Merajut ekonomi sirkular dari limbah ternak di hulu Sungai Cikapundung

antaranews.com
6 jam lalu
Cover Berita
Bandung Barat (ANTARA) - Kabut pagi menyelimuti Desa Suntenjaya, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Di tengah udara dingin pegunungan, para peternak sapi perah memulai kesibukan mereka: membersihkan kandang dan menyiapkan pakan. Dari rutinitas harian inilah, susu terus mengalir menjadi tumpuan hidup warga setempat.​

Namun, ada bayang-bayang masalah di balik keberlanjutan usaha ini, yaitu kotoran ternak. Berada di hulu Sungai Cikapundung, limbah tanpa pengolahan berisiko tinggi mencemari sungai hingga area hilir. Di sisi lain, keterbatasan fasilitas menjadi kendala utama para peternak.

​Di tengah keresahan itu, Ketua Karang Taruna Motekar Kampung Sukaluyu, Atep Suhendar, justru melihat peluang. Ia menggagas ide untuk mengolah kotoran sapi menjadi biogas sebagai energi alternatif, sekaligus pupuk organik bagi sektor pertanian.

​Lewat program Nyaah ka Parahyangan yang berjalan sejak 2022, Atep dan kelompoknya mulai menerapkan konsep ekonomi sirkular. Mereka tak hanya berhasil menekan tingkat pencemaran lingkungan, tetapi juga menghadirkan nilai tambah yang kembali meningkatkan kesejahteraan warga Suntenjaya.

Baca juga: Hidup berdampingan dengan alam di KBA Suntenjaya



Mengalir ke Rumah​

Melalui skema Nyaah ka Cai, limbah kotoran dari kandang peternak kini tak lagi terbuang sia-sia. Bahan organik tersebut dikumpulkan dan disalurkan ke instalasi biodigester untuk diubah menjadi biogas.

​"Ada dua alat pengolahan biodigester, yang pertama 10 meter kubik dan kedua 4 meter kubik. Kalau ditotal, bisa mengolah sekitar 600 kilogram kotoran sapi," ujar Atep.

Dari kapasitas tersebut, biogas yang dihasilkan mampu mengalir dan dimanfaatkan secara langsung oleh enam rumah tangga di sekitar lokasi.

Warga memanfaatkan biogas yang dihasilkan dari pengolahan limbah ternak untuk memasak guna mengurangi ketergantungan LPG di Desa Suntenjaya, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. (ANTARA/Ilham Nugraha)

Hasil pengolahan tersebut kini dimanfaatkan enam rumah tangga sebagai sumber energi alternatif. Penggunaan biogas turut mengurangi konsumsi LPG dari semula dua hingga tiga tabung per bulan menjadi sekitar satu tabung, bahkan terkadang masih tersisa.

Atep menuturkan, biogas menjadi solusi ganda bagi warga. Selain menjaga lingkungan dari ancaman pencemaran di hulu Sungai Cikapundung, inovasi ini turut memperkuat ekonomi keluarga melalui penghematan biaya energi sehari-hari.

Perjalanan kotoran sapi tidak berakhir setelah biogas dihasilkan karena sebagian limbah peternakan juga diolah menjadi pupuk kandang dan vermikompos, dengan kapasitas pengolahan sekitar 150 kilogram kotoran sapi per hari.

Pupuk organik tersebut telah melalui pengujian laboratorium Universitas Padjadjaran dan dimanfaatkan untuk budidaya bayam Jepang, selada romaine, kopi, serta digunakan mendukung penanaman saninten sebagai bagian dari upaya konservasi lingkungan.

Peternak mengolah kotoran sapi menjadi pupuk organik di fasilitas pengolahan limbah ternak di Desa Suntenjaya, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, sebagai bagian dari pemanfaatan limbah peternakan untuk menghasilkan produk bernilai guna sekaligus mendukung kelestarian lingkungan. (ANTARA/Ilham Nugraha)

Pada lahan ujicoba yang dikembangkan, sekitar 100 tanaman selada romaine menghasilkan panen 15 kilogram, dengan potensi produksi hingga 50 kilogram.

Dari jumlah tersebut, sekitar 30 kilogram berpotensi dijual dengan harga Rp15.000 per kilogram, menghasilkan omzet Rp450.000 sekali panen atau Rp5,4 juta per tahun jika penjualan berlangsung setiap bulan.

