Grounding: Ritual Menyentuh Bumi yang Dipercaya Bantu Redakan Stres dan Cemas

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Coba hitung berapa jam sehari kita benar-benar menapak tanah. Pagi berangkat dengan sepatu, seharian di gedung ber-AC, pulang naik kendaraan, lalu tidur di kasur yang tinggi dari lantai. Di tengah ritme seperti ini, wajar kalau banyak perempuan merasa lelah, sulit tidur, dan mudah cemas.

Belakangan, satu kebiasaan sederhana ramai dibicarakan sebagai penyeimbang: grounding, atau aktivitas menyentuh bumi secara langsung. Dr. Laura Koniver mengulasnya dalam penelitian berjudul Practical Applications of Grounding to Support Health di Biomedical Journal (2023).

Dalam penelitiannya, Koniver mengartikan grounding sebagai kontak langsung tubuh dengan bumi. Bumi dan seluruh makhluk hidup di dalamnya, menurut dia, membentuk jaringan energi alami berupa arus searah (DC) yang ia sebut sirkuit listrik global. Karena seluruh bagian tubuh, dari sel hingga cairan tubuh, bersifat konduktif, tubuh dianggap ikut tersambung ke sirkuit itu saat menyentuh tanah.

Masalahnya, manusia modern jarang melakukannya. Sepatu bersol isolator, bangunan tertutup, dan kendaraan berban karet membuat kita nyaris tidak pernah bersentuhan langsung dengan bumi. Koniver juga mengaitkan hal ini dengan ritme sirkadian, jam biologis yang mengatur kapan kita mengantuk dan terjaga.

Ia merujuk pada eksperimen lama yang, menurutnya, menunjukkan bahwa orang yang terlindung dari medan listrik alami bumi kesulitan menjaga pola siang dan malam. Karena itu, grounding disebut dapat membantu menormalkan tidur dan menjaga kewaspadaan di siang hari.

Manfaat Grounding untuk Tubuh dan Mood

Menurut penelitian ini, grounding dikaitkan dengan sederet manfaat. Di antaranya peningkatan variabilitas denyut jantung, aliran darah yang lebih lancar, darah yang lebih encer, serta fungsi imun yang lebih baik. Otot juga disebut lebih terdukung saat berolahraga dan tidak terlalu pegal sesudahnya.

Untuk urusan yang lebih dekat dengan keseharian, Koniver menyebut grounding dapat menurunkan kadar kortisol (hormon stres), mengurangi peradangan, memperdalam tidur, dan memperbaiki suasana hati.

Ia juga menilai praktik ini bisa memberi dukungan bagi sistem saraf, misalnya saat kecemasan datang. Salah satu sarannya, bila serangan panik terasa mendekat, berhentilah sejenak lalu sentuh tanah.

Cara Mencobanya dalam Keseharian

Bagian terbesar penelitian ini justru berisi saran praktis, dan hampir semuanya bisa dilakukan tanpa biaya.

Prinsip umumnya, pindahkan sebanyak mungkin kegiatan harian ke luar ruangan, mulai dari peregangan, makan, hingga mengerjakan laptop.

Satu catatan penting dari Koniver: grounding adalah pelengkap, bukan pengganti perawatan medis. Konsultasikan dengan dokter, terutama bila Anda mengonsumsi obat pengencer darah, karena dokter perlu memantau hasil laboratorium.

Perlu diingat pula bahwa seluruh manfaat di atas adalah klaim dari penulisnya dan masih memerlukan penelitian lanjutan. Namun, menghabiskan waktu di alam terbuka, bergerak, dan menarik napas lebih pelan jelas tidak ada ruginya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kunci UNY Kawinkan Gelar Campus League: Seleksi Ketat hingga Latihan 2 Kali Lipat
• 6 jam lalu
0
thumb
Tiba di Istana, Atlet Asian Games dan Asian Para Games Bersiap Terima Bonus
• 12 jam lalu
0
thumb
KPK Lakukan Penggeledahan Kantor PT Djarum dan Bea Cukai Kudus
• 15 jam lalu
0
thumb
Polisi gelar deklarasi Sumpah Pemuda bersama mahasiswa di Bundaran HI
• 15 jam lalu
0
thumb
Peringatan Dini Cuaca Indonesia 30-31 Oktober 2026, BMKG: Sejumlah Wilayah Hujan Lebat
• 14 jam lalu
0
Berhasil disimpan.