Bursa saham Asia bervariasi pada Kamis (29/10/2026) setelah investor mencerna keputusan Federal Reserve (The Fed) yang mempertahankan suku bunga.
IDXChannel – Bursa saham Asia bervariasi pada Kamis (29/10/2026) setelah investor mencerna keputusan Federal Reserve (The Fed) yang mempertahankan suku bunga serta sejumlah laporan kinerja perusahaan.
The Fed mempertahankan suku bunga pada Rabu (28/10) waktu setempat, sesuai dengan ekspektasi pasar.
Namun, perhatian investor lebih tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh yang dinilai sejumlah analis sedikit dovish.
Dalam konferensi pers setelah pertemuan, Warsh mengatakan kondisi keuangan dan kredit telah mengetat sejak The Fed menaikkan suku bunga bulan lalu.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa kebijakan moneter bank sentral mulai bekerja dan mendorong perekonomian menuju periode pertumbuhan yang lebih panjang dan berkelanjutan, sekaligus menjaga stabilitas harga.
Analis ANZ Research menilai Federal Open Market Committee (FOMC) kini berada dalam posisi untuk memantau data ekonomi sebelum menentukan langkah selanjutnya.
"FOMC kini berada dalam mode menunggu data. Meski tidak memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga pada Desember kemungkinan besar terjadi, opsi tersebut tetap terbuka dan diperkirakan pasar," tulis analis ANZ Research, seperti dikutip Dow Jones Newswires.
Pergerakan saham Asia juga dipengaruhi oleh laporan keuangan sejumlah perusahaan.
Indeks Nikkei Jepang naik 1 persen, sementara Kospi Korea Selatan turun 2,1 persen setelah saham Samsung Electronics merosot 5,2 persen.
Penurunan saham Samsung terjadi setelah produsen cip tersebut membukukan lonjakan laba kuartal III-2026, tetapi hasilnya masih di bawah ekspektasi konsensus.
Di kawasan lain, FTSE Straits Times Singapura naik 0,5 persen, Taiex Taiwan turun 1,1 persen, sedangkan indeks Hang Seng Hong Kong naik tipis 0,1 persen.
Di pasar obligasi, imbal hasil surat utang pemerintah mayoritas turun setelah keputusan The Fed. Imbal hasil US Treasury bertenor 10 tahun turun 4,2 basis poin, sedangkan tenor 30 tahun turun 3,78 basis poin.
Imbal hasil obligasi pemerintah Australia bertenor 10 tahun turun 3,3 basis poin dan Selandia Baru turun 3,2 basis poin. Sebaliknya, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun naik 0,6 basis poin.
Kerry Craig, global market strategist di J.P. Morgan Asset Management, mengatakan respons pasar terhadap keputusan The Fed terlihat dovish di pasar obligasi.
Namun, ekspektasi pengetatan kebijakan yang masih tercermin dalam harga pasar membuat imbal hasil obligasi kemungkinan bergerak dalam rentang tertentu, kecuali terdapat sinyal yang lebih jelas mengenai pengetatan yang lebih agresif atau perubahan arah menuju pemangkasan suku bunga.
Sementara itu, harga minyak berjangka turun, tetapi masih bertahan di atas USD100 per barel.
Warren Patterson, head of commodities strategy ING, dan Ewa Manthey, commodities strategist ING, mengatakan kenaikan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan pasar mulai memperhitungkan peluang eskalasi kembali konflik di Timur Tengah.
Menurut mereka, pasar minyak masih cenderung menunggu perkembangan lebih lanjut hingga pemilihan umum (pemilu) sela Amerika Serikat (AS) pada November untuk mendapatkan kejelasan mengenai situasi di Timur Tengah. (Aldo Fernando)






Komentar (0)