Inflasi AS Memanas, Harga Emas Jatuh Lebih dari 1 Persen

idxchannel.com
8 jam lalu
Cover Berita

Harga emas turun lebih dari 1 persen pada perdagangan Kamis (29/10/2026), usai data inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih tinggi.

Inflasi AS Memanas, Harga Emas Jatuh Lebih dari 1 Persen. (Foto: Magnific)

IDXChannel – Harga emas turun lebih dari 1 persen pada perdagangan Kamis (29/10/2026), usai data inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih tinggi memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada akhir tahun.

Kondisi ini menekan daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Baca Juga:
Indonesia Masih Butuh Reformasi Pasar untuk Cegah Downgrade MSCI

Harga emas spot turun 1,15 persen menjadi USD4.020,56 per troy ons. Dengan penurunan tersebut, harga emas berpotensi mencatat pelemahan bulanan selama dua bulan berturut-turut.

Direktur perdagangan logam High Ridge Futures David Meger mengatakan prospek inflasi AS yang masih berada di atas target The Fed menjadi salah satu tekanan utama bagi harga emas.

Baca Juga:
PGN (PGAS) Teken 7 Kerja Sama Gas Pipa dan LNG, Termasuk Blok Masela

"Prospek inflasi yang masih membandel dan terus berada di atas target The Fed membuka peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember. Itu menjadi tekanan utama bagi pasar emas saat ini, dan laporan PCE hari ini tidak banyak meredakan kekhawatiran tersebut," kata Meger, seperti dikutip Reuters.

Inflasi AS yang diukur melalui indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) kembali meningkat pada September 2026. Konsumen membayar lebih mahal untuk bensin dan sejumlah barang lainnya.

Baca Juga:
Wall Street Ditutup Melemah, Terseret Saham Google yang Anjlok 12 Persen

Indeks PCE naik 0,5 persen pada September, setelah mencatat kenaikan 0,3 persen pada Agustus, berdasarkan data Bureau of Economic Analysis (BEA) di bawah Departemen Perdagangan AS.

Sehari sebelumnya, The Fed mempertahankan suku bunga acuan, sesuai ekspektasi pasar, dan menunda perubahan kebijakan suku bunga hingga setelah pemilihan umum paruh waktu AS yang berlangsung pekan depan.

Pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mencapai sekitar 80 persen berdasarkan CME Group FedWatch Tool.

Suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang memegang emas karena aset tersebut tidak memberikan imbal hasil.

Meger mengatakan perhatian pasar berikutnya akan tertuju pada perkembangan harga energi karena komponen tersebut menjadi salah satu sumber tekanan inflasi di AS.

"Fokus utama pasar berikutnya adalah perkembangan pasar energi, karena kami melihat sektor energi menjadi bagian besar dari kekhawatiran inflasi. Setiap eskalasi atau deeskalasi di Timur Tengah yang berdampak pada harga energi berpotensi memberikan pengaruh signifikan terhadap harga logam," ujar Meger.

Selain inflasi dan kebijakan The Fed, investor juga mencermati pemilihan umum AS pada 3 November serta potensi dampaknya terhadap kebijakan fiskal dan sentimen pasar secara luas.

Di Eropa, Presiden Bank Sentral Eropa (ECB) Christine Lagarde akan mengakhiri masa jabatannya pada 7 Februari mendatang, berdasarkan pengumuman bank sentral tersebut.

ECB mempertahankan suku bunga acuannya pada Kamis (29/10), tetapi memperingatkan meningkatnya risiko inflasi akibat lonjakan harga energi. (Aldo Fernando)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Harga iPhone 17 Naik di iBox, iPhone 17e 512GB Melonjak Rp2,5 Juta
• 2 jam lalu
0
thumb
Kediri FinFest 2026 Catat Transaksi Rp7,49 Miliar, OJK Perkuat Inklusi Keuangan
• 7 jam lalu
0
thumb
Harlin Rahardjo Ungkap Alasan Jakarta Bisa Jadi Barometer Pembinaan Akuatik Indonesia
• 21 jam lalu
0
thumb
BSU 2026 Cair Rp900 Ribu, Ini Syarat Penerima dan Batas Gajinya
• 5 jam lalu
0
thumb
Kemensos Rekrut 13.000 SDM untuk Operasional Sekolah Rakyat
• 23 jam lalu
0
Berhasil disimpan.