Keterampilan menenun kian langka di masyarakat. Generasi muda perlu didorong untuk mau belajar dan semakin melek untuk melestarikan budaya. Inilah yang diupayakan oleh Azizah Songket Prabumulih.
Kumparan mewawancarai Evan Stiawan (9/10), salah satu pemilik Azizah Songket yang menangani desain dan produksi. Azizah Songket memperkenalkan keahlian menenun sekaligus melihat peluang bisnis dari keterampilan tersebut.
Usaha asal Prabumulih, Sumatera Selatan, ini menjadi salah satu UMKM binaan Pertamina yang hadir di INACRAFT October Vol. 5 2026, Jakarta International Convention Center (JICC).
Evan bercerita bahwa ia ikut belajar menenun dari para perajin. Ia ingin memahami proses yang menjadi dasar usahanya, lalu mengenalkannya kepada anak-anaknya sendiri.
“Karena saya punya anak, saya salurkan mereka. Mereka belum tentu mau jadi penenun. Tapi mereka harus tahu menenun,” ujarnya.
Harapan serupa ia bawa kepada keluarga penenun. Ketika mengetahui ada anak yang sudah tidak bersekolah dan belum bekerja, Evan mendorongnya anak-anak para penenun yang sudah tidak lagi bersekolah atau bekerja untuk belajar dari generasi sebelumnya. Harapannya, keahlian menenun dapat diteruskan sekaligus menjadi bekal untuk mencari penghasilan.
Upaya menjaga keterampilan itu berjalan bersama keinginan Azizah Songket Prabumulih mengembangkan karya yang memiliki ciri khas daerahnya. Menurut Evan, songket perlu terus memiliki pembuat, identitas, dan pembeli agar usahanya dapat berlanjut.
Merawat Keterampilan, Mengembangkan Identitas PrabumulihAzizah Songket Prabumulih tumbuh sebagai usaha keluarga. Gagasan membangunnya berawal dari Yanti, istrinya, dan Eva, adiknya. Ia kemudian ikut merancang motif, sementara pengelolaan usaha lebih banyak ditangani Yanti.
Usaha tersebut mulai berdiri sekitar 2010. Ketiganya melihat peluang untuk menghadirkan songket dengan identitas Prabumulih. Mereka ingin mengembangkan kreasi yang mencerminkan kota tempat tinggalnya meski songket sudah lekat dengan Palembang.
“Makanya kita menciptakanlah motif nanas untuk Kota Prabumulih,” katanya.
Nanas dipilih karena identik dengan Prabumulih. Motif itu kemudian menjadi bagian dari koleksi Azizah Songket, yang kini telah memiliki sekitar 20 motif.
Demi menjalankan proses produksi, Azizah Songket mendatangi warga yang memiliki keterampilan menenun.
“Mereka yang punya kemampuan itu tadi kita datangi, apa masalahnya, apa yang bisa kita buat supaya mereka bisa kerja,” ujarnya.
Hubungan dengan para perajin menjadi bagian penting dalam perjalanan Azizah Songket. UMKM ini menyadari usahanya bergantung pada keterampilan orang-orang yang membuat kain tersebut.
“Saya menyejahterakan mereka dengan apa yang mereka kerjakan. Dan mereka menyejahterakan kita dengan karya yang mereka punya. Saya enggak bisa berdiri sendiri,” ujar Evan.
Dukungan Pertamina dan Peluang dari Generasi MudaAzizah Songket mendapat dukungan Pertamina berupa bantuan benang dan perlengkapan, pelatihan, serta kesempatan pameran. Evan menyebut kemitraan tersebut sudah dimulai sebelum 2010 dan diresmikan pada tahun itu.
Salah satu dukungan yang paling dirasakannya adalah pelatihan pewarnaan alam. Melalui pengetahuan tersebut, Azizah Songket mengembangkan warna dengan memanfaatkan bahan dari lingkungan sekitar. Beberapa tanaman pewarna juga ditanam dan dipelihara sendiri.
Pertamina turut membantu pengurusan hak cipta motif. Pihak pembina mendorongnya mengajukan perlindungan atas rancangan yang dibuatnya.
“Kata yang bina saya, kenapa enggak dihak ciptakan kalau ini memang karya Bapak,” ujarnya.
Tiga motif Azizah Songket telah memperoleh hak cipta, yaitu Cantik Manis Nanas, Papan Sekeping Nanas, dan Seinggok Nanas. Dukungan itu membantu memperkuat identitas karya yang mereka kembangkan.
Dukungan terhadap Azizah Songket memang menjadi bagian dari upaya Pertamina mendorong UMKM berbasis budaya agar terus naik kelas.
“Kami ingin membantu pelaku usaha menemukan pasar yang lebih luas agar mereka bisa terus berkarya, melibatkan lebih banyak perajin, dan memberi ruang bagi generasi muda untuk ikut mengembangkannya,” ujar Vice President Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron.
Kesempatan mengikuti pameran juga membuka pertemuan dengan pembeli. Saat mengikuti Trade Expo Indonesia bersama Pertamina, misalnya, Evan berkenalan dengan pembeli asal Spanyol yang kemudian memesan 200 lembar jumputan warna alam untuk dijadikan selendang.
Sementara itu, INACRAFT menjadi tempatnya mengamati perkembangan selera konsumen. Tahun ini, Evan melihat anak muda mulai mencari songket dan jumputan, termasuk warna biru dan peach. Ia juga memperhatikan minat terhadap kain yang sudah diolah menjadi pakaian serta produk siap pakai.
Pengamatan tersebut mendorongnya menyiapkan pengembangan koleksi agar pembeli memiliki lebih banyak pilihan untuk menggunakan karya Azizah Songket.
“Insya Allah, INACRAFT tahun depan kita datang dengan bahan dan produk jadi,” katanya.






Komentar (0)