Jakarta, VIVA – Pengeluaran untuk rokok menjadi salah satu pos belanja rutin yang perlu diperhatikan ketika rumah tangga mengatur anggaran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di tengah pengeluaran untuk pangan, tempat tinggal, pendidikan, dan kesehatan, kebiasaan merokok turut memengaruhi alokasi pendapatan masyarakat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2025 mencatat rata-rata pengeluaran per kapita untuk rokok mencapai Rp91.708 per bulan. Angka tersebut setara dengan 5,84 persen dari total pengeluaran per kapita bulanan penduduk.
Besaran pengeluaran itu menunjukkan bahwa rokok menjadi bagian dari pola konsumsi masyarakat. Namun, dampaknya terhadap daya beli perlu dilihat berdasarkan kondisi ekonomi setiap rumah tangga, terutama kemampuan memenuhi kebutuhan pokok di tengah berbagai pengeluaran rutin.
Pengeluaran Rokok dan Anggaran Rumah Tangga
Dalam mengelola keuangan, masyarakat harus membagi pendapatan untuk memenuhi berbagai kebutuhan. Pengeluaran untuk makanan, minuman, tempat tinggal, transportasi, pendidikan, hingga kesehatan menjadi bagian dari anggaran yang perlu disesuaikan dengan kemampuan ekonomi masing-masing keluarga.
Bagi rumah tangga yang memiliki anggota keluarga perokok, pembelian rokok dapat menjadi pengeluaran rutin. Jika dilakukan setiap hari, pengeluaran tersebut terakumulasi menjadi belanja mingguan hingga bulanan.
Sebagai gambaran, pengeluaran rokok rata-rata sebesar Rp91.708 per kapita per bulan menunjukkan bahwa kebiasaan tersebut memiliki nilai ekonomi yang dapat diperhitungkan dalam anggaran konsumsi. Meski demikian, angka tersebut merupakan rata-rata nasional, bukan jumlah pasti yang dikeluarkan setiap individu atau keluarga.
Pengeluaran aktual dapat berbeda bergantung pada jumlah anggota rumah tangga, kebiasaan konsumsi, harga produk, serta tingkat pendapatan. Karena itu, data tersebut perlu dipahami sebagai gambaran pola konsumsi, bukan ukuran langsung kondisi keuangan seluruh masyarakat.
Beban Pengeluaran Berbeda Menurut Tingkat Pendapatan
Dampak pengeluaran rokok terhadap daya beli tidak selalu sama bagi seluruh lapisan masyarakat. Rumah tangga berpendapatan tinggi dan rendah memiliki kemampuan berbeda dalam menyerap pengeluaran rutin.
Bagi keluarga dengan anggaran terbatas, setiap pos belanja dapat memengaruhi kemampuan memenuhi kebutuhan lainnya. Pengeluaran yang terus berulang berpotensi mempersempit ruang anggaran untuk kebutuhan tambahan, terutama apabila pendapatan tidak meningkat sebanding dengan biaya hidup.






Komentar (0)