Harga Minyak Dunia US$116/Barel, APBN RI Masih Kuat?

cnbcindonesia.com
10 jam lalu
Cover Berita
Foto: Menteri Keuangan, Suahasil Nazara menyampaikan keterangan saat Konferensi Pers APBN KiTa Edisi Oktober 2026 di Gedung Djuanda, Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (9/10/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memiliki peran penting sebagai peredam gejolak ekonomi, terutama ketika dunia menghadapi ketidakpastian dan lonjakan harga komoditas energi.

Dalam paparannya, ia mencontohkan harga minyak dunia yang telah mencapai US$115-116 per barel, sementara pemerintah tetap menjaga harga sejumlah produk bersubsidi di dalam negeri.

Menurut Suahasil, salah satu fungsi utama APBN adalah menjaga stabilitas agar gejolak global tidak langsung mengganggu aktivitas ekonomi dan konsumsi masyarakat.


"APBN itu menstabilkan. APBN tidak membiarkan kondisi ekonomi menjadi terlalu fluktuatif. Konsumsi masyarakat kita stabilkan," ujar Suahasil dalam sesi tanya jawab di acara Danantara TIIF 2026, Senin (26/10/2026).

Baca: Pemerintah Kucurkan Insentif Akhir 2026, Ekonomi RI Bisa Capai 5,4%?

Ia menjelaskan, APBN tidak hanya berfungsi mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga meredam tekanan ketika kondisi global bergejolak. Dengan kebijakan fiskal, pemerintah berupaya menjaga keberlanjutan aktivitas ekonomi di tengah tekanan eksternal.

Suahasil mencontohkan, ketika harga minyak dunia dalam paparannya berada di kisaran US$115-116 per barel, sejumlah produk bersubsidi di Indonesia tetap dipertahankan harganya.

"Supaya apa? Supaya kegiatan ekonomi bisa terus berlanjut," katanya.

Kebijakan tersebut menunjukkan peran APBN sebagai instrumen stabilisasi. Namun, menjaga harga energi dan barang bersubsidi di tengah kenaikan harga minyak juga membutuhkan dukungan anggaran yang memadai.

Baca: Target Setoran PNBP Sektor Energi & Mineral Naik Jadi Rp165 T di 2026

Di sisi lain, Suahasil menekankan bahwa kemampuan pemerintah membiayai pembangunan dan menjalankan kebijakan fiskal sangat bergantung pada penerimaan negara.

Ia mengingatkan pemerintah tidak bisa hanya menyusun daftar kebutuhan belanja tanpa memastikan sumber pendanaannya. Penerimaan negara harus dikumpulkan agar berbagai program dan pengeluaran pemerintah dapat dibiayai.

"Tidak bisa kemudian kita punya daftar keinginan, tapi kemudian tidak ada penerimaan negara. Penerimaan negaranya harus kita kumpulkan," tegasnya.

Suahasil menyebut Kementerian Keuangan menargetkan penerimaan negara sekitar Rp3.400 triliun pada 2027, untuk membiayai belanja negara yang diperkirakan sekitar Rp4.000 triliun.

Dengan demikian, ketahanan APBN tidak hanya ditentukan oleh kemampuan pemerintah menjaga harga barang bersubsidi, tetapi juga oleh kapasitas mengumpulkan penerimaan serta mengelola belanja secara efektif.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Suahasil: Wamenkeu Dibagi Fokusnya, Bukan Tanggung Jawabnya

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Polres Pelalawan Bongkar Kasus BBM, Solar Dijual Rp 400 Ribu Per Jeriken
• 13 jam lalu
0
thumb
Pihak Febrie Adriansyah Siapkan Opening Statement, Bakal Jelaskan Konstruksi Umum Pembuktian
• 13 jam lalu
0
thumb
Harga Emas Pada Senin 26 Oktober 2026: Antam, Galeri 24, USB
• 13 jam lalu
0
thumb
Hasil Lengkap Timnas Indonesia U-15 di Piala Dunia U-15 2026: Peringkat 4 Grup G, Main 4 Kali Menang Sekali
• 4 jam lalu
0
thumb
Ekspor Gas ke Singapura Dipangkas 8 Persen, Bahlil Tegaskan RI Tak Langgar Kontrak
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.