Ketahanan Konglomerasi Pengusaha Daerah di Tengah Transisi Ekonomi

harianfajar
5 jam lalu
Cover Berita

Oleh: Marsuki
Guru Besar FEB Unhas

Di tengah perubahan ekonomi nasional berupa dekarbonisasi industri, digitalisasi rantai pasok, hingga ketidakpastian geopolitik global, keberadaan konglomerasi berbasis daerah menjadi tolok ukur penting untuk mengetahui sejauh mana ketangguhan ekonomi nasional berbasis daerah.

Salah satu entitas yang kerap dijadikan rujukan terkait hal ini, yakni Bosowa. Memulai usaha dari keagenan otomotif sederhana di Makassar pada 1973, grup ini tumbuh menjadi industri besar terintegrasi yang mencakup semen, energi, infrastruktur, hingga sektor jasa keuangan, pendidikan, dan media.

Memasuki dekade keenam, pertanyaan kritis mengemuka bukan lagi soal bagaimana Bosowa didirikan atau mampu melewati krisis masa lalu, melainkan, seberapa tahan model konglomerasi daerah ini bisa menghadapi lanskap transisi ekonomi modern yang terus bergerak dinamis yang penuh ketidakpastian.

Perjalanan lebih dari lima dekade dengan empat generasi kepemimpinan dari kelompok usaha daerah Bosowa ini jelas bisa memberikan gambaran nyata tentang bagaimana sebuah entitas korporasi di luar Pulau Jawa mampu bertahan, tumbuh, dengan menghadapi berbagai badai krisis ekonomi nasional.

Di tengah kepungan dinamika geopolitik, krisis finansial, dan pergeseran teknologi, maka keberadaan konglomerasi berbasis Kawasan Timur Indonesia (KTI) ini bisa menjadi referensi pembelajaran menarik tentang bagaimana bisnis bisa bertahan, melakukan strategi, dan membangun urgensi institusionalisasi usaha keluarga bisa berhasil.

Ada tiga simpul krusial dari rekam jejak lima dekade keberadaan Bosowa sebagai konglomerasi usaha berbasis daerah yang relevan yang bisa menjadi refleksi bagi para pelaku usaha lain dan pembuat kebijakan ekonomi daerah salam membangun usahanya dan menetapkan kebijakan yang tepat agar pengusaha daerah mampu tumbuh berkembang secara berkelanjutan menembus zaman yang terus berubah sangat dinamis.

Pertama, terkait dengan aspek pivoting industri dan pengenalan logistik kawasan. Kegagalan banyak pengusaha daerah umumnya berakar pada ketidakmampuan keluar dari zona nyaman bisnis perdagangan (trading) atau keagenan yang sangat rentan terhadap keputusan prinsipal dan fluktuasi lisensi.

Langkah mendasarkan fondasi usaha pada industri manufaktur padat modal, seperti semen dan energi di era 1990-an menunjukkan arti penting keberanian Bosowa mengamankan basis aset riil (real assets) usahanya.

Sehingga pilihan lokasi usaha yang berpusat di Makassar dan Maros bukan sekadar soal keterikatan emosional, melainkan langkah kalkulatif yang tepat dan rasional untuk memanfaatkan keunggulan komparatif geografis wilayah. Makassar adalah simpul logistik dan pintu gerbang KTI.

Menguasai komoditas dasar pembangunan infrastruktur di kawasan yang terus berkembang dapat menjadi first-mover advantage dan barrier to entry yang sangat tinggi dan potensial. Sehingga di era integrasi ekonomi regional yang semakin luas dan dalam saat ini terlebih ke depan, sangat ditentukan oleh kemampuan para pengusaha untuk memanfaatkan modal sosial local.

Juga pemahaman mendalam atas keadaan pasar daerah yang harus tetap menjadi tempat pertahanan paling solid dalam menghadapi serangan penetrasi investasi asing maupun konglomerasi nasional yang makin agresif.

Kedua, aspek manajemen krisis. Kepercayaan di atas pertimbangan likuiditas keuangan. Pengalaman melewati krisis moneter 1997-1998 menunjukkan bahwa ujian terberat bagi sebuah korporasi seperti Bosowa bukan terletak pada seberapa besar aset yang dimilikinya, melainkan bagaimana manajemen mengelola hubungan transaksi atau keuangannya dengan kreditur pada saat arus kas perusahaan tertekan.

