Nyanyian, Puisi, dan Roti dari Ibu-ibu di Tengah Demo 28 Oktober

kompas.id
14 jam lalu
Cover Berita

Di tengah demonstrasi mahasiswa mengkritisi pemerintahan Prabowo Subianto, di sekitar Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Rabu (28/10/2026, lagu ”Indonesia Pusaka” dinyanyikan sejumlah perempuan yang tergabung dalam Aliansi Ibu Indonesia.

Di hadapan mereka, tersaji pula makanan kecil, dari kerupuk hingga roti, dibagikan cuma-cuma untuk demonstran. Lewat nyanyian dan makanan, para perempuan ini turut menyuarakan keresahan atas kebijakan pemerintah sekaligus menunjukkan solidaritas pada warga yang memperjuangkan hak-haknya.

Salah satu dari perempuan itu adalah, Annette Ellen Mau (47). Ia turun ke jalan mempertanyakan kebijakan pemerintah yang menurutnya belum berpihak kepada perempuan.

Baginya, perempuan bukan sekadar penerima manfaat program pemerintah, melainkan kelompok yang turut menanggung dampak ketika kebijakan tidak menjawab kebutuhan masyarakat.

Ellen menyoroti sejumlah persoalan, mulai dari kerusakan lingkungan, ketahanan pangan, hingga beban ekonomi dan perawatan keluarga. Ia menilai, ketika hutan rusak dan kebakaran terjadi, perempuan ikut menanggung akibatnya, baik melalui terganggunya sumber penghidupan maupun bertambahnya beban merawat anggota keluarga yang terdampak gangguan kesehatan.

“Katanya, pemerintah selalu memperjuangkan perempuan, tapi sebenarnya kita itu sangat direndahkan. Misalnya, ketika karhutla terjadi yang menanggung beban kerja perawatan keluarga yang paling berat adalah perempuan. Dan akses ekonomi perempuan terhadap lahan, terhadap tanah, terhadap pangan itu kemudian menjadi sangat kecil atau tertutup,” ungkap Annette.

Baca JugaKisah Tiada Akhir Karhutla

Dia juga menyayangkan masyarakat Indonesia yang menurutnya, masih memilih pemimpin berdasarkan popularitas dan gimik semata. Padahal, pemimpin ideal semestinya menawarkan program yang nyata, bukan sekadar pesona yang memikat mata.

“Kita sekarang sedang menanggung kelalaian kita memilih pemimpin, yang ternyata sukanya hanya joget-joget, yang enggak punya program, yang narasinya enggak ada, yang enggak pernah berbicara tentang rakyat,” lanjutnya.

Bagi Ellen, kegelisahan seperti itu tidak cukup berhenti sebagai percakapan di rumah atau perbincangan di media sosial. Ia bersama sekitar 20 perempuan lain memilih hadir di tengah demonstrasi untuk mendukung gerakan masyarakat yang menyuarakan tuntutan dengan menggalang donasi dan membagikan makanan kepada peserta aksi.

Di antara tuntutan yang menggema di jalanan, roti, pastel, tahu isi, dan aneka makanan ringan dibagikan kepada peserta demonstrasi. Air mineral turut diedarkan, menjadi bekal sederhana bagi mereka yang berkumpul untuk menyuarakan aspirasi.

Kelompok tersebut terdiri atas para ibu, perempuan yang belum menjadi ibu, dan elemen masyarakat lain yang bersimpati dan akhirnya ikut berpartisipasi. Selain menyanyi bersama, mereka membaca puisi di tengah demo mahasiswa.

Baca JugaDemo Mahasiswa di Jakarta Bawa Lima Tuntutan, Massa Tertahan Menuju Bundaran HI

Bagi Ellen, membagikan makanan bukan sekadar membantu peserta demonstrasi mengisi perut. Kehadiran mereka juga menjadi bentuk dukungan agar masyarakat dapat terus menyuarakan hak-haknya. “Kita ini rakyat bukan menuntut hal yang jauh. Kita menuntut hal yang hak kita,” ujarnya.

Udara dan air bersih, pendidikan berkualitas, serta jaminan kesehatan, menurutnya, bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar yang semestinya dipenuhi pemerintah. Begitu pula hak untuk merasa aman ketika menyampaikan pendapat, tanpa takut mengalami kekerasan, ditangkap, disiram air keras, atau dibungkam di ruang digital.

