Kasus penipuan atau scam berkedok abdi dalem kembali terjadi di kawasan wisata Keraton Yogyakarta. Pengalaman tersebut diunggah seorang wisatawan Nusantara ke media sosial.
Dalam unggahannya, wisatawan itu bercerita bahwa ia bersama suami dan anaknya datang ke kawasan keraton menggunakan taksi daring. Setibanya di lokasi, mereka mendapati loket dalam kondisi tutup.
Tak lama kemudian, seorang pria berbaju batik cokelat menghampiri mereka dan menawarkan untuk mengunjungi tempat pembuatan batik. Tawaran itu diterima hingga mereka diajak masuk ke sebuah gang.
Namun, menurut pengakuan wisatawan tersebut, lokasi yang didatangi ternyata bukan tempat pembuatan batik, melainkan tempat penjualan lukisan.
Di tempat itu, pria tersebut bercerita tentang keluarga Keraton Yogyakarta. Setelah itu, ia menawarkan sejumlah lukisan dengan harga berkisar Rp 700 ribu hingga Rp 2 juta.
Wisatawan tersebut mengaku merasa mendapat tekanan selama proses penawaran berlangsung. Namun, mereka menyadari adanya dugaan penipuan dan memutuskan untuk tidak membeli lukisan tersebut.
Keraton Yogyakarta Telusuri Identitas PriaCarik Kawedanan Radya Kartiyasa Keraton Yogyakarta, Nyi Raden Wedana Noorsundari, menyayangkan kejadian tersebut.
"Sangat disayangkan, mengurangi keindahan kenangan pariwisata Yogyakarta," kata Noorsundari saat dikonfirmasi kumparan, Senin (26/10).
Noorsundari mengatakan, pihaknya sedang mengupayakan pertemuan dengan paguyuban pemandu wisata untuk membahas peristiwa tersebut.
"Sedang diusahakan ketemu dengan paguyuban guide," ujarnya.
Ia mengatakan, pihak keraton belum dapat memastikan apakah pria yang dimaksud benar merupakan abdi dalem atau bukan.
"Masih belum tahu juga. Kami masih mencari info, apakah benar beliau abdi dalem atau bukan," katanya.
Sebagai langkah selanjutnya, Keraton Yogyakarta akan menelusuri identitas pria tersebut. Pihak keraton juga mengimbau wisatawan yang mengalami kejadian serupa agar menyampaikan laporan melalui situs web atau akun Instagram resmi pariwisata keraton.
Di sisi lain, Keraton Yogyakarta selama ini terus menyosialisasikan tata cara berkunjung melalui berbagai kanal media sosial.
"Sementara ini, kami masih memposting ulang tata cara berkunjung ke keraton," ujarnya.
Peristiwa Serupa Terjadi pada 2025Peristiwa serupa pernah terjadi pada November 2025. Modus yang digunakan juga berupa penawaran lukisan kepada wisatawan.
Saat itu, pria yang diduga melakukan penipuan diketahui bukan pemandu resmi keraton. Wisatawan pun diimbau untuk selalu memastikan identitas pemandu sebelum mengikuti arahan mereka selama berkunjung ke kawasan Keraton Yogyakarta.






Komentar (0)