Camino de Flores, Merawat Harapan dan Memulihkan NTT Pascagempa

kompas.id
16 jam lalu
Cover Berita

Ingatan RD. Anderson Demon Lulu mundur enam bulan ke belakang. Saat itu, ia sebagai pastor paroki sangat yakin Gereja Santo Fransiskus Asisi Gako di Boawae, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur akan selesai direnovasi tepat waktu. Wajah baru gereja itu diharapkan siap menyambut rombongan wisata religi Camino de Flores.

Camino de Flores terinspirasi dari rute ziarah rohani bersejarah, Camino de Santiago dari Perancis ke Spanyol. Kegiatan berjalan kaki di Flores itu menghubungkan berbagai situs religi, desa wisata, lanskap alam, serta tradisi budaya yang tumbuh di tengah kehidupan masyarakat.

Akan tetapi, saat renovasi belum rampung sepenuhnya, gempa Magnitudo 7,7 datang lebih dulu melanda Flores pada 15 Agustus 2026 atau sepekan sebelum gedung gereja baru bakal diresmikan.

Akibatnya, plafon roboh. Tembok retak. Beberapa struktur utama gereja juga ambruk.

"Saya dihubungi lagi oleh tim (Camino de Flores) terkait hal ini. Saya kirim foto-foto sambil bertanya apakah tempat ini masih layak untuk disinggahi," tutur Anderson ketika menjamu rombongan Camino de Flores, Minggu (25/10/2026).

Jawaban dari tim Camino de Flores melegakan. Gereja Santo Fransiskus Asisi Gako tetap menjadi salah satu persinggahan rombongan wisata religi yang dihelat 24-27 Oktober.

Hingga akhirnya, waktu yang dinanti pun datang, Minggu siang. Satu per satu rombongan tiba di halaman gereja setelah berjalan kaki sejauh 20 kilometer (km) dari Mataloko, Ngada.

Sama seperti perjalanan dari Bajawa, Bena, dan Mataloko, warga menyambut dengan hangat. Mereka menghidangkan pangan lokal sebagai bekal sebelum rombongan melanjutkan perjalanan ke Ende.

Secara simbolis, inisiator Camino de Flores, Mari Elka Pangestu menyerahkan bantuan untuk perbaikan Gereja Santo Fransiskus Asisi Gako. Dia menekankan, salah satu misi perjalanan sepanjang 70 km melintasi Ngada–Nagekeo–Ende itu juga untuk penggalangan dana sekaligus membantu warga pulih pascagempa.

Baca JugaSinggah Sejenak Mencecap Keramahtamahan Kampung Bena di Ngada

"Mudah-mudahan apa yang kami bisa berikan akan membantu, bisa memulihkan kembali Flores," ujar Mari.

Anderson lantas menguatkan rombongan sebelum melanjutkan perjalanan. Derap langkah kaki masih panjang karena kembali berjalan kaki 10 km dari Nangaroro ke Nangapanda di Ende.

"Camino de Flores mengajak kita semua untuk memahami bahwa setiap langkah memiliki arti. Setiap perjumpaan membawa berkat dan setiap tempat yang kita singgahi menyimpan banyak cerita serta nilai-nilai kehidupan yang patut dihargai," ucap Anderson.

Baca JugaSemua Melebur di Camino de Flores
Jaga alam

Setelah bermalam di Ende, Senin (26/10/2026), peziarahan berlanjut ke Taman Nasional Kelimutu dan Desa Waturaka. Peserta terlebih dahulu berjalan kaki naik turun dari parkiran taman nasional ke Danau Kelimutu. Keindahan alam yang dikenal juga dengan Danau Tiga Warna ini punya arti spiritual bagi warga setempat.

Warga percaya bahwa jiwa atau arwah orang yang meninggal akan meninggalkan kampung dan tinggal di Kelimutu untuk selama-lamanya. Namun, mereka terlebih dahulu menghadap Konde Ratu sebagai penjaga pintu masuk Perekonde.

Jiwa atau arwah kemudian masuk ke salah satu danau sesuai usia dan perbuatan semasa hidup. Ketiga sisa kawah yang kini berupa danau dengan warna air berlainan dikenal dengan nama Tiwu Ata Polo, Tiwu Nuwa Muri Koó Fai, dan Tiwu Ata Bupu. Perubahan warna air di dalamnya terjadi akibat pengaruh aktivitas vulkanik.

