Kadin Dorong Penguasaan Teknologi Demi Percepat Hilirisasi Mineral Kritis

idxchannel.com
1 jam lalu
Cover Berita

Kadin Indonesia mendorong penguasaan teknologi untuk mempercepat hilirisasi mineral kritis dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.

Kadin Dorong Penguasaan Teknologi Demi Percepat Hilirisasi Mineral Kritis. (Foto: Tangguh Yudha/iNews Media Group)

IDXChannel - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong penguasaan teknologi untuk mempercepat hilirisasi mineral kritis dan meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri.

Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat industri nasional sekaligus mendorong Indonesia keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap).

Baca Juga:
Kadin Bidik Ekspor Mineral dengan Rusia, Harap Bisa Ubah Defisit Jadi Surplus Perdagangan

Ketua Umum Kadin Indonesia, Anindya Novyan Bakrie mengatakan, penguasaan teknologi menjadi salah satu faktor penting agar Indonesia tidak hanya bergantung pada aktivitas pertambangan dan produksi bahan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

Menurutnya, Indonesia perlu belajar dari keberhasilan Jepang, Korea Selatan, dan China dalam mengembangkan industri pengolahan sumber daya alam hingga menghasilkan produk akhir yang memiliki daya saing global.

Baca Juga:
Gandeng Delegasi Bisnis Rusia, Kadin Bidik Nilai Ekspor Naik Jadi USD500 Miliar

"Saya pikir apa yang telah kita lihat di Jepang, Korea, dan juga China adalah kemampuan bagaimana memproses mineral kritis atau sumber daya alam untuk menjadi end-user device. Dan untuk melakukan itu, kita butuh teknologi," kata Anindya dalam rangkaian acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta, Rabu, (28/10/2026).

Anindya menjelaskan penguasaan teknologi tidak harus sepenuhnya dimulai dari inovasi dalam negeri. Indonesia dapat terlebih dahulu mengadopsi teknologi dari luar, kemudian mengembangkan dan menyesuaikannya dengan kebutuhan industri nasional.

Baca Juga:
Bahlil Mau Stop Ekspor Gas ke Negara Tetangga, Kadin: Langkah yang Sangat Tepat

Dalam proses tersebut, Anindya menekankan pentingnya kerja sama dengan mitra internasional. Kemitraan internasional diperlukan agar industri dalam negeri dapat mempelajari teknologi hingga mampu mengembangkannya secara mandiri.

"Kita juga butuh mitra, karena misalnya dalam hilirisasi mineral kritis, kita butuh mitra untuk melakukannya sampai kita tahu cara belajar melakukannya sendiri. Dan tentu saja, kita butuh geopolitik untuk bekerja untuk kita," ujarnya.

Lebih lanjut, Anindya menyoroti struktur industri Indonesia yang selama ini dinilai masih memiliki kelemahan pada sektor pengolahan. Menurutnya, Indonesia telah memiliki kemampuan di sektor pertambangan, pertanian, dan manufaktur padat karya, tetapi perlu memperkuat industri yang menghubungkan bahan mentah dengan produk akhir.

"Kita telah menjadi penambang yang sangat baik, atau petani, kita telah menjadi penjahit yang baik, tetapi kita juga perlu memproses lebih banyak," ungkapnya.

Anindya menambahkan, transformasi industri berbasis teknologi menjadi semakin mendesak mengingat Indonesia memiliki waktu terbatas untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah.

Ia memperkirakan Indonesia perlu meningkatkan pendapatan per kapita dari sekitar USD5.000 menjadi USD14.000 dalam kurun waktu 20 tahun untuk mencapai status negara berpendapatan tinggi.

"Kita harus tumbuh dari USD5.000 per kapita menjadi sekitar USD14.000 per kapita dalam 20 tahun. Sekarang, 20 tahun adalah waktu yang lama, tapi kita hanya punya satu kesempatan untuk membuatnya," ucapnya.

Selain teknologi, Anindya menilai Indonesia membutuhkan tenaga kerja terampil, pembiayaan jangka panjang, serta pasar modal yang solid dan tepercaya untuk mendukung transformasi ekonomi.

"Saya pikir agar kita bisa keluar dari jebakan pendapatan menengah, kita butuh banyak orang, dan kita butuh untuk memikirkan bagaimana melatih mereka dengan cepat, karena dalam 20 tahun, di satu sisi mereka butuh pekerjaan, 4 sampai 5 juta pekerjaan, di sisi lain kita butuh banyak orang yang baik. Dan saya pikir kita juga butuh patient capital. Oleh karena itu, kemampuan untuk mempertahankan pasar modal yang solid dan tepercaya," kata dia.

(Febrina Ratna Iskana)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Sorak Riang Warga Serbia Rayakan Kekalahan Partai Penguasa
• 1 jam lalu
0
thumb
10 Saham Top Gainer Perdagangan Rabu 28 Oktober 2026, Ada HEAL dan KOPI
• 7 jam lalu
0
thumb
Lapor Prabowo, BRIN Sebut Limbah Sawit Bisa Hasilkan Listrik
• 18 jam lalu
0
thumb
Manchester United Mempertahankan Michael Carrick Jelang Laga Kontra Chelsea
• 20 jam lalu
0
thumb
KAI Minta Maaf Usai KRL Bablas Tak Berhenti di Stasiun Sudirman
• 45 menit lalu
0
Berhasil disimpan.