Pemilu Serbia dan Brasil: Gelombang Antikemapanan Lintas Benua?

wartaekonomi.co.id
6 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pada Minggu, 25 Oktober 2026, dua pemilu di dua benua menghasilkan arah politik yang berbeda. Di Serbia, Student List (Daftar Mahasiswa) unggul atas koalisi yang dipimpin Aleksandar Vučić, tokoh yang mendominasi politik negara itu selama lebih dari satu dekade. Di Brasil, Presiden Luiz Inácio Lula da Silva justru terpilih kembali setelah sempat tertinggal dari Flávio Bolsonaro pada putaran pertama.

Apakah kedua hasil ini mencerminkan kecenderungan yang sama, atau justru menunjukkan batas penjelasan tentang gelombang antikemapanan?

Untuk menjawabnya, dua hal perlu dibedakan. Pemilih yang menghukum petahana karena kinerjanya belum tentu menolak sistem politik yang ada. Ini merupakan sentimen antipetahana. Sentimen antikemapanan melangkah lebih jauh: ketidakpuasan diarahkan kepada elite dan tata kekuasaan yang dianggap tertutup serta saling melindungi.

Penandanya dapat dikenali ketika dukungan berpindah kepada kekuatan di luar partai-partai yang lazim bergantian memerintah, atau ketika tuntutan bergeser dari perubahan kebijakan tertentu menjadi penolakan terhadap elite secara keseluruhan. Penanda tersebut tetap perlu dibaca bersama pesan kampanye dan alasan pemilih, bukan hanya berdasarkan hasil pemilu.

Dengan kerangka itu, perkembangan politik di sejumlah negara dapat digunakan untuk menguji seberapa jauh gelombang antikemapanan benar-benar meluas.

Penolakan terhadap Kelas Politik, dari Kanan dan Kiri

Jerman memperlihatkan dua bentuk tantangan terhadap partai arus utama dari arah ideologi yang berbeda. Pada September 2026, partai kanan jauh Alternative für Deutschland (AfD) meraih 43,8% suara dalam pemilu negara bagian Sachsen-Anhalt. Pada bulan yang sama, partai kiri Die Linke menjadi kekuatan terbesar di Berlin dengan 25,7% suara. Hasil resmi menunjukkan bahwa kedua partai tersebut memperoleh dukungan signifikan di wilayah masing-masing.

Die Linke memang pernah menjadi bagian dari pemerintahan Berlin. Karena itu, posisinya sebagai kekuatan antikemapanan tidak dapat disamakan begitu saja dengan AfD. Salah satu sumber dukungannya adalah tuntutan agar hasil referendum perumahan 2021, yang berkaitan dengan pengambilalihan perusahaan properti besar, ditindaklanjuti. Janji politik yang tidak terpenuhi dapat memperkuat persepsi bahwa partai-partai yang berkuasa gagal merespons tuntutan warga.

Meski berbeda ideologi dan rekam jejak, kedua partai menawarkan alternatif terhadap kekuatan politik yang selama ini mendominasi. Fragmentasi suara juga membuat pembentukan koalisi menjadi tantangan, terutama ketika partai-partai arus utama mempertahankan Brandmauer, yakni penolakan bekerja sama dengan AfD.

Di Prancis, Rassemblement National (RN) menjadi kelompok politik terbesar di Majelis Nasional setelah pemilu legislatif 2024. Partai ini memanfaatkan ketidakpuasan terhadap elite politik dan tuntutan perubahan kebijakan. Perkembangan hukum yang menyangkut Marine Le Pen turut memengaruhi dinamika politik menjelang pemilihan presiden 2027. Namun, status hukum terakhir dan implikasinya terhadap kelayakan pencalonan Le Pen perlu dibaca berdasarkan putusan pengadilan yang berlaku.

Ketidakpuasan terhadap pemerintah Prancis juga berkaitan dengan jarak antara besarnya belanja publik dan layanan yang dirasakan warga. Seperti dibahas dalam tulisan sebelumnya pada 20 Oktober 2026, persoalannya bukan semata-mata berapa besar anggaran yang dibelanjakan, melainkan apakah pengeluaran tersebut menghasilkan layanan dan perbaikan kesejahteraan yang nyata.

Italia memperlihatkan dinamika berbeda: apa yang terjadi ketika penantang kemapanan masuk ke pemerintahan? Giorgia Meloni memimpin pemerintahan sejak Oktober 2022, sementara Fratelli d'Italia tetap menjadi kekuatan politik utama. Setelah bertahun-tahun berkuasa, partai tersebut menghadapi persoalan yang lazim dialami pemerintah, yakni mempertanggungjawabkan hasil kebijakan dan memenuhi ekspektasi pendukungnya.

Di sisi kanan, muncul pula tantangan baru, termasuk dari Roberto Vannacci yang membangun kekuatan politik sendiri. Jika dukungan terhadap penantang baru terus berkembang, hal itu dapat menunjukkan bahwa masuknya sebuah gerakan ke pemerintahan tidak otomatis mengakhiri sentimen antikemapanan. Namun, perubahan dukungan dalam survei saja belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kekuatan baru telah menggantikan partai lama.

