Aksi Demo Mahasiswa di Bundaran HI Dibayangi Merosotnya Nilai Tukar Rupiah ke Rp18.184

disway.id
1 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, DISWAY.ID – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan hingga menyentuh kisaran Rp18.184 per dolar AS pada Rabu, 28 Oktober 2026.

Pelemahan mata uang Garuda tersebut terjadi di tengah meningkatnya perhatian terhadap kondisi ekonomi Indonesia dan aksi demonstrasi mahasiswa bersama sejumlah elemen masyarakat di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta.

Berdasarkan pantauan di lokasi, aksi demonstrasi yang melibatkan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI), serta elemen masyarakat lainnya sempat memanas.

BACA JUGA:Demo Bundaran HI Ricuh! TNI AD Diterjunkan, Massa Dibubarkan dengan Gas Air Mata

Massa terlibat aksi dorong-dorongan dengan aparat ketika berupaya memasuki area utama Bundaran HI, tepatnya di sekitar Patung Selamat Datang.

Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyuarakan berbagai tuntutan, termasuk meminta pembebasan aktivis yang ditahan.

Mereka juga meneriakkan tuntutan agar Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka turun dari jabatannya.

Selain itu, massa mengangkat sejumlah persoalan, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga pengangguran.

BACA JUGA:Demo Besar Jakarta Bayangi IHSG, Begini Prediksi Analis meluas ke pasar modal Indonesia.

Ketegangan berlanjut di Jalan Imam Bonjol, dari sisi belakang kawasan Bundaran HI. Pada pukul 18.07 WIB, gas air mata ditembakkan saat aparat gabungan TNI-Polri berupaya membubarkan massa. Pembubaran di kawasan tersebut dipimpin langsung oleh Kapolda, dan massa akhirnya berhasil dibubarkan.

Sementara itu, di pasar keuangan, rupiah masih menghadapi tekanan dari sentimen eksternal.

Bank Indonesia (BI) menyebut sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah, mulai dari penantian keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed), evaluasi MSCI, hingga ketidakpastian konflik di Timur Tengah.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa memburuknya sentimen penghindaran risiko atau risk-off mendorong penguatan dolar AS dan arus keluar modal dari pasar negara berkembang.

"Sentimen risk-off yang memburuk mendorong penguatan USD dan arus keluar dana dari pasar negara emerging markets. Kondisi ini terjadi di tengah kenaikan yield obligasi," jelas Erwin kepada media secara daring, Rabu (28/10).

Erwin menambahkan, ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah turut memengaruhi pergerakan rupiah. Kondisi tersebut membuat harga minyak dunia bertahan di atas USD 115 per barel dan meningkatkan risiko fiskal ke depan.

  • 1
  • 2
  • »

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
IHSG Ditutup Menguat 0,31 Persen ke Level 5.282,31
• 4 jam lalu
0
thumb
Skema Syariah Mulai Ambil Porsi Besar di Koperasi Gadai Digital
• 22 jam lalu
0
thumb
Diguyur Gerimis, Massa Demo Bertahan di Depan Gedung UOB
• 1 jam lalu
0
thumb
Jalan Sudirman dan Thamrin di Sekitar Bundaran HI Ditutup Petang Ini
• 2 jam lalu
0
thumb
Mendagri minta 29 K/L percepat pemulihan pascabencana di Sumatera
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.