Sejumlah perusahaan barang konsumsi dan makanan terbesar dunia, seperti Coca-Cola, Procter & Gamble (P&G), Nestle, dan Reckitt, membuka peluang menaikkan harga produk pada 2027.
Mengutip Bloomberg, Kamis (29/10), langkah itu diperlukan untuk mengimbangi lonjakan biaya produksi, meski konsumen enggan membelanjakan lebih banyak uang untuk kebutuhan sehari-hari.
Kenaikan biaya energi, bahan baku, dan pengiriman akibat perang AS terhadap Iran menekan margin produsen deterjen, minuman bersoda, hingga makanan ringan.
Naiknya harga kebutuhan sehari-hari juga memicu kekhawatiran inflasi bertahan hingga tahun depan. Tingginya tagihan gas dan belanja bahan makanan menjadi faktor utama dalam pemilu sela AS pekan depan.
Sejak pandemi, banyak perusahaan menghadapi penjualan lesu karena konsumen makin keberatan membeli makanan kemasan bermerek yang harganya terus naik.
“Penetapan harga adalah langkah terakhir yang masih dimiliki perusahaan-perusahaan ini, dan mereka menerapkannya kepada konsumen yang sudah mencapai batas kemampuan untuk membayar lebih mahal,” kata Kepala Ekuitas dan manajer portofolio Aptus Capital Advisors David Wagner.
Seberapa Tinggi Harga Bisa Naik?CEO Coca-Cola Henrique Braun mengatakan, tekanan terhadap konsumen berpotensi berlanjut hingga 2027.
“Kami melihat tekanan biaya yang meningkat, didorong oleh kenaikan biaya logistik dan transportasi,” ujarnya.
Sementara itu CEO Reckitt Kris Licht menyebut konsumen di Eropa dan Amerika Utara menghadapi tekanan sangat besar.
Perusahaan harus menentukan seberapa besar kenaikan biaya diteruskan lewat harga jual dan seberapa besar diimbangi promosi.
“Kami kemungkinan harus menaikkan harga lebih lanjut pada tingkat biaya komoditas dan biaya input seperti sekarang,” kata Licht.
Pandangan serupa disampaikan CFO P&G Andre Schulten. Pekan lalu, produsen deterjen Tide itu menaikkan perkiraan dampak kenaikan biaya bahan baku, energi, dan pengiriman terhadap laba tahunannya menjadi USD 1,4 miliar, dari USD 1 miliar.
“Dengan tekanan biaya komoditas pada tingkat seperti ini, industri secara umum menaikkan harga karena tidak ada cara untuk memulihkan dampak tekanan biaya sebesar ini tanpa menaikkan harga,” ucapnya.
Adapun, ketua Lindt & Sprüngli, produsen cokelat asal Swiss, mengatakan perusahaan salah memperkirakan respons konsumen terhadap kenaikan harga.
Pernyataan itu muncul beberapa hari setelah perusahaan memberhentikan CEO-nya karena kekhawatiran kinerja bisnis. PepsiCo juga beberapa kali menaikkan dan menurunkan harga tahun ini untuk mendorong penjualan yang lesu.






Komentar (0)