Camino de Flores, Kisah Lembut Bunga dan Keras Batu di Flores

kompas.id
1 jam lalu
Cover Berita

Laju kaki Susy, ekspatriat asal China terhenti sejenak di turunan Taman Nasional Kelimutu menuju Desa Waturaka, Ende, Nusa Tenggara Timur. Rasanya, ia ingin berhenti lalu naik mobil saja.

Tanpa menunggu lama, perasaan itu segera ditepisnya jauh-jauh. Susy justru mengingat sapaan warga dan sambutan meriah di setiap persinggahan wisata religi Camino de Flores.

Cara itu ternyata cukup ampuh. Keletihannya perlahan reda. Apalagi jalan kaki dari satu lokasi ke lokasi lain membuatnya lebih dekat dengan alam dan warga.

"Saya sudah pernah ke Labuan Bajo dan Manggarai. Tapi kali ini berbeda. Saya sangat menikmati perjalanan karena ada di tengah alam dan bercengkerama dengan banyak warga lokal," ujar Susy sambil membetulkan posisi kaki dan sepatunya, Senin (26/10/2026).

Susy awalnya terkejut. Banyak warga, khususnya anak-anak menyapa "Selamat pagi, selamat siang, halo mister, halo miss atau mau ke mana" di sepanjang perjalanan 70 kilometer melintasi Ngada, Nagekeo, dan Ende.

Sapaan itu sebenarnya lazim sebagai kesopanan. Namun, rombongan Camino de Flores seakan mendapat dukungan moril sekaligus semangat untuk melangkah sampai tujuan akhir.

"Saya akan merekomendasikan teman-teman untuk ikut kegiatan seperti ini. Ternyata sangat menyenangkan walaupun melelahkan," kata Susy sambil tertawa.

Oleh-oleh cabai padi

Ia sangat menikmati perjalanan selama 23-27 Oktober. Dia mengawalinya dari Taman Wisata Rohani Maria Ratu Semesta Alam Wolowio dan Beiposo. Selanjutnya, perjalanan menuju Kampung Bena dengan Sa'o (rumah tradisional) dan batu megalitik.

Di sepanjang perjalanan, keindahan Gunung Inerie menemani hingga perjalanan sejauh 20 kilometer (km) ke Gako di Nagekeo, menyusuri garis Pantai Nangapanda dan lokasi terakhir di Kelimutu, Ende.

Pangan tradisional pun termasuk favoritnya selama perjalanan. Nasi kacang, nasi jagung, sayur mayur, dan tak lupa sambal. Susy bahkan berencana memborong cabai padi, jenis lokal, sebagai oleh-oleh. Sensasi pedas dari lombok seukuran bulir padi itu cocok di lidahnya.

Kiky, pekerja kantoran di Jakarta merasakan hal serupa. Ia sudah beberapa kali ke Flores, tetapi lebih sering di Labuan Bajo, Manggarai Barat.

"Ternyata daerah lain tidak kalah bagus dari Labuan Bajo," kata Kiky.

Jalan kaki membuatnya lebih dekat dengan alam dan warga Flores, terutama mendengar cerita-cerita di baliknya. Salah satu tentang kisah Gunung Inerie. Gunung berapi kerucut dengan ketinggian 2.245 meter di atas permukaan laut itu punya arti ine (ibu) dan rie (cantik), ibu yang cantik.

Gunung Inerie dipilih sebagai logo Camino de Flores. Kemegahannya dinilai mewakili jalan kaki menyusuri situs religi, desa wisata, lanskap alam, serta tradisi budaya yang tumbuh di tengah kehidupan masyarakat Flores.

Kiky juga berulang kali memuji tenun ikat. Keceriaannya bertambah lantaran rombongan mendapat oleh-oleh tenun ikat Ende dari warga dan pemerintah daerah.

Baca JugaCamino de Flores, Merawat Harapan dan Memulihkan NTT Pascagempa
Baca JugaSinggah Sejenak Mencecap Keramahtamahan Kampung Bena di Ngada

Camino de Flores juga menunjukkan realita di balik keindahan alam dan keramahan warga. Flores dalam pemulihan pascagempa magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026 dan bergelut dengan banyak soal.

