Waspadai Masa Paceklik Jagung di Tengah Tingginya Harga Pakan

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS – Masa paceklik jagung tengah berlangsung dan berpotensi semakin panjang jika El Nino berlangsung hingga awal triwulan I-2027. Kondisi itu dapat menyebabkan harga pakan unggas yang sudah mahal menjadi kian mahal. Untuk itu, ketersediaan jagung dan bungkil kedelai impor dengan harga terjangkau menjadi kuncinya.

Masa paceklik jagung di Indonesia berlangsung pada Oktober-Januari. Biasanya, pada periode tersebut, produksi jagung nasional turun cukup signifikan dibandingkan dengan Februari-Maret dan Juni-Juli.

Guru Besar Fakultas Pertanian IPB University Dwi Andreas Santosa, Rabu (28/10/2026), mengatakan, kondisi itu dapat menyebabkan musim tanam (MT) I jagung mundur. Produksi jagung pipilan kering berkadar air 14 persen secara nasional pada 2026 juga berpotensi turun sekitar 5 persen dari capaian produksi pada 2025 yang sebanyak 16,11 juta ton.

“Apabila pemerintah tetap mengandalkan produksi jagung dalam negeri di tengah kondisi itu, harga jagung berpotensi kian meningkat atau tetap tinggi hingga Maret 2027. Harga jagung di tingkat petani berkadar air di bawah 25 persen bisa di atas Rp 7.500 per kilogram (kg),” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta.

Apabila pemerintah tetap mengandalkan produksi jagung dalam negeri di tengah kondisi itu, harga jagung berpotensi kian meningkat atau tetap tinggi hingga Maret 2027.

Dwi yang juga Ketua Umum Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI) juga tidak yakin dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) tentang potensi kenaikan produksi jagung nasional pada Januari-November 2026. Di tengah terbatasnya sumber-sumber air akibat dampak El Nino yang terjadi bersamaan dengan musim kemarau, produksi jagung pasti turun.

Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area Jagung Amatan Agustus 2026, BPS memperkirakan, produksi jagung pipilan kering berkadar air 14 persen pada Januari-November 2026 sebanyak 15,35 juta ton. Potensi produksi itu naik sebesar 1,56 persen dibandingkan dengan realisasi produksi jagung pada Januari-November 2025 yang sebanyak 15,12 juta ton.

Menurut Dwi, kondisi tersebut tidak tercermin di lapangan. Berdasarkan pemantauan jaringan AB2TI yang tersebar di 123 kabupaten dan kota di Indonesia, ketersediaan jagung di sejumlah sentra justru terbatas.

Harga jagung di tingkat petani juga meningkat tajam di kisaran Rp 7.500-Rp 8.500 per kg atau di atas harga pembelian pemerintah (HPP) jagung yang ditetapkan Rp 5.500 per kg. Di Madura, misalnya, harga jagung di tingkat petani sempat tembus Rp 8.500 per kg.

“Harga jagung di dalam negeri itu juga jauh di atas harga jagung impor setelah dihitung biaya pengiriman yang sekitar Rp 5.000-Rp 5.500 per kg,” katanya.

Baca JugaDi Balik Referen ”Katanya Swasembada Jagung Pakan”

Pengamat peternakan yang juga Presiden Forum Peternak Layer Nasional (FPLN) Musbar Mehdi juga berpendapat senada. Masa paceklik jagung berpotensi semakin panjang apabila El Nino berlangsung hingga awal triwulan I-2027. Kondisi itu bisa memengaruhi produksi dan harga jagung pakan dalam negeri.

Dalam formulasi pakan ayam, komposisi jagung pakan paling besar, yakni sekitar 50 persen. Komposisi terbesar kedua adalah bungkil kedelai (SBM) impor, yakni sekitar 25 persen.

“Jika masa paceklik jagung semakin panjang atau musim tanam I jagung mundur, maka harga jagung bisa semakin mahal. Sementara harga SBM, bergantung kondisi global dan nilai tukar rupiah,” kata Musbar ketika dihubungi dari Jakarta.

