EtIndonesia.com Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memperingatkan Iran bahwa militer AS mungkin akan melancarkan operasi militer lagi jika Teheran tidak bersedia mencapai kesepakatan. Pada saat yang sama, badan intelijen AS memperingatkan bahwa rencana serangan mematikan Iran terhadap warga negara Amerika telah memasuki tahap akhir. Militer AS juga sedang menyesuaikan penempatannya di kawasan tersebut, sehingga ketegangan antara AS dan Iran kembali meningkat.
Trump Memperingatkan Kemungkinan Perang Kembali, Badan Intelijen Mengungkap Rencana Pembunuhan oleh IranDalam sebuah acara kampanye di Florida belum lama ini, Presiden Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat tidak mengesampingkan kemungkinan kembali melakukan operasi militer terhadap Iran. Ia juga mendesak Teheran agar segera kembali ke meja perundingan.
“Kita mungkin akan melakukan satu lagi operasi kecil ‘Epic Fury’, atau mereka setuju untuk berunding. Jika mereka cukup pintar, mereka akan langsung mengatakan, ‘Mari kita membicarakan hal-hal yang serius.’ Namun, Anda tahu, saya ragu mereka akan melakukannya, karena mungkin mereka tidak cukup pintar,” ujar Presiden AS Donald Trump (23 Oktober 2026).
Ketika Trump menyampaikan peringatan tersebut, Direktur Intelijen Nasional AS, Jay Clayton, menyerahkan sebuah memo kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Memo itu menyebutkan bahwa rencana pembunuhan yang bertujuan merenggut nyawa warga negara Amerika oleh Iran telah memasuki “tahap akhir” di Timur Tengah dan sejumlah negara lainnya.
Memo tersebut tidak mengungkapkan sasaran spesifik maupun menjelaskan apakah pembunuhan itu akan segera dilakukan. Namun, pemerintah AS sedang berupaya memperluas cakupan pertukaran informasi intelijen agar lebih banyak orang yang berpotensi menghadapi ancaman dapat memperoleh informasi terkait secara tepat waktu.
Perintah Evakuasi Diperluas, AS Mengurangi Personel Non-esensial di Kedutaan Besar Sejumlah Negara Timur TengahSelain itu, pada Jumat, 23 Oktober, Departemen Luar Negeri AS memerintahkan pengurangan jumlah personel diplomatik dan pemerintah di kedutaan besar AS di Yordania, Lebanon, Qatar, dan Uni Emirat Arab.
Sebelumnya, pemerintah AS juga telah memerintahkan personel non-esensial beserta anggota keluarga mereka untuk meninggalkan Kedutaan Besar AS di Riyadh, Arab Saudi, serta konsulat AS di Jeddah dan Dhahran.
Pejabat AS menyatakan bahwa penyesuaian personel tersebut berkaitan dengan ancaman keamanan yang ditimbulkan oleh Iran dan kelompok militan Houthi di Yaman.
Selain di lingkungan diplomatik, beredar pula laporan bahwa militer AS secara diam-diam sedang mengurangi skala penempatan pasukannya di sejumlah lokasi di Timur Tengah. Namun, hingga saat ini, belum ada pengumuman mengenai pangkalan mana saja yang terdampak maupun berapa banyak personel militer yang akan ditarik.
Laporan gabungan Yixin, NTD Television.






Komentar (0)