EtIndonesia.com Israel menggelar pemilihan umum pada Selasa (27/10). Pemilu kali ini dianggap sebagai salah satu pemilu paling menentukan dalam sejarah negara tersebut. Tingkat partisipasi pemilih mencapai rekor tertinggi dalam beberapa dekade terakhir dan dipandang sebagai ujian menyeluruh terhadap pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Menurut hasil jajak pendapat di tempat pemungutan suara (exit poll) yang tersedia saat ini, koalisi yang dipimpin Gadi Eisenkot diperkirakan akan memperoleh 52 kursi, sementara kubu Netanyahu diperkirakan meraih 50 kursi. Karena tidak ada satu partai pun yang diperkirakan mampu meraih mayoritas kursi parlemen secara mandiri, negosiasi pembentukan pemerintahan koalisi diperkirakan akan berlangsung panjang dan rumit.
Antrian pemilih memadati tempat-tempat pemungutan suara. Bahkan, sekitar 70.000 warga Israel yang tinggal di luar negeri dilaporkan sengaja terbang kembali ke tanah air untuk memberikan suara mereka!
Pada 27 Oktober, antusiasme pemilih yang belum pernah terjadi sebelumnya terlihat di berbagai wilayah Israel. Tingkat partisipasi pemilih mencatat rekor tertinggi dalam lebih dari 40 tahun.
Seorang pemilih Israel, Bernstein, mengatakan, “Hari ini merupakan hari yang sangat penting bagi kami.”
Pemilu kali ini secara luas dipandang sebagai ujian terhadap pemerintahan dan kepemimpinan Perdana Menteri petahana, Benjamin Netanyahu.
Netanyahu kembali mengandalkan citranya sebagai pemimpin tangguh dalam urusan keamanan dan memperoleh dukungan dari Presiden Donald Trump. Ia menekankan kemenangan strategis yang diraih Israel dalam perang di Timur Tengah serta menyerukan para pemilih dari basis pendukung sayap kanan untuk datang ke tempat pemungutan suara.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan, “Silakan berikan suara yang benar. Kami sedang melakukan hal itu demi masa depan Israel.”
Netanyahu juga mengatakan, “Kita tidak boleh menyerahkan kampanye ini begitu saja kepada kaum kiri dan partai-partai Arab yang ingin mengakhiri keberadaan negara Yahudi.”
Pesaing utama Netanyahu adalah Gadi Eisenkot, seorang pejabat keamanan berhaluan keras yang pernah menjabat sebagai Kepala Staf Umum Pasukan Pertahanan Israel (IDF). Hasil jajak pendapat menunjukkan persaingan keduanya berlangsung ketat dan berimbang.
Eisenkot memimpin partai baru bernama Yashar. Ia berusaha menyatukan kekuatan dari kelompok tengah, sayap kanan, serta sebagian kelompok sayap kiri untuk mematahkan dominasi politik Netanyahu yang telah berlangsung lama.
Pemimpin Partai Yashar, Eisenkot, mengatakan, “Ini adalah pemilu yang sangat menentukan, dan kemenangan bukanlah sesuatu yang sudah pasti. Saya menyerukan kepada seluruh warga Israel untuk keluar dan memberikan suara.”
Bayang-bayang politik paling berat yang menyelimuti pemilu ini adalah serangan pembantaian yang dilakukan oleh teroris Hamas pada 7 Oktober 2023. Karena itu, masalah keamanan menjadi salah satu fokus utama pemilu kali ini.
Pihak oposisi menuduh pemerintah gagal mencegah serangan teroris tersebut. Mereka menuntut penyelidikan atas kelalaian keamanan serius itu serta meminta pertanggungjawaban pihak-pihak terkait.
Selain itu, pihak oposisi juga menyampaikan ketidakpuasan yang kuat terhadap pengecualian wajib militer bagi kaum Yahudi ultra-Ortodoks serta reformasi peradilan.
Parlemen Israel memiliki total 120 kursi dan menggunakan sistem perwakilan proporsional dengan satu daerah pemilihan nasional. Partai politik harus memperoleh sedikitnya 3,25% suara untuk mendapatkan kursi di parlemen.
Dengan lebih dari sepuluh partai yang bersaing, sangat sulit bagi satu partai untuk meraih mayoritas mandiri, yakni sedikitnya 61 kursi. Oleh karena itu, partai-partai kecil kerap memainkan peran sebagai kingmaker, yaitu pihak yang menentukan siapa yang akhirnya dapat membentuk pemerintahan.
Pemungutan suara berakhir pada Selasa pukul 22.00 waktu setempat. Penghitungan suara akhir diperkirakan selesai pada 30 Oktober, sedangkan hasil resmi pemilu dijadwalkan diumumkan pada 4 November.
Setelah itu, presiden akan berkonsultasi dengan berbagai partai politik dan menunjuk kandidat yang dinilai memiliki peluang terbesar untuk membentuk pemerintahan koalisi dalam waktu paling lama 42 hari.
Jika upaya pembentukan pemerintahan gagal, pemilihan umum kembali tidak dapat dikesampingkan.
Laporan gabungan Yi Jing, NTD Television.






Komentar (0)