Keterbatasan suplai air untuk lahan pertanian di kawasan perbukitan mendorong Kelompok Wanita Tani (KWT) Keluarga Sakinah di Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Kulon Progo, Yogyakarta, untuk berinovasi. Mereka sukses menyulap komoditas singkong lokal menjadi produk beras analog.
Produk pangan alternatif yang diberi nama Beras Analog Inovasi Banjaroyo (Bravo) ini dikembangkan melalui dukungan pendampingan dari Pertamina Rewulu Yogyakarta.
Ketua KWT Keluarga Sakinah, Sri Lestari, menyebut inovasi ini lahir untuk memaksimalkan melimpahnya pasokan singkong di desa tersebut. Bahan baku yang digunakan adalah varietas lokal unggulan, yakni singkong mentega dan singkong klenteng.
Baca Juga :
Inovasi Gold Trash di Kulon Progo: Olah Sampah Jadi EnergiProses pembuatannya cukup sederhana, tapi presisi. Singkong yang telah diparut dan ditiriskan kemudian dicampur dengan tepung tapioka, tepung kacang hijau, serta tepung maizena. Adonan tersebut lalu dikukus hingga matang dan dimasukkan ke dalam mesin pencetak agar berbentuk menyerupai butiran beras pada umumnya.
Selain menjadi solusi ketahanan pangan, beras analog terbukti memiliki indeks glikemik yang rendah serta kandungan serat yang tinggi, sehingga sangat baik untuk mengontrol kadar gula darah.
Martanti, salah seorang konsumen, mengaku puas dengan kualitas beras singkong tersebut. "Rasanya seperti beras biasa, bahkan lebih pulen. Tidak terasa singkongnya dan pastinya lebih sehat untuk badan," ujar Martanti dikutip dari Metro Siang, Metro TV, Minggu 25 Oktober 2026.
Manajer Humas Pertamina Area Jawa Bagian Tengah, Taufik Kurniawan, berharap inovasi KWT Keluarga Sakinah ini mendapat dukungan masif dari pemerintah daerah untuk dipasarkan secara luas.
"Harapannya beras analog ini didukung oleh pemerintah daerah menjadi komoditas alternatif. Sehingga ketika suplai beras padi berkurang, beras analog ini bisa menjadi bantalan pangan," jelas Taufik.
Keberhasilan produksi beras analog ini membuktikan bahwa pemanfaatan potensi bahan lokal mampu mendorong diversifikasi pangan sekaligus menekan angka ketergantungan masyarakat terhadap beras padi.





Komentar (0)