“Dari sekitar 100 tanaman selada romaine, sekarang hasilnya sekitar 15 kilogram dan potensinya bisa sampai 50 kilogram. Kalau 30 kilogram terjual dengan harga Rp15.000 per kilogram, omzetnya bisa mencapai Rp450.000 sekali panen,” ujar Atep Suhendar.

Di sudut lain Desa Suntenjaya, program Nyaah ka Parahyangan yang didukung Pertamina membawa warna baru bagi para perempuan setempat. Sumiati dan 16 orang ibu lainnya berdaya bersama, mengubah susu segar menjadi ragam produk pangan bernilai jual tinggi.

​Rutinitas harian mereka yang mulanya hanya berkutat pada pekerjaan rumah tangga, membantu suami di kebun atau kandang, serta mengantar anak sekolah, kini bertambah produktif. Pengolahan susu ini terbukti menjadi alternatif jitu untuk mendongkrak pendapatan ekonomi rumah tangga.

“Kami awalnya membuat permen susu, kemudian berkembang menjadi cheese stick dan cireng susu. Sekarang kami memproduksi sesuai pesanan,” ujar Sumiati.

Seorang anggota kelompok usaha perempuan menunjukkan produk olahan susu berupa cheese stick yang dikembangkan di Desa Suntenjaya, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. (ANTARA/Ilham Nugraha)

Pemasaran produk olahan susu ini mengandalkan sistem pre-order (PO). Dalam sebulan, kelompok tersebut mematok target penjualan sebanyak 100 toples cheese stick dengan harga Rp25.000 per toples.​

Dapur produksi mereka pun kian efisien berkat pemanfaatan biogas sebagai bahan bakar utama. Kendati demikian, mereka tetap menyiagakan LPG sebagai cadangan tatkala pasokan biogas habis. Alhasil, kegiatan ekonomi produktif ini sukses memberi warna baru bagi kehidupan warga: mengubah potensi desa menjadi sumber pundi-pundi rupiah di tangan para ibu.




Sejak 2022

Program Nyaah ka Parahyangan yang digulirkan Pertamina AFT Husein Sastranegara sejak 2022 merupakan bentuk Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Program ini mengintegrasikan pengolahan limbah, pengembangan energi terbarukan, pemberdayaan UMKM, sektor pertanian, hingga konservasi lingkungan.

​Area Manager Communications, Relations & CSR Regional Jawa Bagian Barat PT Pertamina Patra Niaga, Eko Kristiawan (atau nama pejabat bersangkutan), menjelaskan bahwa program tersebut melibatkan peternak dalam pengelolaan limbah guna menghasilkan energi alternatif melalui subprogram Nyaah ka Cai.

​“Melalui Nyaah ka Cai, peternak mitra menyetorkan limbah peternakan sebagai bahan baku biogas. Kami mendorong regenerasi local hero, kemandirian kelompok, serta kemampuan masyarakat dalam mengoperasikan, merawat, dan menjaga aset bantuan secara berkelanjutan,” ujarnya.

Warga merawat tanaman percobaan dengan menggunakan pupuk olahan dari limbah ternak di Desa Suntenjaya, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, dengan latar fasilitas panel surya bantuan dari Pertamina. (ANTARA/Ilham Nugraha)

Selain itu, Pertamina juga menyalurkan dukungan berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kilowatt-peak (kWp) yang dilengkapi baterai penyimpanan 10 kilowatt-hour (kWh). Fasilitas ini dimanfaatkan untuk menopang operasional unit produksi pupuk organik, pusat pembelajaran (learning center), hingga kegiatan UMKM.

​Catatan Pertamina menunjukkan, program ini menyerap banyak tenaga kerja lokal: unit produksi pupuk organik Motekar melibatkan 23 orang, UMKM olahan susu 16 orang, dan Koperasi Buana Walatra Sejahtera sebanyak 24 orang. Dari sektor usaha yang berjalan, omzet bulanan yang tercatat meliputi UMKM olahan susu sebesar Rp3 juta–Rp4 juta, olahan kopi Rp5 juta–Rp10 juta, serta sektor pupuk dan kebun organik sekitar Rp3,5 juta per bulan.

Baca juga: Bappenas luncurkan CE SG untuk dorong transisi menuju ekonomi sirkular

​Tak berhenti pada dampak ekonomi, program ini turut mendukung konservasi pohon saninten (Castanopsis argentea) melalui penanaman dan pemeliharaan tanaman lokal. Pusat pembelajaran yang didirikan bahkan telah menyedot perhatian lebih dari 420 pengunjung yang berasal dari kalangan pelajar, akademisi, komunitas, hingga pelaku industri.

