SINGAPURA -- Sekitar 150 meter di bawah Pulau Jurong, Singapura, terdapat gua-gua yang dipahat dari batuan granit di bawah dasar laut. Di situlah Jurong Rock Caverns (JRC), fasilitas penyimpanan minyak bawah tanah terbesar dan pertama di Asia Tenggara, berada.
Jurong Cavern menjadi terkenal menyusul kesepakatan antara pemerintah Singapura dan Kerajaan Arab Saudi pekan ini di Singapore International Energy Week (SIEW) 2026. Kesepakatan ini dua hari berselang setelah Menteri ESDM Indonesia Bahlil Lahadalia menegaskan akan mengurangi pasokan gas ke Singapura, menyusul kebutuhan industri dalam negeri.
Pernyataan Bahlil ini berdekatan dengan pernyataan sejumlah menteri Singapura terkait penyelidikan atas 10 perusahaan Indonesia yang berkantor di negeri merlion itu yang diduga terlibat kebakaran hutan yang menyebabkan asap pekan menyelimuti Singapura beberapa hari lalu.
“Hari ini, Arab Saudi dan Singapura mengumumkan niat bersama untuk membentuk pengaturan bagi minyak mentah Saudi,” kata Menteri Energi, Perdagangan, dan Industri Singapura Tan See Leng dalam Singapore Energy Lecture 2026, seperti dilansir Anadolu Agency.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Menurut Tan, pengaturan itu akan memperkuat ketahanan rantai pasok minyak mentah Saudi di Asia Tenggara sekaligus menopang ketahanan energi Singapura saat darurat pasokan. Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman, dalam video rekaman yang diputar di konferensi itu, mengatakan mendekatkan pasokan ke pasar utama Asia akan membuat jaringan pasok lebih fleksibel sekaligus menopang keamanan pasokan dan kesiapsiagaan Singapura. “Kami melihat potensi kerja sama ini untuk tumbuh lebih jauh,” ujar Abdulaziz.
Arab Saudi memang tengah mencari ruang penyimpanan di luar negeri. Awal bulan ini, CEO Saudi Aramco Amin Nasser mengatakan Riyadh sedang bernegosiasi dengan sejumlah pemerintah asing agar Aramco mendapat akses ke fasilitas penyimpanan.
Persoalannya memang pelik. Pasar energi dunia dalam beberapa bulan terakhir tertekan keras menyusul krisis di Teluk Hormuz yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat. Teluk Hormuz adalah salah satu nadi utama pengiriman minyak internasional dari kilang kilang di kawasan Arab. Ini kemudian diperparah serangan kelompok Houthi terhadap bandara dan infrastruktur energi Arab Saudi.
Pekerja melintas di salah satu bagian gua di Jurong Rock Cavern, Singapura. - (Jurong Trade Corp)
Singapura membidik proyek penyimpanan bawah tanah ini sudah sejak lama. Inisiasi proyeknya memang pada 2014, namun visi awal penyimpanan migas sudah jadi mimpi negara ini karena ketergantungan energi yang tinggi dari importasi.
Jurong Rock Caverns berada di kompleks petrokimia dan kilang di selatan Singapura. Menurut situs JTC, lembaga pemerintah Singapura pemilik fasilitas itu, gua bawah tanah tersebut mampu menampung hingga 1,47 juta meter kubik hidrokarbon cair, termasuk minyak mentah dan kondensat. Kapasitas itu setara sekitar 9 juta barel minyak, tulis Bloomberg.
JRC tercatat sebagai proyek pekerjaan umum bawah tanah terdalam di Singapura sejauh ini. Fasilitas itu terdiri atas empat gua berkapasitas masing-masing 330 ribu meter kubik dan satu gua berkapasitas 150 ribu meter kubik. Total daya tampungnya 1,47 juta meter kubik, setara 9 juta barel, untuk minyak mentah, kondensat, minyak gas, hingga nafta.
Setiap gua setinggi sekitar 27 meter, kira-kira setara gedung sembilan lantai. Untuk membuatnya, lebih dari 3,5 juta meter kubik batuan digali dan terowongan sepanjang sembilan kilometer dibangun di bawah Banyan Basin. “Tingginya sekitar sembilan lantai, gua batu tanpa pelapis, dengan air yang terus merembes lewat retakan. Tidak ada yang seperti ini,” kata Alan Ling, Principal Project Manager Divisi Proyek Infrastruktur JTC, seperti dikutip dari laman resmi JTC.
Pulau Jurong sendiri merupakan hasil reklamasi pada 1990-an, ketika Singapura menimbun dan menyatukan tujuh pulau kecil di lepas pantai selatannya. Luasnya menjadi tiga kali lipat dari semula 1.000 hektare. Saat ini sudah lebih dari 100 perusahaan global kini beroperasi di sana, dari kilang hingga pabrik petrokimia.
Saat meresmikan JRC pada 2014, Perdana Menteri Lee Hsien Loong menyebut investasi perusahaan di pulau itu sudah melampaui 47 miliar dolar Singapura. Lee mengakui biaya membangun penyimpanan minyak dan kondensat di bawah tanah sekitar 30 persen lebih mahal daripada mereklamasi lahan baru, dengan risiko yang juga besar.
Namun proyek itu tetap dijalankan karena membebaskan 60 hektare lahan di permukaan untuk fasilitas bernilai tambah lebih tinggi. “Enam puluh hektare cukup untuk menampung hingga enam pabrik petrokimia,” kata Lee.
Komentar (0)