Feri Amsari Janji Dukung Gibran di 2029 Asal...

wartaekonomi.co.id
1 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Polemik ijazah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali memunculkan pernyataan menarik. Kali ini, politisi Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dian Sandi Utama, mengungkit percakapannya dengan Peneliti Poshdem Universitas Andalas, Feri Amsari, yang disebut sempat menjanjikan dukungan kepada Gibran untuk Pilpres 2029.

Dian mengungkapkan, Feri bersedia mendukung putra sulung Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) tersebut apabila ijazah setara SMA yang selama ini dipersoalkan benar-benar terbukti ada dan asli.

Cerita itu bermula ketika Dian berbincang dengan Feri mengenai polemik pembuktian riwayat pendidikan Gibran. Dalam percakapan tersebut, Dian menyampaikan pandangannya bahwa belum ditemukannya atau terlihatnya suatu bukti bukan berarti bukti tersebut tidak ada.

Baca Juga: Salam 3 Jari Guru Besar UGM Disindir Relawan Gibran: Gagal Move On?

“Bang Feri Amsari tersenyum ketika saya mengatakan belum kita lihat bukan berarti tidak ada,” tulis Dian di akun X, dikutip Jumat (30/10/2026).

Menurut Dian, respons Feri saat itu cukup mengejutkan. Sang pakar hukum tata negara itu disebut menyatakan kesediaannya mendukung Gibran dalam kontestasi politik 2029 jika keberadaan ijazah yang dipersoalkan selama ini benar-benar dapat dibuktikan.

“Waktu itu beliau menjawab, iya kalau benar ada, saya janji akan mendukung Gibran 2029,” ungkap Dian Sandi.

Pernyataan yang diungkit Dian ini menjadi sorotan tersendiri, mengingat Feri selama ini dikenal cukup vokal mengkritisi Gibran, terutama terkait kontroversi riwayat pendidikan sang wakil presiden.

Salah satu sikap kritis Feri terlihat ketika ia menanggapi surat terbuka yang ditandatangani 150 Guru Besar. Surat tersebut berisi desakan agar Gibran mundur dari jabatan wakil presiden menyusul polemik ijazah yang menyeret namanya.

Baca Juga: Mendadak Cabut dari Sidang Gibran, Politisi PSI: Tangkap Denny Indrayana

Feri menilai surat terbuka tersebut bukan sekadar kritik biasa, melainkan bentuk panggilan moral yang lahir dari kegelisahan etis kalangan akademisi. Karena itu, menurutnya, Gibran perlu memberikan respons serius terhadap tuntutan tersebut.

“Pada dasarnya tentu itu panggilan etika ya. Tentu orang-orang yang memiliki etika akan mematuhi panggilan moral itu,” kata Feri dalam tayangan YouTube Kompas TV.

Ia juga menyinggung putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menurut pandangannya telah memberikan gambaran mengenai persoalan ijazah tersebut. Feri menilai Gibran seharusnya mengambil langkah yang lebih terbuka daripada membiarkan polemik semakin rumit.

“Apalagi putusan MK sudah memberikan gambaran bahwa tidak ada ijazah itu, dan tentu daripada diperumit, harusnya proses yang lebih berjiwa besar muncul,” ujarnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Akademisi-Anggota MPR Soroti Peran PPHN dalam Pembangunan Berkelanjutan
• 13 jam lalu
0
thumb
Pemerintah Tanggung Penuh BPJS PBI untuk Pengobatan Masyarakat Kurang Mampu
• 11 menit lalu
0
thumb
Samsung Galaxy A18 vs Redmi Note 17 5G: Adu Spesifikasi, HP Mana yang Lebih Layak Dibeli?
• 12 jam lalu
0
thumb
Tabung Oksigen Meledak di Dalam Ambulance, 10 Tewas termasuk Pasien
• 16 jam lalu
0
thumb
BNPB Klaim Karhutla di Papua Selatan Turun, dari 295 Jadi 65 Titik Api
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.