​Reno meyakini, keberlanjutan dari seluruh inisiatif ini sangat bergantung pada kemandirian masyarakat dalam mengelola bisnis sekaligus merawat fasilitas yang telah diberikan.



Merawat hulu-hilir

​Inovasi pengolahan limbah ternak di Suntenjaya kini menjadi tumpuan dalam merawat kawasan hulu Sungai Cikapundung. Selain menghidupkan ekonomi warga melalui biogas dan pupuk organik, langkah ini berdampak langsung pada pemulihan kualitas air sungai yang mengalir hingga ke kawasan hilir.

​Pemulihan ini menjadi kabar baik setelah Cikapundung sempat tertekan. Data DLH Kota Bandung mencatat status sungai ini berada di kategori cemar sedang pada 2016 (indeks 5,17) dan kembali mendekati ambang batas tersebut pada 2021 (indeks 4,98).

​Kabid PPKLH DLH Kota Bandung, Fiziarita, mengonfirmasi adanya tren positif tersebut.

“Secara umum, kualitas air Sungai Cikapundung menunjukkan perbaikan dibandingkan kondisi pada 2016 dan 2021. Namun, pengendalian pencemaran tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan agar kualitas air sungai tetap terjaga, baik di hulu maupun hilir,” tuturnya.

​Perbaikan tersebut terlihat dari Indeks Pencemaran yang konsisten bertahan di status cemar ringan sejak 2022. Bahkan, angka indeks meluncur turun dari 4,46 pada 2024 menjadi 1,96 pada 2025. Meski fluktuasi masih terjadi, tren penurunan ini menandai arah perubahan yang positif bagi kesehatan lingkungan Cikapundung.

Peternak mengolah kotoran sapi melalui instalasi biodigester di Desa Suntenjaya, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat. Pengolahan limbah ternak ini menghasilkan biogas dan mendukung pemanfaatan pupuk organik untuk kegiatan pertanian. (ANTARA/Ilham Nugraha)

Apresiasi senada disampaikan Ketua Dewan Daerah WALHI Jawa Barat, Dedi Kurniawan. Ia menekankan pentingnya pengolahan limbah ternak di kawasan hulu guna melindungi ekosistem Sungai Cikapundung secara keseluruhan.

​“Sangat penting ada pengolahan kotoran sapi di sana karena wilayah tersebut berada di kawasan aliran Sungai Cikapundung,” tegas Dedi.

​Ia menambahkan, keberlanjutan gerakan ini membutuhkan dukungan berupa pendampingan masyarakat, kelengkapan fasilitas, serta edukasi lingkungan yang konsisten agar dampaknya kian optimal.

​Dari Suntenjaya, limbah yang mulanya diabaikan kini menjelma menjadi sumber energi dan pundi-pundi rupiah. Lebih dari sekadar inovasi ekonomi lokal, upaya ini menjadi bukti nyata bahwa merawat hulu Sungai Cikapundung adalah tentang menjaga napas kehidupan masyarakat dari hulu hingga ke hilir.

Baca juga: Teknologi pengolahan sampah dari sumber kunci ekonomi sirkular

Baca juga: Pertamina dorong ekonomi sirkular lewat limbah pertanian di Tuban

Baca juga: Guwosari merajut ekonomi sirkular dari tumpukan sampah

Baca juga: Sampah harus punya alamat


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Demo 28 Oktober di Jakarta: 19 Orang Ditangkap, Petasan hingga Sajam Disita
• 2 jam lalu
0
thumb
Harga Emas Pegadaian Hari Ini 29 Oktober 2026, Antam Rp2,598 Juta per Gram, UBS dan Galeri24 Lebih Murah
• 1 jam lalu
0
thumb
Rudy Apresiasi Generasi Muda Inspiratif, Luncurkan Program Kontribusi Sosial 70 Tahun Astra
• 4 jam lalu
0
thumb
Polisi Tangkap Satu Orang Bawa Senjata Tajam saat Demo Ricuh di Malioboro Yogyakarta
• 6 jam lalu
0
thumb
Hakim Minta JPU Hadirkan Jokowi dalam Sidang Roy Suryo Terkait Kasus Ijazah
• 15 jam lalu
0
Berhasil disimpan.