Pakar hukum tata negara Feri Amsari menilai surat terbuka yang diterbitkan oleh 150 guru besar Indonesia dan ditujukan kepada Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka harus dipandang sebagai bentuk panggilan moral, bukan sekadar kritik politik.
Menurut Feri, para akademisi yang menandatangani surat tersebut sedang menyampaikan kegelisahan etis yang berkaitan dengan integritas pejabat publik. Karena itu, ia berpandangan respons terhadap desakan itu seharusnya didasarkan pada kesadaran moral dan tanggung jawab pribadi.
Baca Juga: Usai Diperiksa Silang, Dian Sandi Terancam Dilaporkan: Dokter Tifa Sebut Ada Pengelabuan Publik
"Pada dasarnya tentu itu panggilan etika ya. Tentu orang-orang yang memiliki etika akan mematuhi panggilan moral itu," kata Feri, dikutip dari tayangan Kompas Petang yang diunggah di kanal YouTube KompasTV, Senin (26/10).
Ia juga menyinggung pertimbangan Mahkamah Konstitusi (MK) dalam perkara Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) Presiden dan Wakil Presiden 2024. Dalam putusan yang dibacakan pada 6 Oktober 2026, MK menyatakan tidak menemukan bukti yang meyakinkan mengenai keberadaan ijazah, sertifikat, atau diploma luar negeri yang dapat digunakan sebagai dasar penyetaraan pendidikan Gibran dengan jenjang SMA atau sederajat.
Bagi Feri, pernyataan yang disampaikan MK menjadi alasan yang cukup kuat bagi Gibran untuk mengambil sikap yang lebih besar demi meredakan polemik yang berkembang di tengah masyarakat.
"Apalagi putusan MK sudah memberikan gambaran bahwa tidak ada ijazah itu, dan tentu daripada diperumit, harusnya proses yang lebih berjiwa besar muncul," jelas Feri.
Selain itu, Feri memahami mengapa kalangan akademisi mempertanyakan proses penyetaraan pendidikan yang disebut berkaitan dengan Gibran.
"Wajar saja para guru besar mempertanyakan, karena mereka untuk mengurus penyetaraan ijazah itu rumit, bisa tiga bulan, enam bulan. Nah, ini ada orang yang bisa satu hari." ujarnya.
Baca Juga: Gibran Didesak Mundur 150 Guru Besar, Pengamat Sebut Ini Bukan Lagi Soal Hukum, Tapi...
Feri menegaskan bahwa alasan-alasan tersebut yang kemudian melatarbelakangi munculnya surat terbuka dari 150 guru besar.
"Jadi atas dasar itu, itu panggilan moral, kepada Mas Gibran dari para guru besar," tandasnya.






Komentar (0)