Dari Modal ke Masa Depan: Andi Amri Bakti Bedah Kunci Usaha Anggota Koperasi Syariah Lewat Teknologi

harianfajar
8 jam lalu
Cover Berita

Ketua KSPPS Bakti Huria Syariah Raih Gelar Doktor

HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Modal bisa membuka pintu sebuah usaha. Namun, untuk membuat usaha itu bertahan, tumbuh, dan melewati masa-masa sulit, dibutuhkan lebih dari sekadar uang. Ada kecakapan mengelola keuangan, ketepatan mengambil keputusan, serta kemampuan membaca peluang melalui teknologi.

Persoalan itulah yang menjadi perhatian Dr. H. Andi Amri Bakti, S.Sos., MM., M.Si., Ketua Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS) Bakti Huria Syariah, dalam disertasi yang mengantarkannya menjalani ujian promosi doktor. Di balik angka-angka pembiayaan dan aktivitas usaha anggota, ia menemukan persoalan yang lebih mendasar: bagaimana memastikan modal yang disalurkan benar-benar menjadi tenaga penggerak bagi perkembangan usaha?

Disertasinya berjudul Analisis Pengaruh antara Green Financial Management dan Literasi Keuangan terhadap Pengembangan Usaha melalui Adopsi Teknologi: Studi Empiris pada KSPPS Bakti Huria Syariah, Sulawesi Selatan. Penelitian ini tidak semata-mata membicarakan pembiayaan koperasi syariah, tetapi menelusuri bagaimana kemampuan mengelola keuangan dan pemanfaatan teknologi berkaitan dengan pertumbuhan usaha milik anggota.

Bagi Andi Amri, persoalan tersebut berangkat dari fenomena yang dijumpai di lapangan. Pembiayaan yang diberikan kepada anggota tidak selalu digunakan sepenuhnya untuk mengembangkan usaha. Sebagian dana justru terserap untuk memenuhi kebutuhan mendesak. Akibatnya, modal yang seharusnya menjadi pijakan untuk bertumbuh berpotensi kehilangan daya dorongnya sebelum usaha berkembang lebih jauh.

Di sinilah penelitian itu menemukan relevansinya. Penyaluran pembiayaan memang membuka akses bagi pelaku usaha untuk memperoleh modal. Namun, akses tersebut perlu diikuti kemampuan mengelola dana, menyusun prioritas, dan mengambil keputusan keuangan yang tepat. Tanpa kecakapan tersebut, tambahan modal belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan kapasitas usaha.

Membaca pertumbuhan di balik angka

Penelitian pendahuluan terhadap 100 anggota KSPPS Bakti Huria Syariah memperlihatkan gambaran yang menarik. Rata-rata omzet usaha tercatat meningkat 34,83 persen, keuntungan bersih naik 41,65 persen, dan aset usaha bertambah 19,82 persen.

Namun, pertumbuhan tersebut menyisakan catatan. Hanya 40 persen anggota yang menggunakan seluruh dana sesuai dengan tujuan pembiayaan, sementara 30 persen pernah mengalami keterlambatan pembayaran.

Angka-angka itu memperlihatkan dua sisi yang berjalan beriringan. Di satu sisi, terdapat pertumbuhan omzet, keuntungan, dan aset usaha. Di sisi lain, masih ada tantangan dalam kedisiplinan pengelolaan dana dan pembayaran pembiayaan.

Temuan pendahuluan tersebut bukan bukti bahwa pembiayaan secara langsung menyebabkan peningkatan usaha. Akan tetapi, gambaran itu menjadi pijakan untuk menyelidiki lebih jauh faktor-faktor yang berkaitan dengan perkembangan usaha anggota. Pertanyaan utamanya bukan lagi sekadar berapa banyak modal yang disalurkan, melainkan bagaimana modal itu dikelola dan didukung oleh kemampuan keuangan serta teknologi.

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Andi Amri melakukan penelitian kuantitatif terhadap 400 anggota aktif KSPPS Bakti Huria Syariah yang menerima pembiayaan dan menjalankan usaha. Responden dipilih melalui metode purposive sampling, sedangkan data dikumpulkan menggunakan kuesioner berskala Likert dan dianalisis melalui metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) dengan aplikasi SmartPLS 4.

Penelitian tersebut menguji hubungan antara Green Financial Management, literasi keuangan, adopsi teknologi, dan pengembangan usaha. Kerangka teori Resource-Based View digunakan untuk menjelaskan pentingnya sumber daya dan kapabilitas dalam membangun daya saing usaha. Sementara itu, Technology Acceptance Model menjadi landasan pendukung untuk memahami relevansi penerimaan teknologi.

