Hadapi Banyak Tantangan, Gus Ipul Kumpulkan Kepala Sekolah Rakyat se-Indonesia

kumparan.com
1 jam lalu
Cover Berita

Setahun lebih berjalan, dinamika Sekolah Rakyat semakin penuh tantangan lantaran latar belakang siswa sangat beragam serta kompleksitas sistem pendidikan berasrama.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan dinamika yang ada dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat harus mendapatkan penanganan tepat. Untuk itu diperlukan konsolidasi, penguatan tata kelola, serta monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan.

"Saya hari ini sekali lagi bertemu dengan seluruh kepala sekolah rakyat yang datang dari berbagai daerah untuk melakukan konsolidasi," ujar Gus Ipul usai kegiatan Penguatan Kapasitas Manajerial Kepala Sekolah dalam Penyelenggaraan Sekolah Rakyat di Swiss-belhotel Waterfront Makassar, Selasa (27/10/2026).

Dalam kesempatan ini Gus Ipul menegaskan dia bersama Wamensos Agus Jabo Priyono memberi atensi khusus terhadap perkembangan-perkembangan yang ada di sekolah rakyat.

"Karena kita tahu bahwa tantangan dan dinamika di sekolah rakyat memang perlu mendapatkan penanganan yang baik," katanya.

Dia menyebut selain latar belakang yang berbeda, hampir seluruh siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga rentan dengan luka sosial yang selama ini dipendam. Mereka juga sebagian kurang terdidik karena belum mendapatkan akses pendidikan yang baik. "Kadang juga ada pola asuh yang tidak sesuai, sehingga anak-anak ini memiliki kebiasaan yang berbeda-beda," jelasnya.

Selanjutnya ada juga di antara mereka adalah korban kekerasan. Juga ada yang menghadapi masalah-masalah mental. "Semuanya ini harus didampingi dengan penuh empati," tuturnya.

Dengan kondisi semacam ini tantangan selanjutnya adalah membuat mereka setara sehingga dapat mengikuti proses pendidikan dan pembentukan karakter dengan baik. Maka dari itu setiap siswa yang masuk sekolah rakyat diawali dengan tes kesehatan, lalu dilakukan rehabilitasi di sentra-sentra Kemensos jika dibutuhkan, sebelum mengikuti proses pembelajaran.

Di saat bersamaan jumlah siswa terus bertambah seiring perkembangan Sekolah Rakyat yang tersebar di 182 titik di seluruh Indonesia, untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Anak-anak SD berkutat dengan masalah kemandirian, anak SMP dengan masa-masa pubernya, dan anak SMA yang beranjak dewasa.

"Jadi banyak masalah, banyak dinamika, yang ini terus berusaha kita dekati dengan cara yang baik, dengan cara yang sesuai prosedur, mengikuti norma, tetapi juga menghormati, menghargai siswa-siswa itu sebagai manusia," katanya.

Kendati demikian, Gus Ipul bersyukur secara keseluruhan penyelenggaraan Sekolah Rakyat hingga kini berjalan lancar. Baik dari sisi peserta didik, kurikulum pembelajaran, sarana prasarana, tenaga kependidikan serta fasilitas penunjang lainnya.

"Kekurangan-kekurangan terus kita benahi, termasuk mencukupi kebutuhan guru, wali asrama, dan wali asuh," ucapnya.

Terakhir Gus Ipul berpesan kepada para kepala sekolah untuk serius menyiapkan hilirisasi peserta didik sejak dini. Hasil tes talent DNA harus dijadikan rujukan dalam mempersiapkan siswa menjadi tenaga kerja terampil atau melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya.

Wamensos Agus Jabo Priyono menambahkan, penting untuk menyamakan persepsi baik di kalangan internal maupun eksternal, yaitu orang tua siswa untuk meminimalisir dinamika-dinamika di lapangan. Dia juga menekankan pentingnya sebuah sistem yang mapan agar tujuan utama memutus mata rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan dapat tercapai.

"Jadi, ruhnya itu. Bahwa sekolah rakyat adalah pendidikan formal dan karakter. Ini yang membedakan kita dengan sekolah-sekolah reguler," ujarnya.

Senada, Sekjen Kemensos M Hasan Chabibie memaparkan pentingnya berpedoman pada sistem agar penyelenggaraan Sekolah Rakyat dapat berjalan optimal. Menurut dia, hal ini bukan perkara sulit karena sudah ada pedoman sistem pendidikan nasional. Namun sistem ini tidak akan ada artinya tanpa dukungan SDM profesional.

"Kalau tidak didukung oleh semangat akan menyerah, tanpa pasukan tidak takut mati dan tidak takut lapar, ini pasti tidak bisa berjalan dengan baik," katanya.

Selanjutnya untuk hilirisasi, dia menyatakan perlu ada pendekatan personalized learning, pendidikan vokasi serta kolaborasi dengan perguruan tinggi. Dengan demikian, siswa setelah lulus dapat melanjutkan pendidikan atau memiliki keterampilan kerja mumpuni.

"Pendekatan vokasi bisa dikejar sama-sama dengan seluruh Politeknik yang ada di seluruh Indonesia. Saya sudah izin, sebelum saya pindah ke sini untuk kemudian bisa berkomunikasi dengan semua kampus, dan semua Politeknik di seluruh Indonesia untuk bisa membantu bersama-sama membesarkan sekolah rakyat," tutupnya.

Turut hadir dalam kegiatan ini Dirjen Perlindungan dan Jaminan Sosial Agus Zainal Arifin, Dirjen Rehabilitasi Sosial Supomo, Dirjen Pemberdayaan Sosial Mira Riyati Kurniasih, para staf ahli menteri, staf khusus menteri, tenaga ahli menteri, para kepala biro, serta kepala sekolah rakyat se-Indonesia.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Hadapi Era Post-Quantum Cryptography, Telkom Siapkan Ekosistem Digital Indonesia
• 2 jam lalu
0
thumb
Sinopsis Film Laut Bercerita 2026, Pemain dan Jadwal Tayang di Bioskop
• 21 jam lalu
0
thumb
Pramono Tolak Usulan Tiket Ancol Gratis untuk Semua Warga, Sebut Biaya Perawatan Jadi Pertimbangan
• 2 jam lalu
0
thumb
5 Makanan Anti-Penuaan untuk Perempuan Usia 40-an
• 15 jam lalu
0
thumb
Perluas Wawasan Global, Universitas Nusa Mandiri (UNM) Gelar Edutrip Ketiga ke Luar Negeri
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.