Padang (ANTARA) - Tim Pengabdian Desa Binaan Nagari Panti Selatan dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Andalas (Unand) melatih petani di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat pengolahan kopi pascapanen untuk meningkatkan mutu dan nilai tambah kopi.
“Pelatihan ini diharapkan dapat membantu petani menerapkan teknik pengolahan kopi setelah panen secara tepat sehingga kualitas produk yang dihasilkan lebih baik dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” kata Koordinator Tim Pengabdian Masyarakat Unand Daerah Binaan Nagari Panti Selatan Khairil Agustoria,MT melalui keterangan yang diterima di Padang, Kamis.
Ia menyatakan pelatihan tersebut bertujuan memperkuat kapasitas petani dalam mengelola hasil panen agar menghasilkan biji kopi berkualitas dan memenuhi standar pasar.
Ia menjelaskan dalam pelatihan tersebut membahas sejumlah materi, antara lain petik merah dan sortasi, penanganan pascapanen, mutu kopi ekspor, perhitungan mutu grade kopi, serta pemanfaatan dome dryer atau alat pengering berbentuk kubah yang dirancang bersama tim pengabdian.
Melalui pelatihan tersebut petani diperkenalkan pada tahapan penanganan kopi yang tepat, mulai dari pemilihan buah di kebun hingga proses pengeringan untuk menghasilkan biji kopi sesuai standar pasar.
Ia mengutip pernyataan Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasko Ruseimy mengenai pentingnya transformasi pertanian di Sumatera Barat yang dapat diwujudkan dengan memperhatikan seluruh rangkaian pascapanen, mulai dari metode panen hingga penerapan teknologi tepat guna.
“Memperhatikan pascapanen, mulai dari cara panen sampai perlakuan dengan teknologi tepat guna, adalah salah satu bentuk transformasi itu sendiri,” ujarnya.
Ia menyatakan kualitas kopi sangat ditentukan oleh perlakuan sejak buah dipetik.
Oleh karena itu, penerapan petik merah dan sortasi yang tepat menjadi langkah awal untuk menentukan harga dan daya saing kopi petani di pasar domestik maupun ekspor.
Ia menyampaikan tim pengabdian juga berupaya merancang mesin pertanian kopi yang sesuai dengan kebutuhan petani.
Perancangan teknologi tersebut tidak hanya mengutamakan kecanggihan sensor dan perangkat elektronik, tetapi juga kemudahan pengoperasian agar dapat dimanfaatkan dan dirawat secara mandiri oleh masyarakat.
Baca juga: Sumbar akan pasarkan kopi ke negara Skandinavia
Baca juga: Pemprov Sumbar belajar pengeringan kopi dengan uap panas bumi
Selanjutnya, ia menilai transformasi kopi lokal, khususnya di Nagari Panti Selatan masih menghadapi berbagai persoalan mendasar yang perlu diselesaikan secara bertahap dengan dukungan berbagai pihak.
"Pekerjaan ini bukan sesuatu yang mudah. Segelintir masalah hari ini tidak bisa langsung selesai esok hari, tapi setidaknya kita mulai mencicilnya. Kalau kita mau berusaha, pasti bisa," kata dia.
Ia menegaskan tim pengabdian berkomitmen mendampingi masyarakat Nagari Panti Selatan secara berkelanjutan, tidak hanya melalui pelatihan, tetapi juga dengan menyediakan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan petani setempat.
Sementara pemateri dari tim pengabdian Yulinda, PhD menegaskan pentingnya perhitungan biaya usaha tani agar petani dapat mengetahui keuntungan yang sebenarnya dan mengambil keputusan usaha secara tepat.
Menurut dia, pencatatan dan analisis biaya yang baik diperlukan agar petani dapat mengelola usaha secara terukur serta memperoleh hasil yang layak dari kegiatan pertanian.
Melalui pelatihan tersebut, tim pengabdian LPPM Unand berharap petani kopi di Nagari Panti Selatan dapat menerapkan praktik pascapanen yang baik, menghasilkan kopi bermutu ekspor, serta meningkatkan pendapatan secara berkelanjutan.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan pemerintah nagari juga diharapkan terus berlanjut untuk mendukung kemajuan sektor pertanian di Sumatera Barat.
Pelatihan tersebut diketuai Dr Nofialdi dan dihadiri Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat Ferdinal Asmin, wali nagari Panti Selatan, wali nagari Panti Timur, masyarakat petani kopi serta tim pengabdian desa binaan LPPM Unand.
