Harga Minyak Naik di Tengah Ancaman Serangan Baru AS ke Iran

katadata.co.id
4 jam lalu
Cover Berita

Harga minyak melonjak menyusul munculnya sinyal bahwa Amerika Serikat (AS) kemungkinan kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran. Situasi ini berisiko memicu gejolak baru di kawasan Timur Tengah yang dapat mengganggu aliran pasokan energi.

Melansir pemberitaan Bloomberg pada Jumat (30/10), harga minyak mentah Brent naik mendekati US$118 per barel dan menyentuh level tertinggi sejak April. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di kisaran US$105 per barel.

Komandan militer senior AS dilaporkan telah memberikan pengarahan kepada Presiden Donald Trump mengenai sejumlah opsi militer pada Kamis (29/10), menurut laporan The Wall Street Journal (WSJ).

Pemimpin AS tersebut berulang kali memberikan sinyal bahwa pemerintahannya dapat kembali melancarkan serangan udara terhadap Teheran setelah pemilihan paruh waktu AS yang berlangsung pekan depan.

Di Iran, salah satu negosiator utama negara tersebut yang juga menjabat sebagai Ketua Parlemen, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa Republik Islam Iran tidak akan mengubah atau mengorbankan posisinya dalam upaya mengakhiri perang.

Pernyataan tersebut muncul setelah Teheran mengonfirmasi bahwa para pejabatnya telah menerima surat yang dikirimkan Wakil Presiden AS, JD Vance. WSJ melaporkan bahwa surat tersebut merupakan upaya untuk menghidupkan kembali perundingan perdamaian antara kedua negara.

Harga minyak mentah Brent, yang menjadi patokan global, telah melonjak 14% sepanjang Oktober dan mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Kenaikan tersebut terjadi meskipun aliran minyak melalui Selat Hormuz mulai kembali pulih. Negara-negara produsen berhasil mengirimkan kargo minyak meskipun risiko terhadap aktivitas pelayaran masih tinggi.

Persediaan minyak yang rendah dan ketatnya pasokan produk minyak olahan juga turut menopang harga. Kondisi tersebut sebagian dipengaruhi oleh gelombang serangan Ukraina terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia.

“Bahkan jika aliran pasokan fisik kembali pulih, para pedagang akan kesulitan mempertahankan posisi jual dalam waktu lama tanpa adanya kesepakatan gencatan senjata resmi antara AS dan Iran,” kata Naohiro Niimura, mitra di perusahaan konsultan energi Market Risk Advisory Co.

Pernyataan tersebut merujuk pada investor yang mengambil posisi untuk memperoleh keuntungan dari penurunan harga minyak mentah.

Risiko keamanan di kawasan Timur Tengah kembali menjadi perhatian setelah sebuah kapal tanker terkena proyektil yang tidak diketahui asalnya saat menyelesaikan perjalanan keluar dari Selat Hormuz pada Kamis (29/10). Informasi tersebut disampaikan UK Maritime Trade Operations (UKMTO), lembaga pemantau keamanan maritim Inggris.

Sementara itu, ExxonMobil Holdings Corp. dan Chevron Corp. membatalkan rencana kehadiran mereka dalam konferensi minyak ADIPEC di Abu Dhabi pada bulan depan. Kedua perusahaan tersebut mengambil keputusan itu di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi keamanan.

Di luar kawasan Timur Tengah, militer Ukraina dilaporkan menghentikan sementara serangan terhadap kilang minyak Rusia setelah mendapat tekanan dari Presiden Trump. WSJ melaporkan informasi tersebut dengan mengutip sejumlah sumber yang mengetahui operasi militer tersebut.

Langkah tidak resmi itu mulai dilakukan pada awal pekan lalu dan diperkirakan berlangsung hingga setelah pemilihan paruh waktu AS. Penghentian serangan tersebut bahkan berpotensi berlanjut hingga November.

Pemilihan paruh waktu AS akan berlangsung pada 3 November 2026, tepat di pertengahan masa jabatan kedua Trump. Pemilihan tersebut menentukan partai yang akan menguasai Kongres AS.

Menjelang pemilihan, sejumlah jajak pendapat nasional menunjukkan bahwa perang dengan Iran tidak populer di kalangan masyarakat AS. Banyak pemilih juga menyatakan ketidakpuasan terhadap kenaikan biaya hidup, termasuk harga bahan bakar.

Harga rata-rata solar atau diesel telah meningkat hampir 80% sepanjang tahun ini dan mencapai rekor tertinggi pada September.

Di Israel, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan sekutunya berhasil memperoleh 53 kursi dalam pemilihan umum yang berlangsung pekan ini. Perolehan tersebut melampaui blok oposisi utama yang meraih 48 kursi.

Namun, jumlah kursi yang diperoleh Netanyahu dan sekutunya belum mencapai mayoritas, sehingga mereka masih membutuhkan dukungan tambahan untuk membentuk pemerintahan.

Israel bersama AS memulai perang terhadap Iran pada akhir Februari dengan tujuan yang dinyatakan untuk membongkar program nuklir negara tersebut.

Sementara itu, sejumlah perusahaan minyak besar dunia akan merilis laporan kinerja keuangan pada pekan ini. ExxonMobil dan Chevron dijadwalkan mengumumkan hasil keuangan mereka pada Jumat (30/10).

Chief Executive Officer (CEO) Shell Plc, Wael Sawan, pada Kamis (29/10) mengatakan bahwa harga minyak saat ini tidak lagi terlihat sebagai kenaikan sementara. Menurut dia, kondisi tersebut dipengaruhi oleh persediaan minyak global yang telah terkuras hingga level sangat rendah.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Peringati Sumpah Pemuda, Anak Muda Diajak Menyatukan Gagasan untuk Mengawal Masa Depan Bangsa
• 17 jam lalu
0
thumb
Ini Promo Lengkap DFSK di PEVS 2026, Gelora E Dapat Subsidi Rp85 Juta
• 1 jam lalu
0
thumb
Musda Golkar Pinrang Digelar 3 November, Bakal Calon Ketua Wajib Kantongi Enam Dukungan
• 6 jam lalu
0
thumb
Hashim Soroti Praktik Goreng Saham, Rupiah Bisa Tembus Rp22.000 Jika Asing Cabut dari Bursa
• 21 jam lalu
0
thumb
Ijazah Jadi Polemik, Ini Durasi Lengkap Pendidikan Gibran di Luar Negeri
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.