Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatra Selatan, berangsur membaik setelah sempat diselimuti kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Jarak pandang yang beberapa hari sebelumnya terbatas hanya 500 meter, kini telah meluas hingga 4.000 meter. Aktivitas masyarakat, termasuk operasional transportasi air di kawasan Jembatan Ampera, kembali berjalan normal.
Kondisi membaik ini merupakan hasil langsung dari intensifnya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dan penyemaian dry ice yang dilakukan oleh Satgas Karhutla Sumatra Selatan dari jalur udara. Hujan buatan dilaporkan telah turun di beberapa wilayah, termasuk Musi Banyuasin dan Kota Palembang.
"Alhamdulillah, OMC baik penyemaian dry ice maupun penaburan NaCl berhasil. Kalau kita lihat dari indikator ISPU (Indeks Standar Pencemar Udara), partikel PM 2.5 yang biasanya di angka 600, saat ini tinggal 300. Artinya terjadi penurunan signifikan pencemaran udara hampir setengahnya," ungkap Komandan Korem (Danrem) 044/Garuda Dempo sekaligus Komandan Satgas Karhutla Sumsel, Brigjen TNI Khabib Mahfud, dalam Breaking News, Metro TV, Minggu 25 Oktober 2026.
Baca Juga :
Untuk menekan kabut asap, Satgas Karhutla telah menyemai kurang lebih 2,4 ton dry ice dan hampir 10 ton garam (NaCl). Berkat upaya via darat dan udara ini, jumlah titik panas di wilayah Sumatra Selatan turun drastis. Jika pada 24 Oktober tercatat sekitar 1.800 titik panas, angka tersebut kini berkurang signifikan menjadi sekitar 800 titik.
Satgas Karhutla kini memusatkan seluruh sumber daya pemadaman di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), khususnya di kawasan Cengal, Pangkalan Lampam, dan Tulung Selapan. Wilayah ini menjadi prioritas karena rentan kebakaran lahan gambut dan mengalami kekeringan ekstrem.
"Khusus di OKI kita perlu ekstra. Rata-rata di sana tidak pernah hujan selama hampir 160 hari pada musim El Nino ini. Seluruh sumber daya peralatan, baik dari Kementerian Pertahanan maupun BNPB, kita fokuskan di OKI. Hari ini saja kita tebar hampir 3 ton garam di OKI, mudah-mudahan bisa menjadi hujan," jelas Khabib.
Operasi Modifikasi Cuaca ini rencananya akan terus dilakukan hingga hujan alami diprediksi turun pada pertengahan November mendatang. Selain upaya pemadaman fisik, pemerintah daerah, kepolisian, dan TNI juga gencar melakukan sosialisasi kepada para kepala desa dan masyarakat di OKI dan Musi Banyuasin untuk bersama-sama menjaga lahan agar titik api baru tidak kembali bermunculan.





Komentar (0)