Harga emas cenderung mendatar pada Rabu (28/10/2026), di tengah kenaikan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi.
IDXChannel - Harga emas cenderung mendatar pada Rabu (28/10/2026), di tengah kenaikan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi.
Sementara pelaku pasar mencermati pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh setelah bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuannya sesuai ekspektasi.
Harga emas spot naik tipis 0,17 persen menjadi USD4.067,29 per troy ons.
The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75-4,00 persen seperti yang diperkirakan pasar.
Bank sentral memilih menunda perubahan biaya pinjaman hingga setelah pemilihan umum paruh waktu AS pekan depan, sembari menunggu data lebih lanjut mengenai arah inflasi.
Harga emas sempat bergerak relatif stabil setelah keputusan tersebut diumumkan. Namun, harga sempat berbalik menguat ketika Warsh berbicara dalam konferensi pers, sebelum kembali melemah.
"Imbal hasil Treasury jangka panjang bergerak naik karena pasar belum sepenuhnya puas dengan penjelasan Warsh mengenai keputusan mempertahankan suku bunga hari ini. Suku bunga yang lebih tinggi akan terus menekan emas. Saya tidak memperkirakan logam mulia mengalami aksi jual besar-besaran, tetapi ruang kenaikannya mungkin terbatas," kata trader logam independen, Tai Wong, seperti dikutip Reuters.
The Fed menaikkan penilaiannya terhadap kondisi ekonomi, meski mengakui inflasi masih berada pada level tinggi.
Dalam konferensi pers setelah keputusan tersebut, Warsh mengatakan bank sentral telah memperjelas kesiapan dan kesediaannya untuk bertindak.
Imbal hasil US Treasury 10 tahun terakhir naik 4,11 basis poin menjadi 5,034 persen.
Di sisi lain, harga minyak Brent naik lebih dari 1 persen setelah serangan terhadap kilang minyak di Arab Saudi kembali memunculkan kekhawatiran mengenai risiko gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah.
Kenaikan harga minyak dapat memperbesar tekanan inflasi dan mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga lebih tinggi. Kondisi tersebut mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Pelaku pasar kini menunggu data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis pada Kamis (29/10/2026) untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter The Fed.
Dalam jajak pendapat Reuters, para analis memangkas proyeksi harga logam mulia untuk 2026.
Penurunan tersebut mencerminkan ekspektasi permintaan yang lebih lemah, imbal hasil Treasury yang tinggi, serta dolar AS yang menguat. Namun, seluruh logam mulia diperkirakan kembali menguat pada 2027.
Dari China, impor bersih emas melalui Hong Kong pada September meningkat lebih dari 28 persen dibandingkan Agustus, mencapai level tertinggi dalam lima bulan.
Kenaikan tersebut didorong oleh aktivitas restocking menjelang libur Golden Week, dengan tambahan dukungan dari permintaan investor. (Aldo Fernando)






Komentar (0)