Indonesia dinilai perlu berinvestasi dalam akal imitasi (AI) untuk membantu pemerintah mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) lebih dini. Teknologi AI berpotensi mendeteksi perubahan iklim dan titik api lebih awal, sehingga dapat menghemat anggaran negara.
Director AI Partnerships Google APAC Harsh Dhand mengatakan, investasi AI perlu diarahkan ke strategi sektor-sektor sesuai kebutuhan Indonesia, mulai dari pendidikan, kesehatan, pertanian, hingga iklim.
"Sebagai contoh, Indonesia saat ini sedang kesulitan dengan karhutla yang berdampak pada hilangnya harta benda dan lainnya. Jika kita bisa menggunakan AI untuk mendeteksi variasi iklim dan titik api lebih awal, pemerintah bisa menghemat banyak anggaran," kata Harsh Dhand dalam salah satu sesi Danantara Technology Innovation Investment Forum (TIIF) 2026, Selasa (27/10).
Menurut Harsh Dhand, pemerintah perlu mengidentifikasi sektor yang dapat memberikan tingkat pengembalian investasi atau return on investment (ROI) maksimal dari penerapan AI. Dengan demikian, kemitraan antara proyek-proyek besar pemerintah dan perusahaan dapat diarahkan ke sektor yang memberikan manfaat optimal.
“Jika kita dapat mengidentifikasi pengeluaran AI sektor mana yang memiliki laba atas investasi maksimum, di situlah kemitraan antara proyek-proyek besar pemerintah dan perusahaan dapat diarahkan,” ujarnya.
Selain iklim, Harsh Dhand menyoroti potensi pemanfaatan AI di sektor kesehatan dan pertanian. Di bidang kesehatan, ia mencontohkan investasi AI dalam bidang onkologi, perawatan pasien kanker, hingga pengobatan yang dipersonalisasi.
Sementara itu, sektor pertanian dinilai memiliki peluang pengembangan AI karena masih menjadi salah satu tulang punggung Indonesia.
Sebelumnya, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria mengatakan instansi tengah memperbarui sistem deteksi dini dengan teknologi AI. Langkah ini bertujuan meningkatkan kemampuan pemerintah dalam memprediksi karhutla dan mendeteksi kebakaran pada tahap awal.
“Sekarang kami akan terus memperbarui AI yang semakin canggih untuk bisa mengantisipasi kebakaran hutan lebih dini lagi,” kata Arif pada bulan September.





Komentar (0)