Sejak April 2026, peternak ayam petelur mengeluhkan tingginya harga bahan baku pakan ayam di tengah anjloknya harga telur di tingkat peternak. Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Petelur Nasional mencatat, harga jagung pipilan kering berkadar air 15 persen tembus Rp 7.500-Rp 8.000 per kg.

Harga jagung tersebut jauh di atas harga pembelian pemerintah (HPP) jagung di tingkat petani Rp 5.500 per kg. Sementara harga SBM impor yang tinggi membuat harga konsentrat pakan menembus Rp 9.000-Rp 9.500 per kg. Sebelumnya, harga konsentrat tersebut berkisar Rp 7.200-Rp 7.500 per kg (Kompas, 8/10/2026).

Baca JugaGeger Harga Telur dan Pakan Ayam

Menurut Musbar, pakan merupakan komponen pengeluaran terbesar bagi para peternak ayam. Agar mereka tidak terbebani kenaikan harga pakan, pemerintah perlu menyediakan jagung pakan dan SBM impor dengan harga yang terjangkau.

Sejumlah upaya yang sudah digulirkan pemerintah perlu terus dilanjutkan hingga harga telur di tingkat peternak kembali normal. Beberapa upaya itu seperti penyaluran jagung pakan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) seharga Rp 5.500 per kg dan SBM seharga Rp 8.630 per kg.

“Bersamaan dengan itu, pemerintah juga perlu mengatasi rendahnya harga telur di tingkat peternak—yang katanya akibat overproduksi—dengan mencarikan beberapa alternatif pasar,” katanya.

Merujuk Statistik Perusahaan Peternakan Unggas 2025, BPS menyebutkan, pakan merupakan pengeluaran terbesar perusahaan peternakan unggas. Dari total nilai pengeluaran perusahaan peternakan unggas di seluruh Indonesia pada 2025 yang mencapai Rp 25,306 triliun, sebesar 64,26 persen berupa total pengeluaran pakan.

Dalam statistik itu, BPS juga mencatat, produksi telur unggas dalam setahun terakhir justru turun 25,05 persen. Produksi telur unggas pada 2024 tercatat sebanyak 485.603 ton, sedangkan pada 2025 sebanyak 363.959 ton.

Baca JugaWajah Muram Perunggasan dan Hilirisasi Ayam Terintegrasi
Upaya-upaya pemerintah

Sementara itu, pemerintah menyebut ada anomali harga telur ayam. Bersamaan dengan itu, pemerintah juga berupaya mengatasi kenaikan harga pakan dan rendahnya harga telur ayam di tingkat peternak, serta membenahi hulu-hilir perunggasan.

Menteri Pertanian yang juga Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Andi Amran Sulaiman, Senin (26/10/2026), menyebut ada kesenjangan harga telur di tingkat peternak dan konsumen. Harga telur di tingkat peternak berada di kisaran Rp 20.000-Rp 21.000 per kg atau di bawah harga acuan pembelian yang dipatok Rp 26.500 per kg.

Adapun di tingkat konsumen, harga telur tembus di kisaran Rp 40.000-Rp 45.000 per kg. Harga tersebut di atas harga acuan penjualan telur di tingkat konsumen yang ditetapkan Rp 40.000 per kg.

“Neraca produksi-konsumsi telur surplus. Bahkan, Indonesia bisa mengekspor telur. Ironisnya, harga telur di tingkat peternak di bawah harga acuan, sedangkan di tingkat konsumen justru di atas harga acuan. Ini merupakan anomali,” ujarnya melalui siaran pers di Jakarta.

Pemerintah menugaskan Bulog untuk menyalurkan jagung SPHP tahap I dan II masing-masing sebanyak 241.900 ton dan 150.000 ton. Total alokasi itu hampir delapan kali lipat dari alokasi jagung SPHP pada 2025 yang sebanyak 51.200 ton.

