jpnn.com, JAKARTA - Juru bicara 98 Resolution Network Supriyanto, mengapresiasi pencapaian Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama dua tahun pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.
Hingga kini, program tersebut telah menjangkau 56,99 juta penerima manfaat atau sekitar 76,45% dari target keseluruhan sebanyak 74,56 juta orang.
BACA JUGA: Refleksi 2 Tahun Prabowo-Gibran, Waketum MUI: MBG & Sekolah Rakyat Program Prorakyat
Menurut data Badan Gizi Nasional (BGN) yang disampaikan Supriyanto, sebanyak 27.485 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah beroperasi di Indonesia.
Operasional unit tersebut menyerap 1,29 juta tenaga kerja langsung, termasuk penyandang disabilitas dan perempuan.
BACA JUGA: Tata Kelola MBG Membaik, Minim Penolakan, dan Punya Modal Kepercayaan Publik
Selain itu, sebanyak 412.275 UMKM, badan usaha milik desa (BUMDes), dan koperasi terlibat sebagai pemasok bahan baku makanan untuk dapur SPPG.
Keterlibatan pelaku usaha tersebut dinilai turut membuka peluang ekonomi dan lapangan kerja di berbagai daerah.
Supriyanto juga menanggapi narasi di media sosial yang mengaitkan pelaksanaan MBG dengan kenaikan harga sejumlah bahan pangan, seperti beras, ayam, telur, sayuran, buah-buahan, dan susu.
Menurut dia, kenaikan permintaan yang tidak diimbangi peningkatan produksi dapat menyebabkan ketidakseimbangan pasokan dan harga di pasar.
Dia menilai, peningkatan konsumsi pangan melalui MBG perlu diikuti langkah pemerintah untuk memperkuat produksi di setiap daerah.
Kementerian terkait dan pemerintah daerah diharapkan meningkatkan ketersediaan bahan pangan agar mampu memenuhi kebutuhan yang terus bertambah seiring dengan pelaksanaan program tersebut.
Di sisi lain, Supriyanto menyoroti masih adanya anak sekolah, balita, ibu hamil, dan ibu menyusui yang kesulitan memperoleh makanan dengan kandungan gizi memadai.
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya peran pemerintah dalam memperluas akses masyarakat terhadap pangan bergizi, terutama bagi kelompok yang mengalami keterbatasan ekonomi.
Supriyanto turut mengutip data BGN yang menunjukkan persentase siswa yang datang ke sekolah dalam kondisi lapar turun dari 56% menjadi 16%.
Sementara itu, konsumsi protein hewani pada anak-anak disebut meningkat dari sekitar 26% menjadi 84%. Data tersebut, menurut dia, menjadi salah satu indikator manfaat program MBG bagi penerima manfaat.
Dia menilai MBG sejalan dengan upaya pengentasan kemiskinan, penanganan kelaparan, dan penciptaan lapangan kerja.
Supriyanto juga menyebut program yang mulai dilaksanakan pada 6 Januari 2025 itu sebagai bagian dari upaya mewujudkan amanat Pembukaan UUD 1945 tentang pencerdasan kehidupan bangsa dan peningkatan kesejahteraan umum, serta sila kelima Pancasila mengenai keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.(jlo/jpnn)
Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh





Komentar (0)