Kaum Muda sebagai Penggerak

Benang merah lain yang menonjol adalah peran generasi muda dalam mobilisasi politik. Pada Agustus 2024, protes mahasiswa di Bangladesh yang semula menentang sistem kuota pegawai negeri berkembang menjadi gerakan yang mengguncang pemerintahan dan berujung pada kepergian Perdana Menteri Sheikh Hasina dari negara itu.

Setahun kemudian, protes yang dipimpin kaum muda di Nepal, dipicu pemblokiran media sosial dan kemarahan terhadap korupsi, berkembang menjadi demonstrasi besar yang berujung pada pengunduran diri Perdana Menteri K.P. Sharma Oli. Dalam kedua kasus, tuntutan yang bermula dari persoalan tertentu meluas menjadi penolakan terhadap elite yang berkuasa. Di Nepal, kerusuhan juga menyebabkan pembakaran gedung parlemen.

Serbia menempuh jalur berbeda. Gerakan mahasiswa tumbuh dari protes antikorupsi setelah runtuhnya kanopi stasiun kereta Novi Sad pada November 2024. Gerakan tersebut kemudian berupaya menerjemahkan mobilisasi warga menjadi kekuatan elektoral. Hasil awal pemilu parlemen 25 Oktober 2026 menunjukkan Student List unggul atas daftar yang dipimpin Vučić. Perkembangan ini memperlihatkan bagaimana protes di luar lembaga politik dapat beralih menjadi persaingan melalui pemilu.

Di India, Cockroach Janta Party (CJP) menggunakan satire dan media sosial untuk membawa persoalan pengangguran, pendidikan, serta ketidakadilan ke dalam perdebatan publik. Gerakan ini menarik perhatian luas, tetapi tidak dapat disamakan dengan partai elektoral mapan. Sementara itu, di Prancis, aksi pelajar dan blokade sekolah pada Oktober 2026 menunjukkan bahwa ketidakpuasan generasi muda juga dapat mengambil bentuk protes langsung.

Kaum muda memiliki potensi menjadi penggerak karena sebagian dari mereka memiliki keterikatan lebih lemah dengan partai-partai lama dan menghadapi persoalan konkret, mulai dari pendidikan dan pekerjaan hingga perumahan. Namun, mobilisasi anak muda tidak otomatis mencerminkan sikap seluruh pemilih. Besarnya partisipasi dalam demonstrasi juga tidak selalu berujung pada perubahan politik melalui pemilu.

Teknologi informasi membantu menjelaskan mengapa mobilisasi dapat menyebar dengan cepat, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab ketidakpuasan. Media sosial menurunkan biaya koordinasi, sementara simbol dan taktik protes dapat berpindah lintas negara dalam hitungan hari. Salah satu contohnya adalah penggunaan bendera bajak laut dari serial One Piece dalam sejumlah aksi kaum muda sepanjang 2025.

Meski demikian, kecepatan penyebaran pesan tidak menggantikan kebutuhan akan organisasi. Mobilisasi digital dapat meningkatkan tekanan terhadap pemerintah, tetapi keberhasilan gerakan Serbia dalam pemilu juga bergantung pada kemampuannya membangun jaringan, merumuskan tuntutan, dan mengubah dukungan sosial menjadi suara.

Brasil sebagai Batas Tesis

Brasil menjadi pengingat bahwa ketidakpuasan terhadap petahana tidak selalu menghasilkan kemenangan bagi kekuatan politik baru.

Lula merupakan petahana, sedangkan kubu Bolsonaro, yang tampil sebagai penantang dalam pemilu 2018, kini menjadi salah satu blok politik mapan dengan basis pendukung kuat. Dalam pemilihan presiden 2026, persaingan kembali berlangsung di antara dua kekuatan lama tersebut.

Pada putaran pertama, Flávio Bolsonaro unggul atas Lula. Namun, pada putaran kedua 25 Oktober, Lula membalikkan keadaan dan terpilih kembali dengan 51,79% suara sah, sedangkan Flávio Bolsonaro memperoleh 48,21%. Dengan demikian, kemenangan Lula tidak dapat dibaca sebagai bukti sederhana bahwa pemilih menolak perubahan atau bahwa gelombang antikemapanan telah surut.

Hasil itu dapat mencerminkan penilaian terhadap kinerja pemerintahan, penerimaan terhadap kebijakan petahana, penolakan terhadap lawan, atau kombinasi berbagai pertimbangan tersebut. Untuk menentukan faktor yang paling menentukan, diperlukan bukti lebih lanjut, termasuk survei pemilih dan analisis pergeseran suara antarputaran.

Yang jelas, tidak muncul penantang baru di luar dua kekuatan utama yang berhasil mengambil alih persaingan elektoral. Dalam konteks ini, hasil Brasil membatasi tesis bahwa gelombang antikemapanan selalu mengarah pada kemenangan politik di luar elite yang telah dikenal.

