Jakarta, VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih mengalami tekanan pada pekan terakhir Oktober 2026.
Mata uang Garuda itu berpotensi melemah hingga menembus level Rp18.200 per dolar AS dalam sepekan ke depan.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan indeks dolar AS dan kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi faktor utama yang menekan rupiah.
"Kalau dilihat dari indeks dolar yang menguat, kemudian harga minyak mentah yang menguat, sehingga rupiah melemah dan kemungkinan pada minggu depan Rp 18.200 per dolar AS," ujarnya dalam rekaman rilis yang diterima, Senin (26/10/2026).
Ibrahim memperkirakan indeks dolar AS bergerak dalam kisaran 100,90–103,10 pada pekan ini.
Jika indeks tersebut menguat hingga mendekati level 103,10, tekanan terhadap rupiah diperkirakan semakin besar.
Sementara itu, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) diproyeksikan melanjutkan tren penguatan.
Harga komoditas tersebut diperkirakan memiliki level support US$96,90 per barel dan resistance US$108,30 per barel.
Sejumlah faktor geopolitik turut membayangi pergerakan harga energi, mulai dari ketegangan di Timur Tengah, konflik Rusia-Ukraina, hingga gangguan produksi minyak di Libya.
Kenaikan harga minyak mentah berpotensi mendorong biaya transportasi dan logistik.
Kondisi ini dapat menambah tekanan inflasi global dan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed).
Ibrahim menilai kemungkinan kenaikan suku bunga AS pada November–Desember perlu dicermati jika tekanan inflasi akibat lonjakan harga energi terus berlanjut.
Apabila ekspektasi kenaikan suku bunga menguat, dolar AS berpotensi semakin menarik bagi investor.
Situasi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Dengan demikian, arah pergerakan rupiah pada pekan ini akan dipengaruhi oleh perkembangan indeks dolar AS, harga minyak mentah dunia, serta dinamika geopolitik.
Ketiga faktor tersebut juga berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS.






Komentar (0)