Dari sana, kaki sekali lagi melangkah ke Desa Waturaka. Total perjalanan dua lokasi itu mencapai 13 km.

Desa wisata di kaki Gunung Kelimutu itu punya potensi pertanian hortikultura, wisata alam berupa air terjun dan pemandian air panas, serta atraksi budaya dengan alat musik khas Sato. Panorama alam, udara bersih dan hawa sejuk menjadi nilai tambah Desa Waturaka.

"Luar biasa, kami disambut dengan begitu meriahnya dan makanan yang enak sekali," ujar Mari di sela interaksi dengan warga.

Ia mendengarkan keluh kesah sekaligus mencatat permintaan warga. Keduanya bagian dari upaya menggeliatkan lagi desa wisata alam terbaik nasional tahun 2017 itu.

Arsitek Yori Antar, salah satu peserta Camino de Flores turut memanfaatkan wisata religi ini bagi pengembangan tenun khas NTT. Ia sebelumnya telah menjalankan proyek jalur tenun Sumba.

Ia bersama perwakilan Museum Tenun Ikat Ende menyerahkan bantuan kepada tokoh adat Kampung Wologai. Bantuan ini berupa satu rumah tenun dan perbaikan rumah adat.

"Flores tidak hanya kaya dengan spiritual, kaya dengan pemandangan alam yang indah, tapi juga punya desa-desa tenun, desa-desa adat yang luar biasa," tutur Yori.

Baca JugaBagaimana Kondisi Terkini Dampak Gempa Flores dan Upaya Penanganannya?
Pemulihan

Camino de Flores membawa dampak ganda bagi warga dan pemerintah. Situasi pascagempa mendapat perhatian lebih luas dan potensi pariwisata kian dikenal.

Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Nagekeo Elias Tae menyoroti kolaborasi antara spiritualitas, persaudaraan, nilai budaya, dan aksi sosial yang dibangun bersama dalam wisata religi tersebut. Semuanya sangat berarti sebagai dukungan dalam masa transisi dari gempa bumi.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengungkapkan hal senada. Camino de Flores bisa berjalan dengan baik sekaligus membuka pintu bagi penziarahan di tahun-tahun yang akan datang.

"Kami tentu berterima kasih karena banyak orang hebat yang membantu Flores setelah jalan kaki ini (Camino de Flores). Mesti dipikirkan juga untuk kegiatan-kegiatan ke depan. Tentu ini akan menjadi contoh bagi kami untuk pariwisata lebih inklusif," ucap Melkiades, Senin malam ketika penutupan Camino de Flores di Keuskupan Agung Ende.

Ia, misalnya, merujuk Festival Golokoe oleh Keuskupan Labuan Bajo. Festival keagamaan itu bukti bahwa wisata religi bisa dinikmati oleh semua orang.

Pesan serupa juga diusung Camino de Flores. Penziarahan tersebut diharapkan berkembang menjadi ikon ketahanan NTT, khususnya Flores, termasuk dalam upaya merawat dan memulihkan harapan pascagempa.

Baca JugaMenunggu Kabut Pergi dari Danau Kelimutu
Baca JugaPeziarah Memadati Larantuka, Semana Santa 2026 Jadi Magnet Mancanegara


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pemerintah Paraf DIM RUU Adminduk, Wamendagri Bima Arya Tekankan Penguatan NIK sebagai Identitas Tunggal
• 12 jam lalu
0
thumb
BEM UI Gelar Demo 28 Oktober, Ini Lima Tuntutannya
• 6 jam lalu
0
thumb
Puan Soroti Lonjakan Pasien Karhutla, Rumah Sakit Diminta Siaga
• 23 jam lalu
0
thumb
Manchester United Gelar Rapat Darurat, Masa Depan Michael Carrick di Ujung Tanduk, 5 Kandidat Pengganti Muncul
• 20 jam lalu
0
thumb
Bonus Demografi, Menteri Mukhtarudin Genjot Penempatan Pekerja Migran Terampil
• 8 jam lalu
0
Berhasil disimpan.