Struktur politik turut memengaruhi ke mana ketidakpuasan mengalir. Sistem dua putaran di Brasil, organisasi partai, kepemimpinan, respons aparat, dan kredibilitas pemilu membentuk arena tempat pilihan politik diterjemahkan menjadi hasil. Struktur tersebut tidak menentukan apakah ketidakpuasan muncul, tetapi memengaruhi bagaimana ketidakpuasan itu disalurkan.

Tiga Skenario hingga Akhir 2027

Hingga akhir 2027, setidaknya terdapat tiga skenario yang dapat digunakan untuk membaca perkembangan gelombang antikemapanan.

Skenario A — Penyerapan. Partai-partai mapan menyerap tuntutan perubahan dan menunjukkan hasil yang dapat dirasakan warga. Dalam skenario ini, tekanan antikemapanan mereda tanpa harus membuat para penantang mengambil alih pemerintahan. Ukurannya bukan sekadar perubahan retorika, melainkan perbaikan konkret dalam layanan publik, kesempatan kerja, perumahan, dan pemberantasan korupsi.

Skenario B — Pergiliran. Penantang memperoleh kekuasaan di lebih banyak negara, tetapi kemudian menghadapi tuntutan kinerja yang sama dengan pendahulunya. Pengalaman Meloni menunjukkan pertanyaan yang perlu diajukan terhadap setiap gerakan yang berkuasa: apakah mereka mampu memenuhi janji yang membawa mereka ke pemerintahan, dan bagaimana mereka merespons kekecewaan pendukungnya?

Skenario C — Kebuntuan. Dukungan politik makin terfragmentasi, koalisi sulit terbentuk, dan pemerintah kesulitan mengambil keputusan. Dalam kondisi ini, ketidakpuasan tidak menghasilkan pergantian kekuasaan yang stabil maupun perbaikan kebijakan. Fragmentasi politik di Jerman dan dinamika koalisi di Prancis menjadi konteks penting untuk mengamati risiko tersebut.

Peralihan di antara ketiga skenario itu dapat diamati melalui beberapa indikator. Skenario kebuntuan menguat jika partai-partai gagal membentuk koalisi yang stabil dan konflik politik terus menghambat pengambilan keputusan. Skenario pergiliran memperoleh momentum jika kekuatan penantang berhasil merebut jabatan eksekutif dan kemudian diuji oleh tuntutan kinerja. Sementara itu, skenario penyerapan membutuhkan bukti bahwa perbaikan nyata dirasakan warga sebelum pemilu berikutnya.

Pemilihan presiden Prancis 2027 akan menjadi salah satu ujian penting bagi RN, yang belum pernah memimpin pemerintahan nasional. Di Serbia, tantangan berikutnya adalah apakah gerakan yang lahir dari mobilisasi warga dapat mengubah kemenangan elektoral menjadi pemerintahan yang mampu memenuhi tuntutannya. Adapun pemilu sela Amerika Serikat pada 3 November 2026 dapat menjadi indikator tambahan, tetapi hasilnya perlu dibaca berdasarkan identitas, agenda, dan posisi politik para kandidat yang menang, bukan sekadar label oposisi.

Gelombang Antikemapanan Tidak Bergerak Seragam

Hasil pemilu Serbia dan Brasil pada hari yang sama memperlihatkan bahwa ketidakpercayaan terhadap elite dapat mengarah pada hasil politik yang berbeda. Di Serbia, gerakan mahasiswa berhasil membangun dukungan elektoral untuk menantang kekuatan yang telah lama mendominasi politik. Di Brasil, pemilih tetap menentukan presiden melalui persaingan antara dua kubu yang telah lama dikenal.

Karena itu, antipetahana dan antikemapanan tidak boleh diperlakukan sebagai dua istilah yang identik. Kekalahan petahana bisa menjadi bentuk hukuman atas kinerja, sedangkan kemenangan penantang belum tentu berarti penolakan terhadap seluruh sistem politik. Untuk memahami arah perubahan, hasil pemilu harus dibaca bersama tuntutan warga, struktur persaingan, dan kapasitas gerakan politik.

Pesan antikemapanan dapat membawa sebuah gerakan menuju kekuasaan. Namun, mempertahankan kepercayaan merupakan tantangan yang berbeda. Setelah berkuasa, gerakan tersebut harus menunjukkan bahwa perubahan yang dijanjikan benar-benar menghasilkan perbaikan yang sebelumnya dituntut para pendukungnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kapolri Dorong Penggunaan Body-Worn Camera saat Kawal Penyampaian Aspirasi
• 5 jam lalu
0
thumb
Mahasiswa Gelar Orasi, Lalin Kawasan Bundaran HI Terpantau Sepi
• 5 jam lalu
0
thumb
BRIN Kembangkan 4 Kandidat Vaksin Malaria, Target Riset Dipercepat hingga 3 Tahun
• 12 jam lalu
0
thumb
Simak! Ini 5 Poin Hasil Kedatangan Menlu Singapura ke RI
• 21 jam lalu
0
thumb
Wamendagri Bima Arya: Sinkronisasi Pusat dan Daerah Percepat Pembangunan
• 4 jam lalu
0
Berhasil disimpan.