Risiko penurunan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market atau frontier market membayangi valuasi saham perbankan.
IDXChannel – Risiko penurunan status pasar saham Indonesia dari emerging market menjadi standalone market atau frontier market membayangi valuasi saham perbankan.
Analis Macquarie, Jayden Vantarakis dan Ari Jahja, memperkirakan peluang Indonesia turun status mencapai 80 persen, jauh meningkat dari estimasi sebelumnya sebesar 25 persen.
Dalam riset yang terbit pada 20 Oktober 2026, keduanya menilai perubahan klasifikasi oleh MSCI berpotensi meningkatkan premi risiko saham perbankan Indonesia.
Bank-bank yang saat ini diperdagangkan dengan valuasi setara emerging market dinilai menghadapi risiko penyesuaian harga apabila investor mulai memperhitungkan risiko pasar yang lebih tinggi.
Macquarie menghitung premi risiko ekuitas atau equity risk premium (ERP) untuk bank-bank besar di negara berstatus frontier market dan standalone market mencapai 8,5 persen, dibandingkan 5,6 persen di emerging market.
Artinya, investor berpotensi menuntut imbal hasil lebih tinggi untuk menanggung risiko investasi di pasar yang dianggap kurang menarik atau lebih sulit diakses.
Model regresi Macquarie menunjukkan bank di frontier market perlu menghasilkan return on equity (ROE) sebesar 15 persen agar sahamnya layak diperdagangkan pada rasio harga terhadap nilai buku (price-to-book value/PBV) sebesar 1 kali.
Di emerging market, tingkat ROE sebesar 10 persen dinilai sudah cukup untuk mencapai valuasi yang sama.
Tekanan terhadap valuasi juga dapat bertambah apabila imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia bertahan tinggi.
“Kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Indonesia juga dapat membuat imbal hasil obligasi bertahan tinggi,” tulis analis Macquarie.
Macquarie menyoroti kekhawatiran terhadap arah kebijakan fiskal, termasuk defisit anggaran, harga BBM bersubsidi yang jauh di bawah harga pasar, serta prioritas belanja yang dinilai berorientasi pada subsidi populis.
Kondisi tersebut, ditambah kenaikan imbal hasil US Treasury dan potensi arus keluar modal asing, dapat menahan penurunan suku bunga acuan pasar.
Macquarie kini menggunakan asumsi suku bunga bebas risiko (risk-free rate) sebesar 8 persen, turun dari asumsi sebelumnya sebesar 9 persen, tetapi memperingatkan risiko kenaikan kembali ke 9 persen.
Asumsi suku bunga yang lebih tinggi untuk periode lebih panjang itu juga telah diperhitungkan dalam model proyeksi laba Macquarie.
Di sisi lain, tingginya imbal hasil dividen alias dividend yield saham perbankan belum tentu bertahan lama.
Macquarie menilai rasio kecukupan modal bank-bank BUMN mulai mendekati ambang batas regulasi, sehingga rasio pembayaran dividen atau payout ratio berpotensi turun dari sekitar 80 persen menjadi 50-60 persen dalam dua tahun ke depan.
Setelah pelaksanaan rights issue yang diperhitungkan dalam riset tersebut, PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) atau BSI dinilai berpeluang menjadi satu-satunya bank BUMN yang dapat meningkatkan rasio pembayaran dividen.
Namun, hal itu bergantung pada kemampuan BSI menghimpun tambahan modal sekaligus meningkatkan porsi saham beredar publik atau free float.
Dalam rekomendasi saham, Macquarie menurunkan peringkat PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi neutral dengan target harga Rp4.675.
Sebagai bank swasta terbesar di Indonesia yang banyak diminati investor emerging market, BCA dinilai menghadapi risiko lebih besar apabila terjadi perubahan klasifikasi pasar.
Macquarie juga menurunkan peringkat PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi underperform dan lebih memilih bank BUMN lain, yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Menurut analis, valuasi Mandiri dan BNI telah mencerminkan risiko yang lebih menyerupai frontier market.
Sementara itu, BRIS dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) juga dinilai telah diperdagangkan dengan diskon besar. (Aldo Fernando)
Disclaimer: Keputusan pembelian/penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.






Komentar (0)