang-barang menumpuk, sementara rumah digunakan sekaligus untuk makan dan beristirahat.
Pemerintah desa, kata Yasa, sudah beberapa kali melakukan pembersihan, termasuk pada tahun lalu dan tahun ini. Namun, kondisi rumah kembali kotor karena belum ada penanganan lanjutan terhadap persoalan yang dihadapi penghuninya.
“Tahun kemarin dibersihkan, tahun sekarang juga sudah dibersihkan. Tapi karena tidak direhabilitasi, kotor lagi,” katanya.
Yasa menegaskan, kondisi tersebut bukan berarti warga sekitar mengabaikan keluarga itu. Menurutnya, masyarakat masih membantu memenuhi kebutuhan makan sehari-hari sesuai kemampuan, begitu pula pemerintah desa.
“Saya melihat ini bukan masalah tetangga tidak peduli. Ini bukan masalah makan, warga tetap saling membantu meskipun seadanya. Desa pun seperti itu,” ucapnya.
Ia menilai, persoalan utama keluarga tersebut tidak cukup diselesaikan hanya dengan bantuan kebutuhan pokok. Penanganan kesehatan mental dan rehabilitasi sosial dinilai diperlukan agar kondisi keluarga dapat diperbaiki secara berkelanjutan.
Dua Anak Tumbuh di Lingkungan yang SamaDi tengah kondisi keluarga tersebut, perhatian juga tertuju pada Akbar dan Fahri. Yasa mengatakan, keduanya menjalani keseharian di rumah bersama anggota keluarga yang diduga mengalami gangguan kesehatan mental.
Akbar masih dapat bermain dengan teman-temannya. Namun, Fahri disebut lebih banyak diam dan jarang berinteraksi dengan anak-anak seusianya.
“Yang mengerikan, si Fahri diam dan duduk hidup di lingkungan yang tiga orang mentalnya tidak sehat. Fahri tidak pernah keluar, tidak bersosialisasi dengan anak sebayanya,” kata Yasa.
Kondisi tersebut membuat pemerintah desa khawatir terhadap perkembangan anak-anak, terutama Fahri yang masih berusia lima tahun.
Yasa berharap, selain penanganan bagi anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan mental, kedua anak tersebut juga mendapat perhatian agar kebutuhan pengasuhan, pendidikan, dan tumbuh kembangnya terpenuhi.
Indah Melahirkan Anak KetigaPerhatian terhadap keluarga itu semakin besar setelah Indah melahirkan seorang bayi perempuan pada Selasa (27/10/2026). Indah menjalani persalinan melalui operasi sesar di Rumah Sakit Welas Asih.
Yasa mengatakan, persalinan tersebut membutuhkan biaya sekitar Rp 8 juta. Pemerintah desa berupaya membantu agar Indah mendapatkan penanganan medis yang diperlukan.
“Kemarin sesar harus ada uang Rp 8 juta. Desa sudah siap membantu. Bahkan saya bilang kalau tidak tertangani, bawa BPKB motor saya sebagai jaminan,” tuturnya.
Saat Indah menjalani perawatan di rumah sakit, anggota keluarga lainnya masih tinggal di rumah yang sama. Kehadiran bayi baru lahir itu menambah perhatian terhadap kondisi keluarga, terutama mengenai pemenuhan kebutuhan dasar dan pengasuhan anak.
Desa Berulang Kali Minta PenangananYasa mengatakan, pemerintah desa selama ini terus memperhatikan kondisi keluarga tersebut. Pihaknya telah menyampaikan persoalan itu kepada pihak kecamatan dan puskesmas, serta meminta pengurus RW untuk tetap memantau keadaan mereka.
Menurutnya, keluarga tersebut membutuhkan penanganan lintas sektor, mulai dari pemeriksaan kesehatan, pendampingan sosial, hingga rehabilitasi bagi anggota yang memang memerlukannya.
“Ini persoalan kemanusiaan. Saya sering bilang ke camat, ke Pak Sekcam. Pihak puskesmas juga sudah disampaikan,” kata Yasa.
Ia berharap Pemerintah Kabupaten Bandung melalui Dinas Sosial dan instansi terkait segera berkoordinasi untuk menentukan langkah penanganan yang tepat.
“Saya hanya minta yang mentalnya terganggu segera direhabilitasi oleh Dinsos, atau camat berkomunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Bandung. Minimal harus ada yang diselamatkan,” ujarnya.






Komentar (0)