Mari Elka Pangestu, Dekade Ketujuh dan Jalan Kaki 70 Km di Flores

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Jarum jam menunjukkan pukul 10.08 Wita saat Mari Elka Pangestu akhirnya sampai di Puncak Danau Kelimutu, Ende, Nusa Tenggara Timur. Butuh waktu hampir satu jam baginya untuk memijak tangga terakhir. Sesuatu yang tak mudah bagi seseorang berusia 70 tahun.

Langkah kaki Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional ini belum usai. Ia harus turun guna melanjutkan jalan kaki ke Desa Waturaka. Perjalanan ke desa wisata alam itu tak kalah sulit. Jalannya menurun dan berkelok.

Mari akhirnya tiba di desa sekitar pukul 15.00 Wita. Ia pun merampungkan perjalanan sejauh 13 kilometer (km) pada Senin (26/10/2026).

"Yang membuat saya sangat bahagia dan bersyukur, ulang tahun ke-70 berjalan dengan tekad 70 km. Itu merupakan berkat, termasuk sehat jiwa dan raga," tutur Mari, Senin malam saat penutupan Camino de Flores.

Camino de Flores adalah jalur peziarahan di NTT. Digelar perdana tahun ini, rutenya Ngada–Nagekeo–Ende sepanjang 70 km, 23-27 Oktober 2026. Pesertanya 70 orang dari berbagai komunitas.

Mari adalah inisiator perjalanan ini. Dia terinspirasi Camino de Santiago, jalur peziarahan yang membentang sejauh 790 km dan diakhiri di Katedral Santiago de Compostela. Katedral yang dibangun pada tahun 1211 ini diyakini sebagai makam Santo Yakobus, salah satu murid Yesus.

Mari, Utusan Khusus Presiden Bidang Perdagangan Internasional dan Kerja Sama Multilateral itu, juga bersyukur jalan kaki perdana ke setiap rute dari Bajawa hingga Ende berlangsung dengan lancar. Setiap peserta juga mendapat pengalaman dari kacamata masing-masing.

Ia sampai merinding atas sambutan umat Gereja Santo Fransiskus Asisi Gako, Nagekeo. Umat tetap bahagia di tengah gereja yang rusak akibat gempa magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026.

Mari dan rombongan disambut dengan sangat ramah. Mereka diterima sampai ke dalam rumah, termasuk disajikan pangan lokal.

"Buat saya hal yang paling berkesan adalah bertemu, berbicara dengan masyarakat sepanjang jalan, termasuk anak-anak. Kami merasakan kedekatan dengan Flores," kata Mari.

Baca JugaCamino de Flores, Merawat Harapan dan Memulihkan NTT Pascagempa
Baca JugaSemua Melebur di Camino de Flores
Gayung bersambut

Gagasan tentang wisata jalan kaki yang menghubungkan berbagai situs religi, desa wisata, lanskap alam, serta tradisi budaya ini bak gayung bersambut. Selain kolega, Kementerian Pariwisata dan Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores merespons positif ide tersebut.

Pemerintah daerah pun demikian. Hasilnya adalah sambutan meriah diterima rombongan di setiap persinggahan. Semua ini tak lepas dari kerja keras tim di lapangan. Ada survei, dukungan logistik, fisioterapi, dan sebagainya.

"Enggak mungkin saya bisa lanjut ke hari berikutnya kalau saya tidak difisioterapi," seloroh Mari.

Lima hari Camino de Flores sangat berkesan baginya. Kepanasan, kulit gosong, kaki pincang, dan pegal menjadi rutinitas karena harus berjalan kaki.

Meski begitu, semuanya sirna ketika pagi menyingsing. Rasanya ada semangat baru, ditambah kekuatan dari doa bersama dan akhirnya 70 km terselesaikan.

"Tapi intinya saya akan terus memberi kembali. Dan tentu melihat Flores, melihat apa yang bisa dibantu dan diberikan walaupun penggalangan dana mungkin bukan sesuatu yang besar, tetapi seberapa pun akan ada gunanya," ucap Mari.

Mari berharap Camino de Flores bisa berlanjut pada tahun-tahun yang akan datang. Tentunya dengan penyesuaian di sana-sini agar kian baik.

Peluang

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena juga berharap Camino de Flores bisa digelar setiap tahun dengan kemasan lebih istimewa. Ia meminta Mari tetap menjadi inisiator acara sarat pesan religi ini.

"Menteri Pariwisata, Uskup, dan pemerintah daerah akan bersama-sama menyukseskan agenda ini," ujar Melki, Senin malam.

Ia bertolak dari pengalaman Pemprov Jakarta. Ajang lari diikuti puluhan ribu peserta dengan perputaran ekonomi hingga Rp 165 miliar. Acara konser juga sama. Kehadiran penyanyi top dunia menggerakan perputaran uang sampai Rp 615 miliar.

"Saya membayangkan kalau Flores bisa mengembangkan potensinya, demikian pula pulau lain maka akan baik," kata Melki.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Kronologi Lengkap Kasus Pembunuhan Sadis di Kota Madiun, Ibu dan Balita Tewas di Tangan Ayah | BERUT
• 20 jam lalu
0
thumb
Danantara Buka Opsi Akuisisi Pabrik Tekstil, Ini Pertimbangannya
• 23 jam lalu
0
thumb
IHSG Hari Ini Diprediksi Bergerak ke 5.116–5.180, Cek Menu Saham Berikut
• 11 jam lalu
0
thumb
Jadwal Siaran Langsung Persib Vs Melbourne Victory, Perebutan Puncak Klasemen AFC Champions League 2 Malam Ini
• 6 jam lalu
0
thumb
Biaya Logistik Jadi Tantangan RI untuk Alihkan Impor BBM dari Singapura
• 19 jam lalu
0
Berhasil disimpan.