Potensi Hujan Meningkat di Tengah Kondisi Panas-Kering Awal November 2026

idxchannel.com
23 jam lalu
Cover Berita

BMKG mengeluarkan peringatan awal potensi peningkatan hujan di tengah kondisi panas dan kering memasuki awal November 2026.

Potensi Hujan Meningkat di Tengah Kondisi Panas-Kering Awal November 2026. (Foto Istimewa)

IDXChannel - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan awal potensi peningkatan hujan di tengah kondisi panas dan kering memasuki awal November 2026.

Prediksi BMKG untuk Dasarian I November 2026 mengindikasikan, mayoritas wilayah Indonesia didominasi oleh presipitasi kategori menengah (50–100 mm/dasarian) sebesar 67,62 persen, disusul kategori rendah (0–50 mm/dasarian) sebesar 30,57 persen, dan kategori tinggi (150–300 mm/dasarian) sebesar 1,81 persen.

Baca Juga:
Rata-Rata Musim Hujan di Indonesia Mundur 20-30 Hari Akibat El Nino

“Presipitasi rendah terkonsentrasi di Lampung, Banten, DKI Jakarta, pesisir utara Jawa, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, serta sebagian kawasan Sulawesi dan Maluku,” tulis BMKG dikutip dari laman resminya, dikutip Jumat (30/10/2026).

BMKG melaporkan, meski akumulasi dasarian berada pada rentang rendah hingga menengah, dinamika atmosfer berpeluang memicu pembentukan awan konvektif yang akan meningkatan potensi hujan.

Baca Juga:
Hujan Ekstrem Terjadi di Aceh dan Sumut, BMKG Pastikan Bukan Siklon Tropis ARNAB

Dalam sepekan ke depan, BMKG menjelaskan, fenomena atmosfer Madden-Julian Oscillation (MJO) diprediksi memengaruhi wilayah barat dan selatan Indonesia, sedangkan Gelombang Kelvin diprediksi aktif di bagian timur.

Baca Juga:
Prakiraan Cuaca Wilayah Jakarta Hari Ini Minggu 25 Oktober 2026: Jaksel dan Jaktim Hujan

“Fenomena-fenomena ini mendorong pertumbuhan awan hujan, terutama pada area dengan konvergensi massa udara dan labilitas atmosfer yang signifikan,” tulis BMKG.

Selain itu, BMKG melaporkan, dinamika pola angin regional turut dipengaruhi oleh kemunculan Bibit Siklon Tropis 91B di Laut Andaman serta pola sirkulasi siklonik di Laut Natuna.

Keberadaan kedua sistem tersebut membentuk zona konvergensi dan perlambatan kecepatan angin (konfluensi), yang menstimulasi pembentukan awan konvektif pemicu hujan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat dan angin kencang.

“Oleh sebab itu, meskipun akumulasi dasarian tergolong sedang, probabilitas presipitasi ekstrem harian tetap memerlukan antisipasi mitigasi bencana hidrometeorologi,” tulis BMKG. 

(Dhera Arizona)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
AS Kerahkan 10 Pesawat ke Israel, Isu Serangan Iran Menguat
• 18 jam lalu
0
thumb
Persik Kediri Bidik Kemenangan Perdana atas Persita yang Belum Terkalahkan
• 15 jam lalu
0
thumb
Willie Salim Klarifikasi Usai Dihujat Gegara Hadir di Acara Sumpah Pemuda, Bantah Terlibat dan Ucapkan Permintaan Maaf
• 16 jam lalu
0
thumb
Ibas Dorong Generasi Muda Ponorogo Jadi Motor Penggerak Ekonomi Kreatif
• 10 jam lalu
0
thumb
Hasil Akhir Tim ASEAN di Final Piala Dunia dan Festival, Timnas Indonesia U-15 Finis Lebih Tinggi dari Ranking FIFA
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.