Amran juga menduga ada middleman atau pedagang perantara yang menyebabkan harga telur di tingkat peternak dan konsumen menjadi tidak wajar. Pemerintah tidak akan membiarkan praktik yang merugikan peternak dan konsumen tersebut terus berlangsung.

“Kami bersama Satuan Tugas Pangan Polri akan mengungkap pihak-pihak yang diduga mempermainkan rantai distribusi tersebut,” kata Amran.

Dalam pertemuan dengan sejumlah pemangku kepentingan terkait perunggasan di Kementerian Pertanian di Jakarta, Selasa (27/10/2026), Amran membeberkan sejumlah upaya pemerintah untuk mengatasi persoalan tersebut. Pertemuan itu melibatkan perwakilan Perum Bulog, serta koperasi, kelompok peternak, gabungan kelompok peternak dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, DI Yogyakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Menurut Amran, upaya pertama adalah menyiapkan langkah jangka pendek melalui penyediaan bahan baku pakan ayam, yakni SBM dan jagung, bagi para peternak ayam rakyat. Untuk SBM, pemerintah menyalurkannya dengan harga Rp 8.630 per kg, lebih rendah dibandingkan harga swasta yang berkisar Rp 10.000-Rp 12.000 per kg.

Sementara untuk jagung, pemerintah telah menugaskan Bulog untuk menyalurkan jagung program SPHP tahap I dan II masing-masing sebanyak 241.900 ton dan 150.000 ton. Total alokasi tersebut hampir delapan kali lipat dari alokasi jagung SPHP pada 2025 yang sebanyak 51.200 ton.

Baca JugaHarga Produk Peternak Ayam Belum Pulih, Jagung Pakan Masih Mahal

Kedua, lanjut Amran, telur di tingkat peternak bakal diserap oleh Bulog dan ID Food, serta program Makan Bergizi Gratis dengan harga wajar. Ketiga, pemerintah tengah membangun sistem terintegrasi (closed system) yang menghubungkan petani jagung dengan peternak melalui koperasi.

Keempat, memperkuat produksi jagung pakan. Salah satunya dengan mengulirkan dan menyiapkan anggaran untuk pengadaan benih jagung pakan pada 2026 dan 2027 masing-masing senilai Rp 300 miliar.

“Kebutuhan jagung pakan bagi peternak sekitar 1,8 juta ton. Untuk itu, kami menargetkan pengembangan penanaman jagung hingga 300.000 hektar untuk memperkuat pasokan,” katanya.

Baca JugaAmerika Khawatir Kebijakan Pakan Unggas RI Hambat Perdagangan

Kelima, Amran menambahkan, pemerintah bakal membangun tiga pabrik tepung telur bersama badan usaha milik negara. Pabrik tersebut diharapkan dapat meningkatkan penyerapan telur, serta memperkuat industri pengolahan hasil peternakan dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan impor tepung telur.

Pada 9 Oktober 2026, Amran mengungkapkan total nilai investasi awal pembangunan ketiga pabrik tersebut sekitar Rp 200 miliar-Rp 250 miliar. Pabrik yang bakal dibangun pada 2027 itu diperkirakan kelar dalam satu setengah tahun hingga dua tahun.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
BRIN Miliki Empat Kandidat Vaksin Malaria, Prabowo Minta Kebut Proses Riset
• 18 jam lalu
0
thumb
Emil Audero Dapat Kabar Baik usai Sempat Dicadangkan Rayo Vallecano di Pentas Copa del Rey
• 6 jam lalu
0
thumb
Foto: Warga Meksiko Bersiap Menyambut Hari Orang Mati
• 21 jam lalu
0
thumb
Prabowo Instruksikan BRIN Perkuat Riset Identifikasi Rambatan Api Cegah Karhutla
• 18 jam lalu
0
thumb
Utamakan Ketahanan Energi Nasional
• 9 jam lalu
0
Berhasil disimpan.