Teknologi bukan lagi sekadar pelengkap

Hasil analisis menunjukkan seluruh tujuh hipotesis penelitian memperoleh dukungan empiris, dengan hubungan positif dan signifikan. Salah satu temuan yang menonjol adalah hubungan adopsi teknologi dengan pengembangan usaha, yang memiliki koefisien jalur langsung sebesar 0,531.

Angka tersebut merupakan koefisien terbesar di antara jalur langsung yang mengarah pada pengembangan usaha dalam model penelitian. Temuan ini menempatkan adopsi teknologi sebagai salah satu aspek penting yang berkaitan dengan kemampuan anggota mengembangkan bisnisnya.

Sementara itu, Green Financial Management memiliki koefisien hubungan langsung dengan pengembangan usaha sebesar 0,220. Literasi keuangan mencatat koefisien 0,195. Kedua variabel tersebut juga berhubungan positif dan signifikan dengan adopsi teknologi, masing-masing dengan koefisien 0,408 dan 0,415.

Hasil penelitian turut menunjukkan adanya hubungan tidak langsung melalui adopsi teknologi. Jalur Green Financial Management menuju pengembangan usaha melalui teknologi memiliki koefisien 0,217, sedangkan jalur literasi keuangan melalui teknologi mencapai 0,221.

Hubungan langsung kedua variabel dengan pengembangan usaha tetap signifikan. Pola tersebut menunjukkan peran mediasi parsial yang komplementer, yakni adopsi teknologi menjadi salah satu penghubung, tanpa menghilangkan hubungan langsung pengelolaan keuangan dan literasi keuangan dengan pengembangan usaha.

Model penelitian mampu menjelaskan 52,5 persen variasi pengembangan usaha anggota. Adapun 30,7 persen variasi adopsi teknologi dapat dijelaskan oleh Green Financial Management dan literasi keuangan dalam model tersebut.

Angka-angka ini bukan sekadar deretan koefisien statistik. Temuan itu memberikan gambaran bahwa pengembangan usaha berkaitan dengan perpaduan kemampuan mengelola keuangan, pengetahuan finansial, dan pemanfaatan teknologi. Meski demikian, penelitian ini menggunakan data satu periode pengamatan sehingga hubungan statistik yang ditemukan tidak dapat langsung dimaknai sebagai bukti sebab-akibat secara definitif.

Pertanyaan penguji dan keyakinan pada penerapan

Dalam ujian promosi doktor, relevansi penelitian dengan dunia usaha menjadi salah satu pokok pembahasan. Promotor, Prof. Dr. Muhammad Ali, S.E., M.S., mengajukan pertanyaan mengenai tingkat keyakinan Andi Amri terhadap hasil penelitiannya.

Pertanyaan serupa juga mengemuka dari Prof. Dr. Mursalim Nohong, S.E., M.Si., yang menyoroti sejauh mana hasil penelitian tersebut dapat diterapkan dalam praktik bisnis.

Andi Amri menyatakan sangat yakin. Menurut dia, temuan tersebut relevan dengan pengalaman pengelolaan KSPPS Bakti Huria Syariah, terutama karena pengembangan usaha anggota perlu didukung kesiapan teknologi dan kemampuan mengelola keuangan.

Keyakinan itu berangkat dari pandangannya bahwa keberhasilan pembiayaan tidak cukup diukur dari tersalurkannya dana. Anggota juga membutuhkan kemampuan untuk menggunakan modal secara produktif, memahami kondisi keuangan usahanya, serta memanfaatkan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan bisnis.

Dalam sesi berikutnya, Prof. Dr. Indrianawati Usman, S.E., M.Si., mempertanyakan urgensi penelitian yang menghubungkan Green Financial Management, literasi keuangan, dan teknologi. Pertanyaan tersebut menyentuh dasar penelitian: mengapa faktor-faktor itu perlu dikaji secara bersamaan?

Andi Amri menjelaskan bahwa penelitian tersebut berangkat dari fenomena empiris yang ditemukan di lapangan. Ada anggota yang menerima modal, tetapi belum sepenuhnya menggunakannya untuk kepentingan usaha. Kebutuhan mendesak dapat membuat dana pembiayaan bergeser dari tujuan awal, sementara kemampuan mengelola keuangan dan memanfaatkan teknologi belum tentu berkembang seiring dengan penerimaan modal.

Dari persoalan itulah, penelitian diarahkan untuk melihat keterkaitan antara kapabilitas keuangan dan penggunaan teknologi dalam mendorong pengembangan usaha. Bagi koperasi, pendekatan tersebut penting agar pembiayaan tidak berhenti pada transaksi penyaluran dana, tetapi menjadi bagian dari proses penguatan kapasitas anggota.

Prof. Dr. Abdul Rahman Kadir, S.E., M.Si., turut menyoroti hubungan teknologi dan persepsi manfaatnya. Sementara itu, penguji eksternal Dr. Fauzi R. Rahim, S.E., M.Si., mengangkat persoalan bagaimana peningkatan kemampuan finansial dapat ditindaklanjuti agar memberikan dampak lebih jauh.

