Pantau - Pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington, D.C., bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyiapkan forum kemitraan internasional untuk memperkuat perlindungan kawasan Segitiga Terumbu Karang yang mencakup enam negara.
Forum tersebut dijadwalkan berlangsung di Washington, D.C., Amerika Serikat, pada musim semi 2027 dengan melibatkan sejumlah lembaga keuangan dan organisasi konservasi dunia.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Amerika Serikat Indroyono Soesilo mengatakan kerja sama internasional diperlukan karena pelestarian terumbu karang berkaitan dengan ketahanan pangan, keberlanjutan ekonomi biru, dan kesejahteraan masyarakat pesisir.
“Karena itu, diperlukan kolaborasi internasional yang kuat agar kekayaan laut Indonesia dapat terus terjaga dan memberikan manfaat bagi generasi mendatang,” ujarnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Minggu (25/10/2026).
Indonesia Gandeng Bank Dunia hingga WWFForum kemitraan global tersebut direncanakan melibatkan Bank Dunia, Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN), Dana Dunia untuk Alam (WWF), dan The Nature Conservancy (TNC).
Sejumlah organisasi lainnya yang akan dilibatkan meliputi World Resources Institute (WRI), Conservation International (CI), serta Global Environment Facility (GEF).
Indroyono menjelaskan bahwa Indonesia berupaya mempertemukan kepentingan konservasi laut dengan agenda pembangunan ekonomi dan ketahanan pangan.
Melalui forum tersebut, dukungan internasional diharapkan dapat diwujudkan dalam pembiayaan konservasi, pertukaran pengetahuan, dan program yang memberikan manfaat langsung bagi ekosistem laut.
Kerja sama itu juga diarahkan untuk mendukung kehidupan masyarakat pesisir yang bergantung pada sumber daya kelautan.
Segitiga Terumbu Karang Jadi Habitat Ribuan Spesies IkanKawasan Segitiga Terumbu Karang mencakup Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor Leste.
Wilayah tersebut memiliki luas laut lebih dari enam juta kilometer persegi dengan perkiraan kawasan terumbu karang mencapai 75.000 kilometer persegi.
Indonesia memiliki sekitar 60.000 kilometer persegi terumbu karang sehingga menjadi negara dengan cakupan terumbu karang terbesar di kawasan tersebut.
Segitiga Terumbu Karang merupakan habitat bagi lebih dari 3.000 spesies ikan karang dan sekitar 76 persen spesies terumbu karang dunia.
Selain memiliki keanekaragaman hayati tinggi, kawasan ini menopang kebutuhan pangan dan penghidupan lebih dari 120 juta penduduk.
Terumbu karang juga berfungsi sebagai pelindung alami bagi sekitar 26 juta masyarakat pesisir dari ancaman gelombang laut dan badai.
Potensi Ekonomi Terumbu Karang Capai Ratusan Triliun RupiahKawasan Segitiga Terumbu Karang memiliki potensi ekonomi besar dari sektor perikanan dan pariwisata.
Nilai ekonomi tahunan sektor perikanan terumbu karang diperkirakan mencapai 3 miliar dolar AS atau sekitar Rp54,22 triliun.
Sementara itu, sektor perikanan tuna memiliki potensi ekonomi sekitar 1,5 miliar dolar AS atau setara Rp27,11 triliun per tahun.
Potensi terbesar berasal dari sektor pariwisata alam yang diperkirakan mencapai 12 miliar dolar AS atau sekitar Rp216,89 triliun setiap tahun.
Besarnya nilai ekonomi tersebut menjadi salah satu alasan Indonesia mendorong kerja sama konservasi yang melibatkan berbagai negara dan lembaga internasional.
Indonesia Lanjutkan Program Konservasi Laut Senilai Rp3,79 TriliunIndonesia sebelumnya telah menjalankan program rehabilitasi dan pengelolaan terumbu karang melalui Coral Reef Rehabilitation and Management Program – Coral Triangle Initiative (COREMAP-CTI).
Program yang berakhir pada 2022 tersebut memperoleh dukungan pinjaman Bank Dunia sebesar 47,38 juta dolar AS atau sekitar Rp856,35 miliar.
Selain itu, program tersebut menerima hibah GEF sebesar 10 juta dolar AS atau sekitar Rp180,74 miliar serta kontribusi Pemerintah Indonesia sebesar 5,74 juta dolar AS atau sekitar Rp103,74 miliar.
Upaya konservasi kemudian dilanjutkan melalui Program Laut untuk Kesejahteraan (LAUTRA) dengan nilai mencapai 210 juta dolar AS atau sekitar Rp3,79 triliun.
Program LAUTRA dikelola KKP bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional untuk memperkuat pengelolaan kawasan konservasi maritim seluas 8,3 juta hektare di 11 provinsi.
LAUTRA juga memperoleh dukungan hibah dari PROBLUE Multi-Donor Trust Fund sebesar 5 juta dolar AS atau sekitar Rp90,37 miliar.
Pemerintah Kanada turut memberikan dukungan hibah senilai 7,3 juta dolar AS atau sekitar Rp131,94 miliar.
Forum kemitraan yang direncanakan berlangsung pada 2027 diharapkan dapat memperluas dukungan internasional bagi pelestarian terumbu karang sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat pesisir.





Komentar (0)