JAKARTA, KOMPAS.TV - Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengaku berusaha menghindari post-power syndrome setelah meninggalkan pemerintahan pada Oktober 2014.
Ia memilih kembali menekuni seni dan olahraga, termasuk menulis novel, daripada terus terikat dengan kehidupan di sekitar kekuasaan.
Hal itu disampaikan SBY dalam perbincangan bersama eks Menteri Perdagangan Gita Wirjawan saat peluncuran novel terbarunya, Diana Memang Manja, Kamis (29/10/2026).
SBY mengatakan sejak awal telah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak mencampuri urusan yang bukan lagi menjadi tanggung jawabnya setelah menyelesaikan tugas sebagai presiden.
"Saya ini berjanji pada diri sendiri, kalau sudah jatuh tempo, sudah selesai mengemban tugas, jangan saya dihinggapi penyakit yang disebut post-power syndrome. Stres, mungkin don't know how to do, cawe-cawe yang bukan urusannya, dan seterusnya," kata SBY, dikutip dari video yang diterima KompasTV, Jumat (30/10/2026).
Baca Juga: Mantan Panglima TNI Widodo AS Wafat, SBY: Seorang Prajurit yang juga Negarawan
Menurut SBY, menjalani kehidupan setelah kekuasaan bukan perkara mudah. Ia kemudian mengingat kembali kegiatan yang disukai sejak masa sekolah hingga menjalani pendidikan di Akademi Militer. Dari sana, ia menyadari seni dan olahraga merupakan bagian dari minat lamanya.
"Saya recall kembali my great memory, SD, SMP, SMA, Akademi Militer ternyata habitat saya dunia seni dan olahraga," ujarnya.
SBY menyebut dirinya bukan orang yang baru mengenal seni setelah berkarier sebagai tentara dan politikus.
Ia justru menganggap aktivitas tersebut sebagai kembalinya minat yang sempat ditinggalkan selama menjalani tugas di militer dan pemerintahan.
Kehilangan Ani dan Kembali MenulisKeputusan SBY kembali menekuni seni juga berkaitan dengan prosesnya menghadapi kehilangan Ani Yudhoyono, yang meninggal dunia pada 1 Juni 2019. Ia mengatakan sempat mencari cara untuk melewati kesedihan setelah istrinya berpulang.
Setelah bisa berpikir lebih jernih, SBY mencari kegiatan yang dapat dijalaninya dan menemukan saran agar seseorang kembali melakukan hal-hal yang disukai sejak masa muda.
Ia pun mengingat ketertarikannya pada dunia seni, termasuk menulis cerita pendek sejak kelas V sekolah dasar.
Baca Juga: Orasi Ilmiah SBY di Unpad: Politik Itu Kejam, tetapi Ada Etikanya
SBY mengatakan novel menjadi pilihan setelah sebelumnya menekuni lukisan, puisi, dan musik.
Menurut dia, menulis novel memberinya kebebasan untuk membangun alur cerita, menciptakan adegan, serta menentukan karakter setiap tokoh.
"Jadi saya punya freedom, punya liberty dalam menulis novel, karena saya bisa membikin storyline, bisa membikin adegan, membayangkan tokoh dengan karakternya masing-masing, yang bisa saya aduk-aduk dan akhirnya tampil sebagai sebuah novel," katanya.
Novel Diana Memang Manja antara lain terinspirasi dari lagu "Diana" milik Koes Plus yang dikenal SBY ketika menjadi taruna pada 1973.
Ia kemudian melakukan riset untuk mengembangkan cerita, termasuk menelusuri sosok perempuan yang diyakininya berkaitan dengan lagu tersebut.
SBY mengaku menemukan Diana di kawasan Wonosobo, Jawa Tengah. Perempuan yang saat itu berusia sekitar 70 tahun tersebut diajaknya berbincang selama sekitar lima jam.
SBY juga mengaku menyembunyikan identitasnya dan diperkenalkan sebagai pelukis agar Diana tidak mengetahui siapa dirinya.
Dalam pertemuan itu, SBY mendengar kisah kehidupan Diana. Menurutnya, sejumlah detail cerita Diana sesuai dengan penggambaran dalam lirik lagu Koes Plus.
Baca Juga: Orasi Ilmiah di Unpad, SBY Berpesan Jangan Melanggar Konstitusi: Jangan Senang Merusak
Kisah kehilangan Diana tersebut juga menjadi salah satu bagian yang membuat novel ini memiliki hubungan personal dengan SBY.
Ia mengatakan pengalaman Diana yang ditinggal suaminya mengingatkannya pada perasaannya saat kehilangan Ani.
"Ketika kami bertemu saling curhat, saling berbagi rasa. Dan itulah my own heart saya ungkapkan melalui novel itu, tentu dengan sebuah imajinasi yang saya tata sedemikian rupa," ujar SBY.
Ia mengakui sebagian perasaannya setelah Ani meninggal dituangkan ke dalam cerita, meskipun tidak seluruh isi novel merupakan pengalaman pribadinya.
"Jadi, the answer is yes, sebagian saya curi novel itu untuk mengekspresikan hati saya sekian tahun yang lalu, but I am now stronger, saya sudah move on," katanya.
Siapkan Novel BerikutnyaDalam perbincangan tersebut, SBY juga menjelaskan tantangannya memasukkan unsur gaib, misteri, dan supranatural ke dalam novel.
Ia mengaku tetap ingin mempertahankan karakter dirinya sebagai orang yang rasional, tetapi juga mempertimbangkan pembaca yang menyukai cerita bernuansa spiritual.
Baca Juga: SBY: Kalau Kita Gagal Bertransformasi, Indonesia Emas 2045 Itu Ilusi
Selain Diana Memang Manja, SBY menyebut dua karya lain yang dapat dibaca berikutnya, yakni Coffee Talks: Obrolan Santai di Cipaganti serta Prahara Ketiga: 10 Hari yang Mengguncang Indonesia.
Untuk Prahara Ketiga, SBY mengatakan ingin mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya menjaga kedaulatan rakyat, keadilan, serta batas kepatutan dalam memperoleh dan menggunakan kekuasaan.
"Prahara Ketiga bisa terjadi, jika kita lalai. Kita bermain-main dengan kedaulatan rakyat, dengan keadilan, dan bagaimana sebuah kekuasaan, power, itu diperoleh dan digunakan," kata SBY.
Download KompasTV Apps di TV kamu, sekarang juga di https://app.kompas.tv/. Satu apps untuk semua Video Premium, Breaking News, dan Live Streaming 24/7 dari Kompas Gramedia.
Penulis : Danang Suryo Editor : Edy-A.-Putra
Sumber : Kompas TV
- SBY
- post-power syndrome
- cawe-cawe
- Diana Memang Manja
- novel SBY
- Susilo Bambang Yudhoyono





Komentar (0)