Diskusi tersebut memperluas perhatian dari sekadar hasil pengujian statistik menuju tantangan penerapannya. Temuan penelitian dapat menjadi dasar untuk merancang penguatan usaha, tetapi penerapannya tetap membutuhkan strategi, pendampingan, dan evaluasi yang sesuai dengan kondisi anggota.

Pendampingan sebagai jembatan perubahan

Salah satu pesan penting dari penelitian ini adalah perlunya pendampingan anggota secara berkelanjutan. Pembiayaan tidak cukup hanya diberikan, kemudian anggota dibiarkan mengelola usahanya sendiri tanpa dukungan peningkatan kapasitas.

Pendampingan dapat dimulai dari hal-hal mendasar: menyusun perencanaan keuangan, memisahkan uang pribadi dari uang usaha, mencatat pemasukan dan pengeluaran, mengendalikan arus kas, serta memastikan dana pembiayaan digunakan sesuai tujuan. Setelah itu, anggota dapat diperkenalkan pada aplikasi pencatatan sederhana dan transaksi digital secara bertahap.

Perkembangan usaha juga perlu dipantau melalui indikator yang relevan, seperti omzet, keuntungan, arus kas, aset, dan ketepatan pembayaran. Dengan demikian, koperasi tidak hanya mengetahui bahwa pembiayaan telah disalurkan, tetapi juga dapat memahami tantangan yang dihadapi anggota selama mengembangkan usahanya.

Pendekatan tersebut sekaligus menempatkan teknologi secara lebih proporsional. Teknologi bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk membantu anggota mengelola usaha dengan lebih tertib, memperoleh informasi keuangan, dan menjalankan transaksi secara lebih efisien. Pemanfaatannya perlu disesuaikan dengan skala usaha, kebutuhan, dan kemampuan masing-masing anggota.

Bagi koperasi syariah dan pelaku UMKM, temuan ini membuka ruang untuk memperkuat pola pemberdayaan yang memadukan akses pembiayaan dengan pendidikan finansial dan pendampingan teknologi. Namun, efektivitas penerapannya tetap perlu diuji melalui program nyata dan pemantauan berkelanjutan.

Mengubah modal menjadi daya tumbuh

Disertasi Andi Amri Bakti pada akhirnya mengingatkan bahwa perjalanan sebuah usaha tidak selesai ketika modal diterima. Justru setelah dana berada di tangan anggota, proses yang menentukan dimulai: bagaimana uang dikelola, bagaimana risiko diperhitungkan, dan bagaimana teknologi digunakan untuk memperluas kemampuan usaha.

Penelitian ini memberikan tambahan bukti empiris mengenai hubungan pengelolaan keuangan berorientasi keberlanjutan, literasi keuangan, adopsi teknologi, dan pengembangan usaha dalam konteks KSPPS Bakti Huria Syariah di Sulawesi Selatan. Temuannya juga memperkuat gagasan bahwa pembiayaan dan peningkatan kapasitas anggota perlu berjalan beriringan.

Meski penelitian dilakukan pada satu lingkungan kelembagaan koperasi dan belum dapat digeneralisasi secara statistik kepada seluruh koperasi syariah di Indonesia, hasilnya menawarkan pijakan untuk pengembangan program pendampingan yang lebih terarah. Penelitian lanjutan dengan cakupan lembaga yang lebih luas dan pengamatan dalam jangka panjang diperlukan untuk menguji keberlanjutan hasil tersebut.

Bagi Andi Amri, tantangan pengembangan usaha anggota bukan semata-mata soal menyediakan modal, melainkan memastikan anggota memiliki kemampuan untuk mengelolanya. Sebab, di antara uang yang dipinjamkan dan usaha yang diharapkan tumbuh, terdapat pengetahuan, kedisiplinan, serta keberanian untuk beradaptasi dengan perubahan.

Pada titik itulah, pembiayaan menemukan maknanya yang lebih luas: bukan hanya membantu usaha bertahan hari ini, tetapi juga membekali anggotanya untuk membangun masa depan yang lebih berkelanjutan. (*)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Trump Setujui Kedatangan Flávio Bolsonaro di AS Usai Kalah Pilpres Brasil
• 19 jam lalu
0
thumb
Kepala BPOM Minta Ikan Asin yang Disemprot Pestisida Tidak Diedarkan: Bahaya
• 18 jam lalu
0
thumb
Peringatan Dini Cuaca Indonesia 30-31 Oktober 2026, BMKG: Sejumlah Wilayah Hujan Lebat
• 15 jam lalu
0
thumb
Wamenperin Mau Kurangi Impor Komponen Mobil Listrik, Ini Daftarnya
• 18 jam lalu
0
thumb
Jokowi Buka Suara soal 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.