Bagi Ellen, menggalang dukungan masyarakat bukanlah perkara sulit. Masyarakat dari berbagai latar belakang, sangat siap untuk membersamai aktivitas ibu-ibu hari itu dengan memberikan sedikit dari pendapatan mereka.

Menurut dia, dukungan tersebut cukup menunjukkan bahwa warga memiliki kemampuan untuk saling membantu dan mengorganisasi diri dalam menyuarakan persoalan bersama.

Ia juga mengingatkan generasi muda agar tidak menganggap politik sebagai sesuatu yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Sebab, keputusan politik berpengaruh terhadap banyak hal, mulai dari makanan yang dikonsumsi, akses pendidikan, hingga layanan kesehatan dan kondisi lingkungan.

“Segala hal dalam hidup kita berkaitan dengan politik. Kita boleh tidak tahu, kita boleh memilih diam, tetapi kita tidak bisa menghindar dari dampaknya,” ujar Ellen.

Pengamanan ketat

Keresahan serupa juga membawa Ajeng (41) ke Bundaran HI. Ia menyatakan telah rutin mengikuti demonstrasi sejak 12 Juni 2026. Baginya, turun ke jalan berulang kali bukanlah sesuatu yang semestinya dilakukan warga jika pemerintah mampu menjawab persoalan yang mereka hadapi.

“Menurutku turun berulang kali bukan hal yang baik ya. Karena kan artinya negara kita tidak baik-baik saja,” ujar Ajeng.

Salah satu yang paling ia soroti ialah pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut ibu anak dua itu, meskipun tujuan program tersebut baik, pelaksanaannya masih menyisakan persoalan, sementara anggaran untuk kebutuhan lain, seperti mitigasi bencana dan pendidikan, juga tidak optimal digunakan karena ditarik untuk dana MBG.

Dampak kebijakan tersebut, menurut Ajeng, turut dirasakan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui kenaikan harga pangan. Ia mencontohkan harga ayam di Pagedangan, yang berdasarkan pengamatannya naik dari sekitar Rp 35.000 per kilogram saat libur sekolah menjadi Rp 40.000–Rp 45.000 per kilogram saat ini.

“Biaya hidup sama gaya hidup aja udah beda,” ujarnya. Ia menyayangkan ketika keluhan masyarakat mengenai kebutuhan pokok justru dianggap sebagai tuntutan untuk mempertahankan gaya hidup.

Selain persoalan kebijakan, Ajeng menyoroti ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi. Ia menceritakan, sempat didatangi polisi dan diminta berpindah lokasi, meskipun aksi belum dimulai.

Ajeng mempertanyakan alasan pengamanan ketat terhadap kelompok yang hanya ingin menyampaikan pendapat. “Di sini cuma ibu-ibu, pakai daster, enggak bawa senjata. Takut apa sih sama ibu-ibu?” katanya.

Berdasarkan pantauan Kompas, puluhan aparat kepolisian membentuk barisan mengelilingi kelompok ibu-ibu tersebut, membatasi ruang gerak mereka untuk mendekati Tugu Selamat Datang maupun jalan di sekitarnya.

Di tengah barisan aparat yang membatasi ruang gerak mereka, para perempuan itu tetap memilih hadir dan menyuarakan kegelisahan. Bagi mereka, kepedulian terhadap persoalan bangsa tak harus diwujudkan melalui orasi atau tuntutan besar. Nyanyian, puisi, dan makanan yang dibagikan menjadi cara sederhana untuk menunjukkan solidaritas. Di tengah berbagai persoalan yang mereka soroti, para perempuan itu ingin memastikan bahwa suara warga tetap terdengar dan hak untuk menyampaikannya tetap terjaga.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
BULOG Gerak Cepat Tertibkan Penyaluran Beras SPHP, Bentuk Satgas Khusus Perkuat Pengawasan Nasional
• 59 menit lalu
0
thumb
Massa Mahasiswa di Bundaran HI Bubar, Serukan Kawal Kebijakan Negara
• 22 jam lalu
0
thumb
Tangan Dingin Carlos Pena Bikin Persita Unbeaten hingga Pekan ke-7 BRI Super League
• 13 jam lalu
0
thumb
Laba Alphabet Turun 25 Persen, Pendapatan Iklan Google Tumbuh Melambat
• 11 jam lalu
0
thumb
Emiten Prajogo TPIA Tambah Dana Buyback Jadi Rp 2 T, Bakal Beli hingga Rp 3.000
• 11 jam lalu
0
Berhasil disimpan.