Ketua DPP PDI Perjuangan, Deddy Yevri Sitorus, mengkritik keras fenomena sejumlah politisi nasional yang melontarkan gimik antiasing dan menyindir Singapura di tengah situasi krisis akibat kabut asap lintas batas dampaknya terhadap ekonomi Indonesia.
Deddy menilai alih-alih membangun kesiapan dan pengelolaan negara secara baik, narasi yang dibangun sejumlah pihak justru berfokus pada kegenitan politik semata.
"Kalau Singapura melakukan hal serupa kira-kira kita rugi apa enggak? Kalau mau balapan dengan Singapura, cobalah dalam kebaikan mengelola negara. Gak usah main gimik antiasing kalau untuk bikin tahu tempe saja masih impor kedelai, gak usah bicara penghematan kalau tiap hari hamburkan anggaran dan obral jabatan," tegas Deddy dalam keterangannya, Senin (26/10).
Beberapa pekan terakhir, publik diwarnai oleh serangkaian pernyataan tajam dari politisi Indonesia—baik yang aktif menjabat maupun mantan pejabat, terhadap Singapura.
Padahal, baik pemerintah Singapura maupun Malaysia dinilai menahan diri dari melayangkan kritik terbuka langsung kepada Presiden Prabowo Subianto terkait dampaknya terhadap negara tetangga.
Kondisi ini memicu perhatian kalangan pengamat internasional yang memandang narasi tersebut sebagai bentuk pembelokan perhatian publik.
Peneliti tamu Program Studi Indonesia di lembaga kajian ISEAS-Yusof Ishak Institute Singapura, Made Supriatma, menilai meningkatnya tensi retorika terhadap negara tetangga dipicu oleh tekanan ekonomi dan sosial yang sedang dialami masyarakat di dalam negeri.
"Meski Indonesia belum mengalami krisis ekonomi besar-besaran, masyarakatnya sudah merasakan tekanan ekonomi. Mereka membutuhkan jawaban atas kesulitan yang dihadapi," ujar Made dikutip dari Channel NewsAsia (CNA).
Made memandang aksi melimpahkan kesalahan atau mempertajam retorika politik luar negeri merupakan strategi singkat yang sering dimanfaatkan figur politik.
"Memperkeras retorika dengan menyalahkan negara tetangga atas sebagian persoalan tersebut menjadi cara mudah bagi politisi untuk menghindari tanggung jawab mereka sendiri," pungkas Made.






Komentar (0)