Kebakaran hutan dan lahan masih melanda wilayah Papua Selatan, dengan ancaman kabut asap melenggang ke pulau lain, bahkan lintas negara hingga ke Australia.
Berdasarkan data FireWatch Nusantara Atlas, Papua Selatan menjadi wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan terluas di Indonesia tahun ini. Hingga 1 September 2026, estimasi luas area terdampak kebakaran di wilayah ini tembus 319.120 hektare, melampaui Kalimantan Barat yang mencapai 277.127 hektare.
Sebagai informasi, Nusantara Atlas merupakan platform yang dikembangkan oleh perusahaan geospasial The ThreeMap. Data FireWatch diperoleh dengan menggabungkan data titik panas harian dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat atau NASA, dengan peta bekas kebakaran bulanan untuk menunjukkan lokasi kebakaran aktif dan luas wilayah terdampak.
Sementara itu, menurut hasil pemantauan satelit NASA-NOAA20 via SiPongi Kementerian Kehutanan, masih terdapat 717 titik panas tingkat kepercayaan medium dan 2 titik panas tingkat kepercayaan tinggi di Papua Selatan dalam 24 jam terakhir. Artinya, risiko kebakaran masih terbuka.
Kabut Asap KirimanMerujuk pada peta citra sebaran asap Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Senin (26/10) pukul 10.00 WIB, asap terdeteksi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Maluku, Papua Barat, dan Papua Selatan.
Namun, asap yang mengepul di wilayah Indonesia timur itu terakumulasi dari berbagai wilayah. Mengutip Antara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Papua sempat melaporkan terdapat lima kabupaten/kota yang diselimuti kabut asap kiriman dari Papua Selatan dan Papua Nugini. Lima wilayah itu adalah Kota dan Kabupaten Jayapura, Kabupaten Keerom, Kabupaten Sarmi, dan Kabupaten Kepulauan Yapen.
Sementara itu, Stasiun Meteorologi Kelas I Pattimura Ambon juga telah mengeluarkan peringatan dini sebaran kabut asap, akibat titik api di wilayah Maluku dan dari wilayah lainnya termasuk Papua Selatan.
Kondisi serupa juga terjadi di wilayah Sulawesi Selatan. Kabut asap dari titik api lokal ditambah kiriman dari Papua Selatan, menutupi wilayah tersebut hingga menyeret penurunan kualitas udara dan memburuknya jarak pandang.
BMKG juga masih mendeteksi adanya transboundary haze atau kabut asap lintas batas, dari Papua Nugini ke Papua Selatan, juga dari Papua Selatan ke Australia bagian utara pagi ini.
Menurut sistem pemantauan emisi kebakaran Global Fire Emission Database (GFED), kebakaran di sisi timur Papua Nugini telah melepaskan hampir 32 megaton emisi karbon per 17 Oktober 2026. Angka ini lebih besar dibandingkan emisi yang lepas akibat kebakaran hutan dan lahan pada 2015 yang tidak mencapai 15 megaton karbon.
“Sangat mungkin ini akan menjadi tahun dengan emisi tertinggi yang pernah tercatat untuk Papua Nugini, bahkan melampaui 1997,” kata peneliti di Wageningen University & Research sekaligus pengembang GFED, Guido van der Werf.
Sistem pemantau emisi yang dikembangkan NASA bersama sejumlah mitra ini juga mencatat tingginya emisi karbon akibat kebakaran hutan dan lahan di Papua, Indonesia.
“Emisi karbon melebihi 35 megaton, tertinggi ketiga setelah 2015 dan 1997, tahun-tahun el nino lainnya dengan kebakaran hebat,” demikian dikutip dari laman resmi NASA.
Seorang peneliti lainnya, Yang Chen dari University of California Irvine, menyebut bahwa sebagian besar kebakaran di lahan-lahan basah itu disebabkan oleh aktivitas manusia. Misalnya, dipicu kebakaran dari lahan pertanian, pemeliharaan padang rumput, penggundulan hutan dan pembukaan lahan, serta perburuan.
Dia juga menyebur Papua sebagai wilayah deforestasi baru di Indonesia. “Kami melihat tingkat aktivitas kebakaran yang sangat tinggi di Papua Nugini dan Indonesia bagian timur, khususnya Papua dan Kalimantan tahun ini, dibandingkan dengan Sumatra dan bagian lain Indonesia Barat,” ujar Yang.





Komentar (0)