Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan Rabu (28/10/2026) pagi, memperpanjang koreksi menjadi tiga hari berturut-turut.
IDXChannel - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan Rabu (28/10/2026) pagi, memperpanjang koreksi menjadi tiga hari berturut-turut.
Tekanan jual kembali membayangi pasar setelah penguatan 4 hari beruntun di pekan lalu, menyusul guncangan akibat rencana evaluasi status Indonesia oleh MSCI dari pasar berkembang (emerging market) menjadi standalone market.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG turun 1,27 persen ke level 5.199,44 pada pukul 10.15 WIB.
Sebanyak 530 saham melemah, 170 saham menguat, dan 263 saham stagnan.
Nilai transaksi mencapai Rp4,87 triliun dengan volume perdagangan 11,16 miliar saham.
Tekanan terutama datang dari saham-saham konglomerasi, termasuk Grup Barito dan Sinarmas.
Sejumlah saham perbankan besar juga terkoreksi, meski BBCA bergerak berlawanan arah dengan menguat 3,57 persen.
Aksi jual investor asing belakangan ini turut membebani indeks.
Pada perdagangan Selasa (27/10), asing mencatatkan jual bersih (net sell) Rp708,88 miliar di pasar reguler.
Sejak gejolak pasar pada 16 Oktober, ketika MSCI mengumumkan konsultasi terkait perubahan klasifikasi Indonesia, akumulasi net sell asing mencapai Rp13,46 triliun.
BRI Danareksa Sekuritas menilai IHSG sebelumnya mengalami technical rebound dari area 4.900-5.000.
Namun, momentum penguatan mulai melemah setelah indeks membentuk pola bearish engulfing di area resistensi.
Kini, IHSG mendekati area support Fibonacci 0,5-0,618 di kisaran 5.118-5.182.
Area tersebut sebelumnya beberapa kali memicu pemulihan indeks, ditandai dengan penolakan harga bawah (lower-wick rejection).
Menurut BRI Danareksa, peluang technical rebound masih terbuka selama IHSG mampu bertahan di atas area support tersebut.
Sebaliknya, jika support ditembus, risiko koreksi lanjutan perlu diwaspadai. Adapun resistance terdekat berada di kisaran 5.266-5.455.
Dari sisi sentimen, pelaku pasar menanti rilis kinerja emiten kuartal III-2026, kebijakan BEI mengenai pengecualian saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (high shareholder concentration/HSC) dari perhitungan IHSG mulai 2 November, serta keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Kamis (29/10) dini hari WIB.
Konsensus memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga di level 3,75-4,00 persen.
Namun, meningkatnya tekanan inflasi turut memunculkan ekspektasi kebijakan yang lebih ketat pada Desember.
Jika The Fed memberikan sinyal lebih hawkish, dolar AS berpotensi menguat dan menambah tekanan terhadap rupiah serta pasar saham negara berkembang.
Tekanan domestik juga membayangi prospek IHSG.
Phintraco Sekuritas menyoroti proyeksi Fitch Ratings yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat di bawah 5 persen pada semester II-2026.
Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini diperkirakan maksimal 5,2 persen, di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen.
Fitch menilai dampak dukungan fiskal pemerintah berpotensi memudar setelah belanja terkonsentrasi pada semester I-2026.
Konsumsi masyarakat juga diperkirakan melambat pada sisa tahun ini, seiring tingkat keyakinan konsumen yang lebih rendah dibandingkan awal tahun.
Phintraco menilai ketidakpastian yang tinggi membuat investor cenderung memilih strategi perdagangan jangka pendek.
Selain prospek ekonomi domestik, tekanan juga datang dari harga minyak yang masih tinggi, potensi kenaikan suku bunga The Fed pada Desember, pelemahan rupiah, kenaikan credit default swap (CDS) tenor lima tahun Indonesia, serta meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah.
Antisipasi terhadap potensi rebalancing indeks MSCI pada November turut menjadi perhatian investor. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.






Komentar (0)