Baca juga: Dinas Pertanian Kabupaten Solok kembangkan budidaya tanaman kopi
Baca juga: Mendag lepas ekspor produk kopi siap minum ke Australia
Baca juga: Kementrans bangun Rumah Kopi di Aceh Tengah 2027
“Pelatihan ini diharapkan dapat membantu petani menerapkan teknik pengolahan kopi setelah panen secara tepat sehingga kualitas produk yang dihasilkan lebih baik dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” kata Koordinator Tim Pengabdian Masyarakat Unand Daerah Binaan Nagari Panti Selatan Khairil Agustoria,MT melalui keterangan yang diterima di Padang, Kamis.
Ia menyatakan pelatihan tersebut bertujuan memperkuat kapasitas petani dalam mengelola hasil panen agar menghasilkan biji kopi berkualitas dan memenuhi standar pasar.
Ia menjelaskan dalam pelatihan tersebut membahas sejumlah materi, antara lain petik merah dan sortasi, penanganan pascapanen, mutu kopi ekspor, perhitungan mutu grade kopi, serta pemanfaatan dome dryer atau alat pengering berbentuk kubah yang dirancang bersama tim pengabdian.
Melalui pelatihan tersebut petani diperkenalkan pada tahapan penanganan kopi yang tepat, mulai dari pemilihan buah di kebun hingga proses pengeringan untuk menghasilkan biji kopi sesuai standar pasar.
Ia mengutip pernyataan Wakil Gubernur Sumatera Barat Vasko Ruseimy mengenai pentingnya transformasi pertanian di Sumatera Barat yang dapat diwujudkan dengan memperhatikan seluruh rangkaian pascapanen, mulai dari metode panen hingga penerapan teknologi tepat guna.
“Memperhatikan pascapanen, mulai dari cara panen sampai perlakuan dengan teknologi tepat guna, adalah salah satu bentuk transformasi itu sendiri,” ujarnya.
Ia menyatakan kualitas kopi sangat ditentukan oleh perlakuan sejak buah dipetik.
Oleh karena itu, penerapan petik merah dan sortasi yang tepat menjadi langkah awal untuk menentukan harga dan daya saing kopi petani di pasar domestik maupun ekspor.
Ia menyampaikan tim pengabdian juga berupaya merancang mesin pertanian kopi yang sesuai dengan kebutuhan petani.
Perancangan teknologi tersebut tidak hanya mengutamakan kecanggihan sensor dan perangkat elektronik, tetapi juga kemudahan pengoperasian agar dapat dimanfaatkan dan dirawat secara mandiri oleh masyarakat.
Baca juga: Sumbar akan pasarkan kopi ke negara Skandinavia
Baca juga: Pemprov Sumbar belajar pengeringan kopi dengan uap panas bumi
Selanjutnya, ia menilai transformasi kopi lokal, khususnya di Nagari Panti Selatan masih menghadapi berbagai persoalan mendasar yang perlu diselesaikan secara bertahap dengan dukungan berbagai pihak.
"Pekerjaan ini bukan sesuatu yang mudah. Segelintir masalah hari ini tidak bisa langsung selesai esok hari, tapi setidaknya kita mulai mencicilnya. Kalau kita mau berusaha, pasti bisa," kata dia.
Ia menegaskan tim pengabdian berkomitmen mendampingi masyarakat Nagari Panti Selatan secara berkelanjutan, tidak hanya melalui pelatihan, tetapi juga dengan menyediakan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan petani setempat.
Sementara pemateri dari tim pengabdian Yulinda, PhD menegaskan pentingnya perhitungan biaya usaha tani agar petani dapat mengetahui keuntungan yang sebenarnya dan mengambil keputusan usaha secara tepat.
Menurut dia, pencatatan dan analisis biaya yang baik diperlukan agar petani dapat mengelola usaha secara terukur serta memperoleh hasil yang layak dari kegiatan pertanian.
Melalui pelatihan tersebut, tim pengabdian LPPM Unand berharap petani kopi di Nagari Panti Selatan dapat menerapkan praktik pascapanen yang baik, menghasilkan kopi bermutu ekspor, serta meningkatkan pendapatan secara berkelanjutan.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan pemerintah nagari juga diharapkan terus berlanjut untuk mendukung kemajuan sektor pertanian di Sumatera Barat.
Pelatihan tersebut diketuai Dr Nofialdi dan dihadiri Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Barat Ferdinal Asmin, wali nagari Panti Selatan, wali nagari Panti Timur, masyarakat petani kopi serta tim pengabdian desa binaan LPPM Unand.
Baca juga: Dinas Pertanian Kabupaten Solok kembangkan budidaya tanaman kopi
Baca juga: Mendag lepas ekspor produk kopi siap minum ke Australia
Baca juga: Kementrans bangun Rumah Kopi di Aceh Tengah 2027






Komentar (0)