Bintang sepak bola Prancis, Kylian Mbappé, mengatakan bahwa meme hasil editan yang menampilkan wajahnya dengan latar belakang “diktator Tiongkok”, Mao Zedong, merupakan meme favoritnya. Pernyataan itu memicu kontroversi yang disebut sebagai “penghinaan terhadap Tiongkok”. Mbappé kemudian menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Menanggapi hal tersebut, Komite Khusus DPR AS untuk Partai Komunis Tiongkok menyatakan bahwa ia tidak seharusnya meminta maaf. Pasalnya, dampak Mao Zedong terhadap rakyat Tiongkok, menurut komite tersebut, jauh melampaui apa yang dapat ditimbulkan oleh pernyataan seorang pemain sepak bola.
EtIndonesia.com Pada 26 Oktober, Kylian Mbappé ditanya oleh pembawa acara dalam program wawancara The Bridge mengenai meme dan gambar ekspresi favoritnya. Mbappé menjawab, “Meme yang paling membuat saya tertawa adalah meme yang mengedit wajah saya ke tubuh diktator Tiongkok, Mao Zedong. Ketika bermain gim PlayStation secara daring bersama teman-teman, saya sering mengirimkan meme itu kepada mereka melalui ruang obrolan.”
Tak disangka, candaan Mbappé memicu kehebohan besar di Tiongkok. Aparat Partai Komunis Tiongkok (PKT) mengerahkan mesin propaganda untuk mengkritiknya secara luas. Media pemerintah menghapus pemberitaan tentang Mbappé, CCTV menghentikan penayangan pertandingan dan iklan yang berkaitan dengannya, sementara merek-merek Tiongkok yang bekerja sama dengannya segera mengambil jarak.
Pernyataan itu membuat para nasionalis garis keras pendukung PKT merasa tersinggung. Namun, banyak warganet Tionghoa di luar negeri mengatakan bahwa Mbappé sebenarnya tidak mengatakan sesuatu yang keliru.
Pasalnya, Mao Zedong sejatinya memang adalah seorang diktator, dan itu merupakan pengetahuan umum. Bahkan, di kalangan masyarakat Tiongkok, Mao pernah dijuluki “setan Mao”, sedangkan warganet juga menggunakan sebutan “daging Mao yang diawetkan” untuk merujuk kepadanya.
姆巴佩称毛泽东为“中国独裁者” 原视频+中英翻译 https://t.co/A99iyoue0D
— Camille Ça (@asdf15644222) October 26, 2026Penilaian di kalangan akademisi dan penelitian sejarah secara umum menunjukkan bahwa selama pemerintahan Mao Zedong, dari 1949 hingga 1976, puluhan juta orang meninggal secara tidak wajar akibat berbagai kampanye politik, penindasan, Revolusi Kebudayaan, dan kelaparan besar. Perkiraan jumlah korban berkisar antara sekitar 40 juta hingga lebih dari 50 juta orang. Sejumlah akademisi dan lembaga penelitian di luar Tiongkok bahkan memperkirakan jumlahnya dapat mencapai 80 juta orang.
Setelah insiden tersebut, pada malam 27 Oktober, Mbappé menerbitkan pernyataan dalam bahasa Prancis, Mandarin, dan Inggris di platform X. Dalam pernyataan berbahasa Mandarin, ia menulis: “Saya meminta maaf kepada semua orang yang tersakiti oleh pernyataan saya. Itu sama sekali bukan maksud saya.”
Menanggapi hal itu, komentator pertahanan dan geopolitik Prancis, Cyprien Ronze-Spilliaert, menulis di X bahwa Mbappé tidak perlu meminta maaf.
“Mao Zedong memang seorang diktator, seorang penjahat yang membunuh puluhan juta orang. Ironisnya, semua kontrak Anda di Tiongkok serta akun Anda di media sosial Tiongkok dibatalkan hanya karena Anda menyebut mantan pemimpin mereka sebagai ‘diktator’,” tulisnya.
Komite Khusus DPR AS untuk PKT juga menyatakan melalui X bahwa Mbappé tidak seharusnya meminta maaf karena menyebut Mao Zedong sebagai “diktator”. Menurut komite tersebut, Mao memang seorang diktator, dan penderitaan yang ditimbulkannya terhadap rakyat Tiongkok jauh lebih besar daripada yang dapat digambarkan melalui pernyataan seorang pemain sepak bola.
Komite itu menyebut Mao Zedong telah lama memimpin PKT. Pemerintahan diktator dan kebijakan-kebijakannya yang membawa bencana, termasuk selama Revolusi Kebudayaan, kelaparan besar, dan berbagai tindakan kekerasan lainnya, menyebabkan kematian puluhan juta warga Tiongkok. Sebagai tokoh utama dalam sejarah partai tersebut, Mao meletakkan dasar bagi metode penindasan dan pembersihan ideologis yang, menurut komite itu, masih digunakan oleh PKT hingga sekarang.
Artikel tersebut menyatakan bahwa selama puluhan tahun, PKT telah merampas hak-hak dasar rakyat Tiongkok, termasuk kebebasan berbicara dan kebebasan beragama. Hak-hak itu juga dinikmati oleh Mbappé dan ratusan juta orang di seluruh dunia. Karena itu, menurut komite khusus DPR AS itu menyatakan, Mbappé seharusnya memanfaatkan kesempatan ini untuk mengungkap kebenaran mengenai kekejaman pemerintahan diktator Mao Zedong.
