Pemulihan pascabencana di Provinsi Sumatera Barat terus gencar dilakukan di bawah koordinasi Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera. Salah satu prioritas utama pemulihan ialah percepatan pemulihan layanan dasar. Di antaranya, melalui pelaksanaan pekerjaan rehabilitasi fisik gedung sekolah.
Di Kota Padang, salah satu kegiatan penanganan fisik dilaksanakan di SDN 04 Baringin, Kelurahan Baringin, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. Rehabilitasi gedung ini memiliki tingkat urgensi sangat mendesak menyusul kerusakan parah akibat terjangan banjir dan lumpur. Saat bencana melanda pada November 2025, luapan air bercampur material lumpur pekat menggenangi seluruh ruangan kelas dan fasilitas sekolah.
Guru PAI SDN 04 Baringin, Asrul Huda, menuturkan, saat hujan sering terjadi banjir yang membawa lumpur hingga menggenangi seluruh ruangan sekolah.
"Ketika hari hujan sekolah memang sering banjir. Waktu kejadian November air lebih besar dengan material banjir seperti lumpur. Lumpur tersebut menggenangi seluruh ruangan sekolah, termasuk infrastruktur dan sarana prasarana di sekolah. Pasca kejadian dilakukan gotong royong pembersihan, oleh guru, Damkar, BPBD, relawan, Polisi dan TNI. Pasca kejadian siswa sempat libur sekolah karena gedung tidak bisa digunakan selama dua minggu," ujar Asrul Huda.
Genangan lumpur membuat gedung sekolah tidak dapat digunakan. Untuk kegiatan belajar, para murid terpaksa menumpang sementara di fasilitas lain . Asrul Huda menjelaskan bahwa kebijakan zonasi dan keterbatasan gedung mengharuskan pembagian jam belajar di sekolah penampung.
"Di SDN 30 Air Dingin siswa belajar di gedung baru. Siswa belajar dua shift, SDN 04 Baringin kebagian shift siang hari. Proses belajar-mengajar tidak terganggu, hanya lokasinya lebih jauh, ," jelas Asrul
Kondisi lapangan per Rabu (21/10/2026) memperlihatkan adanya akselerasi pengerjaan. Dinding bangunan penuh plesteran semen dan warna dominan merah-putih tampak samar di tengah pengerjaan.
Pintu gerbang dipasangi rambu pengaman, sementara di pekarangan terlihat tumpukan material pasir, bata, kaleng cat, serta peralatan kerja tukang. Seluruh pekerjaan ditargetkan selesai tuntas pada pertengahan November 2026 agar kegiatan belajar mengajar kembali normal.
"Rehabilitasi SDN 04 Baringin memperoleh dukungan anggaran rehabilitasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sebesar Rp1.3 miliar," kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang, Yopi Krislova.
Anggaran itu mencakup perbaikan ruang kelas, ruang administrasi, penataan lingkungan sekolah, hingga pemulihan sarana penunjang.
Dengan adanya rehabilitasi ini, orang tua murid turut merasa lega.
Wali murid kelas 4, Linda Yosova (47), mengatakan rehabilitasi SDN 04 Baringin membuat ruang belajar lebih aman dan menjadi bentuk perhatian pemerintah terhadap pendidikan di daerah.
"Waktu kejadian banyak lumpur, sekolah terendam, proses pembersihan dilakukan oleh dinas terkait hingga polisi. Lumpur tinggi sepinggang, air deras, material banjir. Kami sangat bersyukur sekolah ini diperbaiki oleh Pemerintah, anak lebih aman belajar. Karena dulu setiap kali hujan dan air mulai menggenang, para siswa sudah dipulangkan. Bahkan para siswa main air dengan ban kendaraan seperti berenang,” kata Linda.
“Alhamdulilah. Besok melepas anak ke sekolah sudah merasa aman," sebut Linda.
Pelaksanaan pemulihan sarana pendidikan di Sumatera Barat merujuk pada prinsip dan kerangka kerja dokumen Rencana Induk Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (Renduk PRRP) Sumatera 2026–2028.
Renduk mengedepankan prinsip Build Back Better, Safer, and Sustainable melalui keterpaduan mekanisme koordinasi lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah. Renduk memadukan proses bottom-up hasil Kajian Kebutuhan Pascabencana (Jitupasna) dari dokumen Rencana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (R3P) kabupaten/kota dengan kebijakan top-down nasional.
Pada Tahap Rehabilitasi (Tahun 2026–2027), sasaran utamanya adalah menormalkan kembali aktivitas pemerintahan, pelayanan dasar, dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat secara cepat. Khusus pada bidang pendidikan, arah kebijakan menetapkan pemenuhan layanan pendidikan pulih secara optimal, berkesinambungan, serta tangguh terhadap risiko bencana.
Di tingkat Kota/Kabupaten terdampak di Sumatera Barat, kebutuhan diprioritaskan pada perbaikan gedung sekolah rusak serta pengembalian operasional belajar mengajar dari sistem darurat dua shift menuju gedung mandiri yang aman dari banjir.
Khusus untuk Provinsi Sumatera Barat, berdasarkan estimasi Jitupasna 2026, total kebutuhan sektor sosial mencapai Rp640,3 miliar, dari total kebutuhan sosial, ekonomi, dan lintas sektor sebesar Rp2,87 triliun. Melalui Rencana Aksi K/L, dialokasikan revitalisasi bagi 986 unit sekolah/madrasah/pesantren/pendidikan keagamaan, 94 unit sekolah darurat, 4.451 paket perlengkapan belajar, serta 21.447 kuota tunjangan khusus bagi pendidik dan tenaga kependidikan (PTK).
Menteri Dalam Negeri sekaligus Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera Tito Karnavian dalam berbagai kesempatan mengatakan keberlanjutan proses belajar mengajar menjadi salah satu capaian penting dalam pemulihan pendidikan pascabencana.
Ia mengatakan, percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi tetap perlu dilakukan mengingat masih terdapat sejumlah sekolah yang menghadapi kendala pembangunan. Perbedaan kondisi geografis, kerusakan akses, ketersediaan material, hingga bencana susulan turut memengaruhi kecepatan pemulihan di setiap daerah.
Untuk mempercepat penyelesaian rehabilitasi fasilitas pendidikan, Tito meminta adanya pendampingan intensif, khususnya terhadap sekolah dengan progres fisik di bawah 50 persen. Satgas PRR juga akan mengoordinasikan berbagai kendala yang masih dihadapi pemerintah daerah (Pemda) bersama kementerian/lembaga terkait.
Ia juga memberi perhatian serius terhadap 97 sekolah yang membutuhkan relokasi karena lokasi sebelumnya tidak lagi layak atau berada di kawasan rawan bencana. Tito meminta Pemda mempercepat penyediaan lahan agar pembangunan sekolah dapat segera dilakukan.






Komentar (0)