Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengungkapkan operasi moneter yang dilakukan Kemenkeu bisa membantu menstabilkan nilai tukar rupiah.
Suahasil menyebutkan bahwa Bank Indonesia (BI) memiliki mandat utama dalam stabilisasi nilai tukar Rupiah. Namun, Kemenkeu juga berusaha terus memperkaya kebijakan di sektor keuangan.
"Kami terus berusaha untuk memperkaya produk dari sektor keuangan yang ada, juga menambah partisipan sehingga tentunya dengan makin banyak produk, partisipan juga makin banyak, pricing-nya akan jadi lebih baik," jelasnya saat Danantara TIIF26, Senin (26/10).
Selain untuk stabilitas, operasi moneter yang dilakukan Kemenkeu juga berperan untuk memperdalam pembiayaan, melalui surat utang berupa obligasi maupun sukuk yang diterbitkan PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) dan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI).
Suahasil menjelaskan, perbankan yang memegang dua instrumen tersebut bisa menjadi underlying (agunan) kepada Bank Indonesia. Selain itu, dia juga membuka potensi mengembangkan produk pembiayaan lain untuk memperdalam pasar keuangan.
"Operasi moneter kami, kami sudah membuka government securities, yaitu yang dikuatkan oleh SMF ataupun oleh SMI, di mana untuk bank yang memegang 2 instrumen ini, mereka bisa melakukan repo kepada Bank Indonesia dalam rangka untuk memperdalam produk SMF dan juga produk SMI," tuturnya.
Sebelumnya, BI memperluas surat berharga yang dapat digunakan dalam Operasi Moneter (underlying) dengan memasukkan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi.
Perluasan ini merupakan salah satu upaya penguatan pelaksanaan kebijakan moneter melalui operasi moneter pro-market yaitu operasi moneter yang terintegrasi dengan pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA).
Gubernur BI Destry Damayanti menuturkan perluasan underlying ini diharapkan dapat terus berkembang, mendorong transaksi pasar sekunder, memperkuat pembentukan harga, dan pada akhirnya mendukung pembiayaan bagi sektor riil, termasuk perumahan dan infrastruktur.
“Efektivitas kebijakan moneter sangat bergantung pada transmisi melalui pasar keuangan yang dalam, likuid, dan efisien," ujar Destry dalam keterangan resmi.
Implementasi perluasan underlying operasi moneter telah dilakukan secara bertahap. Sejak diluncurkan pada 10 November 2025 hingga 30 September 2026, total transaksi repo operasi moneter dengan underlying obligasi dan sukuk korporasi PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau PT SMF telah mencapai Rp 1,25 triliun.
Perluasan underlying tersebut kemudian dilakukan dengan menambahkan obligasi dan sukuk korporasi PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI, dengan lelang repo perdana pada 28 September 2026 sebesar Rp 60 miliar.
Kebijakan ini juga memberikan dampak positif terhadap aktivitas di pasar keuangan, tercermin dari peningkatan volume transaksi surat berharga PT SMF di pasar sekunder dari rata-rata Rp 31,9 miliar per hari pada Oktober 2025 menjadi Rp 179,9 miliar per hari pada akhir Agustus 2026.
Pada periode yang sama, kepemilikan bank atas obligasi PT SMF meningkat 18 persen, dari Rp 8,69 triliun menjadi Rp 10,22 triliun. Perkembangan tersebut menunjukkan respons positif pasar yang perlu terus didorong untuk mendukung pendalaman pasar keuangan di Indonesia.






Komentar (0)