Bagi sebagian pelaku usaha yang cerdas, di tengah krisis yang terjadi, tindakan seketika yang penting yakni bisa menghindari kewajiban atau melakukan jual rugi (distress sale) atas aset strategis yang dimiliknya. Rupanya, kebijakan pilihan untuk mengambil skema restrukturisasi utang secara proaktif, menjaga arus kas operasional harian, dan membuka kondisi keuangan secara transparan kepada pihak perbankan terbukti menjadi kunci penyelamat.

Saat seperti itu, kredibilitas pengusaha seperti itu dari pandangan lembaga keuangan merupakan modal besar tak berwujud (intangible asset) yang nilainya jauh melampaui jumlah nominal angka-angka di neraca lembaga keuangan. Dalam lanskap ekonomi makro yang masih dibayangi tingginya suku bunga dan ketidakpastian global, maka disiplin menjaga rasio utang serta memisahkan aset inti dan non-inti melalui strategi daur ulang modal (capital recycling) harus tetap menjadi prinsip manajemen risiko yang mutlak dipraktikkan secara bertanggung jawab.

Tiga, aspek sejarah usaha keluarga dan tantangan suksesi.Fenomena di mana perusahaan daerah kerap hanya mampu bertahan seumur pendirinya merupakan fakta sosiologis-ekonomi yang memprihatinkan di Indonesia.

Banyak bisnis lokal berhenti di generasi kedua atau ketiga bukan karena persoalan kekalahan bersaing di pasar, melainkan akibat tidak dilaksanakannya tata kelola korporasi yang sehat (Good Corporate Governance) serta kaburnya batasan pengelolaan antara keuangan pribadi dan kas perusahaan.

Sehingga, agar sebuah kelompok usaha di daerah khususnya bisa bertahan menembus lintas batas generasi, diperlukan tiga syarat utama yang tidak bisa dihindari, harus dilaksanakan. Bosowa tampaknya berhasil melaksanakan beberapa pendekatan dalam mengelola usahanya selama lima dekade keberadaannya.

Satu, institusionalisasi sistem organisasi dan manajemen usaha.Mengubah kultur kepemimpinan dari yang terpusat pada figur pendiri (founder-centric) menjadi berbasis sistem (system-centric) dan SOP yang transparan.

Dua, mempraktikkan disiplin pengelolaan keuangan yang ketat dengan cara menghindari bahkan menghetikan kebiasaan mencampuradukkan urusan keuangan keluarga dengan kas operasional perusahaan, karena bisa merusak validitas pembukuan dan meruntuhkan kepercayaan mitra usaha.

Tiga, yang terpenting, menyiapkan dan melakukan kaderisasi dan profesionalisme dalam manajemen usaha dengan cara memisahkan peran kepemilikan (ownership) dengan eksekutif operasional (management). Termasuk  menyiapkan penerus usaha melalui pementoran berjenjang yang teruji di lapangan dengan system meritokrasi yang bertanggung jawab dan transparan.

Dengan demikian, keberhasilan mempertahankan keberadaan konglomerasi daerah selama lebih dari setengah abad seperti dalam kasus Bosowa di antaranya, jelas memberikan pesan mendalam bagi lanskap bisnis Indonesia yang baik jika terus ingin bertahan.

Kehadiran pengusaha seperti itu jelas menjadi jangkar utama industri yang kuat di daerah yang bisa menjadi fondasi pembangunan dan ketangguhan ekonomi daerah dan nasional. Agar supaya legasi pengusaha seperti Bosowa tidak berhenti sebagai sejarah masa lalu, maka setiap kelompok usaha lain dituntut untuk terus bertransformasi.

Terutama menjaga tata kelola tetap akuntabel, adaptif terhadap perubahan teknologi, dan konsisten memegang integritas dan menjaga kepercayaan para pihak dibanding hanya mengejar margin keuntungan jangka pendek semata. (*)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
BNPB Alihkan Pesawat dan Helikopter Pemadam Karhutla dari Kalimantan ke Jatim
• 19 jam lalu
0
thumb
Mendagri Tekankan Optimalisasi Anggaran untuk Penanganan Karhutla
• 1 jam lalu
0
thumb
Pieter Huistra Ungkap Penyebab PSS Telat Panas di BRI Super League 2026/2027: Banyak Problem Berasal dari Internal Tim
• 1 jam lalu
0
thumb
Dampak Ekonomi Konser Kanye West Langsung Terasa, Salah Satunya Sektor Pariwisata
• 21 jam lalu
0
thumb
Link Live Streaming El Clasico Barcelona vs Real Madrid, Kick-off 03.00 WIB
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.