Komite itu mengkritik sejumlah perusahaan yang buru-buru meminta maaf dalam insiden ini demi mempertahankan bisnis mereka di Tiongkok. Menurutnya, PKT merupakan penindas terbesar rakyat Tiongkok dan hak asasi manusia mereka. Perusahaan-perusahaan yang bekerja sama dengan PKT pada praktiknya membantu tindakan tersebut dan membuat kekejaman PKT seolah-olah menjadi sesuatu yang normal.
Seorang pengguna X bernama “Max in the Mirror” menulis: “Ketika melihat Mbappé meminta maaf, saya teringat diri saya sendiri lebih dari 20 tahun lalu. Saat itu saya masih berada di Tiongkok. Setiap kali mendengar orang asing mengkritik Tiongkok, reaksi pertama saya adalah langsung naik darah, bahkan ketika yang mereka katakan adalah fakta. Setelah tinggal cukup lama di Amerika Serikat, saya melihat presiden dikritik sebagai diktator setiap hari dan dijadikan bahan meme, tetapi negara itu tidak runtuh. Perlahan-lahan, gejolak emosi saya pun mereda.”
Ia melanjutkan dengan penuh penyesalan:
“Setelah perasaan itu benar-benar hilang, barulah saya memahami bahwa itu bukan patriotisme. Sejak kecil, saya tidak pernah diizinkan memisahkan ‘rezim’ dari ‘diri saya sendiri’. Mengkritik rezim terasa seperti menghina diri saya. Butuh bertahun-tahun bagi saya untuk melepaskan pola pikir itu.
“Mbappé juga memiliki lapisan yang harus ia lepaskan. Dalam dua hari terakhir, seluruh dunia telah melihatnya: ia mengatakan sesuatu yang benar, tetapi tetap harus menariknya kembali. Lapisan yang melekat padanya adalah pasar Tiongkok. Ia mempertimbangkannya dan memilih untuk mempertahankannya. Lalu, apa nama lapisan yang melekat padamu? Sudahkah kamu melepaskannya?”
Komentator politik Yue Shan menulis dalam artikel di The Epoch Times bahwa permintaan maaf Mbappé merupakan reaksi yang wajar bagi orang asing yang hidup dalam masyarakat normal. Mbappé tampaknya tidak menyangka pernyataannya akan memicu kontroversi sebesar itu. Ia juga tidak memahami mengapa kelompok orang tertentu dapat memiliki pola pikir yang begitu ekstrem. Karena itu, ia mengatakan bahwa dirinya “kurang mempertimbangkan situasi” dan bahwa “sekarang saya mengerti”.
Menurut penulis, permintaan maaf Mbappé belum tentu sepenuhnya disebabkan oleh ketakutannya kehilangan keuntungan bisnis di Tiongkok. Kemungkinan paling sederhana, tulisnya, adalah Mbappé terkejut dan takut melihat kekuatan mengerikan yang muncul dari pemujaan fanatik terhadap seorang diktator PKT.
Yue Shan juga berpendapat bahwa kontroversi ini mendadak menjadi topik hangat di internet Tiongkok karena turut digerakkan oleh pihak berwenang. Menurutnya, saat ini PKT sedang menggelar Sidang Pleno Kelima Komite Sentral, dan Xi Jinping ingin memanfaatkan pertemuan tersebut untuk melakukan penataan ulang partai serta menyingkirkan orang-orang tertentu.
Penulis berpendapat bahwa Xi berusaha meningkatkan legitimasi dirinya dengan mengangkat citra Mao Zedong. Jika citra Mao tidak dapat dipertahankan, posisi Xi pun akan menjadi tidak stabil. Karena itu, ketika seorang bintang sepak bola asing dianggap menghina Mao, pihak berwenang memandangnya seolah-olah penghinaan tersebut juga ditujukan kepada Xi. Menurut penulis, inilah alasan pemerintah tidak ingin kejadian semacam itu dibiarkan berlanjut.
Artikel tersebut menyatakan bahwa dengan membesar-besarkan insiden ini dan membuat orang asing tunduk, pihak berwenang PKT mungkin merasa telah meraih kemenangan sekali lagi. Pada saat yang sama, insiden tersebut dapat mengalihkan perhatian publik dari krisis politik yang dihadapi Xi Jinping akibat stagnasi ekonomi, meningkatnya ketidakpuasan masyarakat, serta ketidakpuasan para pejabat terhadap tindakan pembersihan internal.
Penulis menegaskan bahwa meskipun Mbappé telah meminta maaf, luapan kemarahan nasionalis yang terlihat di permukaan masyarakat Tiongkok belum tentu segera mereda. PKT masih dapat memanfaatkan insiden ini untuk kepentingannya sendiri.
Yang paling penting, tulisnya, adalah apakah masyarakat dunia dapat melihat bahwa kejadian semacam ini juga merupakan bentuk penindasan lintas negara secara tidak langsung, dengan bayang-bayang pengaruh PKT di baliknya.
Dilaporkan oleh Tang Zheng berdasarkan berbagai sumber / Li Quan






Komentar (0)