Uskup Agung Ende Mgr Paulus Budi Kleden SVD mengingatkan sisi lain Nusa Bunga itu saat misa penutupan di Gereja Katedral Kristus Raja Ende, Senin malam. Camino de Flores memberikan banyak kesempatan menatap keindahan Flores, tetapi juga membuka mata tentang kesukaran warga.

Ia menganalogikan perjalanan sejauh 70 km itu dengan jalan berbunga. Aroma bunga kopi, kebun atau ladang ditumbuhi padi dan kakao, lereng bukit dipenuhi cengkeh dan kemiri, serta keberanian pelaut Flores adalah contohnya.

Beban warga NTT

Jalan yang dilalui rombongan juga masuk ke desa-desa adat. Semuanya tertata rapi, mencerminkan peradaban yang tinggi. Namun, di balik itu Camino de Flores membuka mata, menyelami kedalaman hati orang Flores yang tabah menghadapi berbagai kesulitan dalam hidup.

Satu di antaranya adalah banyak harapan yang runtuh bersamaan dengan robohnya bangunan rumah karena gempa bumi. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendata tujuh kabupaten terdampak gempa Flores dengan korban tewas sebanyak 156 jiwa dan lebih dari 1.000 orang terluka.

Dampak lainnya yakni, 99.214 rumah rusak. Sebanyak 26.092 rumah di antaranya rusak berat, 22.525 rumah rusak sedang, dan 50.597 rumah rusak ringan.

"Kiranya Camino de Flores, jalan berhiaskan bunga membuka mata hati untuk melihat kuntum yang terlalu cepat layu. Orang-orang muda kehilangan harapan di tanah sendiri, anak-anak dan perempuan jadi korban tindak pidana perdagangan orang, anak-anak remaja tinggal sendirian memeluk mimpi tentang papa dan mamanya di tanah rantau," ucap Budi.

Nusa Tenggara Timur termasuk enam besar provinsi termiskin di Tanah Air. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan persentase penduduk miskin turun dari 20,99 persen pada Maret 2021 ke 18,60 persen pada Maret 2025.

Dalam periode yang sama, jumlah penduduk miskin berkurang dari sekitar 1,17 juta orang menjadi 1,09 juta orang. Kendati begitu, tingkat kemiskinannya masih jauh di atas rata-rata nasional.

BPS mencatat persentase penduduk miskin Indonesia pada Maret 2025 sebesar 8,47 persen. Artinya, tingkat kemiskinan di Nusa Tenggara Timur pada periode yang sama lebih dari dua kali lipat angka nasional.

Camino de Flores, lanjut Budi, kiranya membantu Flores dalam usaha lepas dari beban yang menindih. Warga tertekan program penguasa, praktik rentenir juga terus dibiarkan, seperti pinjaman daring (online), koperasi harian dan mingguan yang sungguh menjerat bahkan anak pulau ini cemas lantaran bumi tempat berpijak terancam eksploitasi geotermal.

Oleh sebab itu, penziarahan di Ngada, Nagekeo, dan Ende bukanlah perlombaan untuk secepatnya mencapai tujuan atau sebuah festival semata. Jalan ziarah justru mendekatkan pada bumi yang bukan sekadar faktor produksi untuk dieksploitasi, melainkan ibu yang memberi kehidupan dan perlu dihormati serta dirawat.

”Flores sebagai Nusa Bunga janganlah digadaikan untuk kepentingan lain. Hal itu penting agar kopi tetap berbunga, padi di ladang dan sawah berbulir, serta petani masih tersenyum,” tutur Budi.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Syahrini Tak Mau Lepas Tangan Urus Anak, Rela Latihan Konser Usai Si Kecil Tidur hingga Dini Hari
• 47 menit lalu
0
thumb
Polisi Dalami Motif Pembacokan Suporter Bola hingga Tewas di Bogor
• 8 jam lalu
0
thumb
Stok Minyak Sawit Malaysia Tembus 3,51 Juta Ton, Tangki Mulai Penuh
• 3 jam lalu
0
thumb
Pimpinan KPK Usul Rampas Harta Pejabat yang Tidak Dimasukkan dalam LHKPN
• 19 jam lalu
0
thumb
Yandri Susanto Ungkap Desa Ekspor Jadi Capaian Prabowo-Gibran, Pendapatan BUMDes Tembus Rp28 Miliar
• 5 jam lalu
0
Berhasil disimpan.