Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia terperosok di bawah US$4.000 per troy ons setelah anjlok lebih dari 4% dalam sepekan.
Nasib logam mulia kini berada di persimpangan apakah bisa bangkit setelah aksi jual besar-besaran atau justru melanjutkan kejatuhan di tengah tekanan dolar Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian arah suku bunga.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan hari ini, Senin (26/10/2026) ada di posisi US$ 3999,16 per troy ons atau menguat 0,1%.
Penguatan ini menjadi kabar baik setelah harganya babak belur pada pekan lalu.
Pada Jumat (23/10/2026), harga emas melemah 0,7% ke US$ 3995,52 per troy ons. Harga tersebut adalah yang terendah sejak 16 Juli 2026.
Dalam sepekan harganya ambruk 4,1%.
The Fed Bisa Menentukan Arah Emas
Bank sentral AS The Federal Reserve (The Fed) akan mengumumkan kebijakan Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia. The Fed selama ini menjadi "musuh besar" emas karena kebijakan higher for longernya lebih membebani emas.
Sikap The Fed menjadi salah satu faktor penentu pergerakan emas pada pekan ini. Jika bank sentral AS memberi sinyal kebijakan lebih ketat, dolar berpotensi menguat dan membuat emas semakin tertekan karena tidak menghasilkan bunga.
Sebaliknya, sinyal pelonggaran moneter dapat melemahkan dolar dan membuka peluang pemulihan harga emas. Investor juga akan mengamati keputusan bank sentral lain, termasuk Bank of Japan (BOJ), European Central Bank (ECB), Bank of Canada (BoC), dan Reserve Bank of New Zealand (RBNZ).
Di sisi lain, laporan keuangan perusahaan teknologi besar akan menguji ketahanan pasar saham. Jika kinerja dan prospek bisnis mengecewakan, gejolak pasar dapat meningkatkan permintaan emas sebagai aset lindung nilai. Namun, aksi jual untuk memenuhi kebutuhan likuiditas juga bisa membuat emas ikut tertekan.
Analis Lihat Peluang Rebound, tetapi Risiko Belum Hilang
Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, menilai pasar emas tengah menghadapi tarik-menarik antara spekulan jangka pendek yang melepas posisi dan investor jangka panjang yang masih mempertahankan kepemilikan emas.
Hansen menyoroti level US$3.970 per troy ons sebagai penopang harga (support) berikutnya. Menurutnya, posisi jual spekulatif berpotensi mendekati level ekstrem sehingga membuka peluang pemulihan apabila indikator teknikal membaik.
Kepala Divisi Logam Britannia Global Markets, Neil Welsh, menilai pelemahan saat ini lebih mencerminkan perubahan momentum pasar daripada hilangnya seluruh faktor fundamental yang menopang emas dalam jangka panjang.
Sementara itu, Direktur Pengembangan Bisnis XS.com, Simon-Peter Massabni, menilai stabilitas Timur Tengah diperlukan untuk meredakan tekanan secara berkelanjutan, terutama melalui pengurangan risiko lonjakan energi dan gangguan pasokan.
Emas Harus Kembali ke US$4.230
Hansen menilai harga emas perlu kembali menembus US$4.230 per troy ons untuk memperkuat sinyal bahwa fase koreksi telah berakhir.
Pemulihan yang lebih berkelanjutan juga berpotensi menunggu berakhirnya kontrak berjangka emas Desember pada akhir November, ketika tekanan dari penyesuaian posisi perdagangan dan likuiditas diperkirakan dapat mereda.
Di luar risiko jangka pendek, Hansen masih melihat peluang emas pulih menjelang akhir tahun. Kebutuhan diversifikasi portofolio serta perlindungan terhadap risiko fiskal dan geopolitik dinilai tetap menjadi penopang permintaan.
Menurut Hansen, level US$4.000 menjadi ujian psikologis penting bagi emas, sementara US$3.970 merupakan area penopang berikutnya yang dicermati Hansen. Jika tekanan berlanjut, risiko penurunan tetap terbuka. Sebaliknya, kembalinya harga ke atas US$4.000 dan penguatan menuju US$4.230 akan menjadi sinyal awal bahwa pembeli mulai mengambil kendali kembali.
Bank Sentral Masih Borong Emas
Permintaan bank sentral menjadi salah satu penyangga struktural bagi emas. Polandia menambah 97,8 ton emas hingga Agustus, sehingga cadangannya mencapai 647,98 ton. China juga terus menambah kepemilikan hingga mencapai 2.386,55 ton setelah akumulasi 80,2 ton.
Namun, pembelian bank sentral bukan jaminan harga akan segera pulih. Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil riil masih dapat memicu tekanan jual lebih lanjut.
Bagaimana dengan Perak?Harga perak sudah bisa bangkit hari ini setelah ambruk pekan lalu.
Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan hari ini, Senin (26/10/2026) pukul 06.45 WIB, ada di posisi US$ 54 per troy ons atau menguat 0,2%.
Harga perak ambruk 7% selama tiga hari beruntun dari rabu-Jumat pekan lalu.





Komentar (0)